Langsung ke konten utama

Tarian Sunyi di Atas Retak Porselen Jiwa

Sebuah lagu lama. Kau tahu? Dari masa ketika dunia terasa lebih naif, mungkin karena gambarnya masih hitam-putih. Seorang perempuan dengan senyum pepsodent menyanyikannya untuk anak lelakinya yang gelisah tentang masa depan. Que sera, sera, whatever will be, will be. Apapun yang terjadi, terjadilah.

​Dulu, kalimat itu terdengar seperti kepasrahan yang cengeng. Sebuah dalih untuk kaum yang lelah berusaha, yang menyerahkan dayung pada arus sungai entah berantah. Bendera putih yang dikibarkan sebelum perang benar-benar usai. Tapi waktu, oh, waktu adalah guru yang paling kejam sekaligus paling puitis. Ia mengikis prasangka, menampar wajahmu dengan kenyataan, lalu membisikkan rahasia di telingamu yang berdengung: Que sera, sera bukanlah lagu pengantar tidur untuk jiwa yang menyerah. Itu adalah mantra. Proklamasi sunyi dari jiwa yang telah melihat segalanya dan memutuskan untuk tetap berdiri.

​Apapun yang terjadi, terjadilah.

​Ucapkan itu pelan-pelan. Rasakan getarnya di rongga dada. Itu bukan tanda kelemahan. Itu adalah pengakuan paling jujur atas semesta yang bergerak dalam orbitnya sendiri, yang tak peduli pada rencanamu yang tersusun rapi di buku catatan atau doa-doamu yang kau panjatkan di sepertiga malam. Ada kekuatan luar biasa dalam pengakuan itu. Kekuatan untuk melepaskan genggaman yang membuat buku-buku jarimu memutih. Genggaman pada ilusi bernama kontrol.

​Kita menghabiskan separuh hidup kita untuk membangun bendungan, membelokkan arus, memaksa sungai takdir mengalir ke muara yang kita inginkan. Kita membangunnya dengan ambisi, dengan harapan, dengan cinta yang kita pikir paling benar. Lalu suatu hari, badai datang. Hujan yang tak pernah kita perkirakan. Bendungan itu retak, lalu jebol. Air bah menyapu bersih semua yang kita bangun dengan susah payah.

​Di tengah puing-puing itulah kita berdiri. Telanjang. Basah kuyup. Dan di sanalah pilihan itu datang: meratapi reruntuhan selamanya, atau mulai melihat keindahan dalam pola retakan di tanah yang basah.

​Ini yang disebut para filsuf tua dengan janggut beruban itu: Amor Fati. Mencintai takdir. Bukan sekadar menerima, tapi mencintai. Sebuah konsep yang terdengar gila bagi telinga modern yang diajari untuk "menjadi arsitek nasibmu sendiri". Tapi bukankah kegilaan yang paling murni adalah mencoba menjadi Tuhan atas semesta yang bahkan tak bisa kita pahami sepenuhnya?

​Mencintai takdir berarti mencintai keseluruhan paket. Kegembiraan yang membuatmu melayang, juga kesedihan yang menghantammu ke dasar bumi. Kemenangan yang gemilang, juga kekalahan yang memalukan. Pertemuan yang terasa seperti takdir, juga perpisahan yang merobek jiwa. Semuanya. Tanpa kecuali.

​Jalani. Nikmati.

​Dua kata kerja yang aktif. Bukan pasif. Menjalani bukan berarti terseret-seret. Menjalani adalah berjalan dengan kepala tegak di atas jalan yang telah terbentang, entah itu jalan aspal yang mulus atau jalan setapak berbatu yang melukai telapak kaki. Menikmati bukan berarti selalu tertawa. Menikmati adalah menemukan rasa dalam setiap hidangan yang disajikan kehidupan. Rasa manis secangkir kopi di pagi hari, rasa getir kehilangan di senja hari. Semuanya adalah rasa. Semuanya adalah bagian dari perjamuan agung bernama eksistensi.

​Dan aku? Aku mencintai luka-lukaku.
​Aku mencintai setiap goresan, setiap retakan pada porselen jiwa. Dulu aku mencoba menutupinya. Dengan dempul kebohongan, dengan cat kepura-puraan. Tapi bekasnya selalu ada, terlihat di bawah cahaya tertentu. Kini, tidak lagi. Luka-luka itu bukan aib. Mereka adalah peta. Peta jalan pulang menuju diriku yang utuh. Setiap bekas luka adalah monumen dari sebuah pertempuran yang telah aku menangkan, hanya dengan fakta bahwa aku masih bernapas hari ini.

​Mencintai luka adalah bentuk tertinggi dari Amor Fati. Karena luka adalah bukti paling sahih dari interaksi kita dengan takdir. Kau tidak bisa hidup tanpa terluka. Kau tidak bisa mencintai tanpa risiko patah hati. Kau tidak bisa berjuang tanpa kemungkinan gagal. Mencintai luka-luka itu berarti berkata pada semesta, "Lihat? Kau lemparkan semua ini padaku, dan aku mengubahnya menjadi seni. Menjadi kintsugi emas yang membuat retakanku justru menjadi bagian terindah dari diriku."

​Maka biarlah lagu lama itu terus berputar. Di radio butut, di kedai kopi, atau hanya di dalam kepala. Que sera, sera. Ini bukan lagi lagu seorang ibu untuk anaknya. Ini adalah himne seorang pejuang untuk dirinya sendiri. Sebuah pengingat bahwa tarian terbaik seringkali dilakukan di atas panggung yang retak. Bahwa keindahan paling abadi justru terukir dari sesuatu yang pernah hancur.

​Apapun yang terjadi, terjadilah. Jalani. Nikmati. Cintai bahkan bagian dirimu yang paling perih. Karena yang akan terjadi, biarlah terjadi. Dan aku, di sini, siap menari bersamanya.

Komentar