Pada bulan yang malam ini tampak terlihat malu-malu, yang purnamanya sebentar lagi akan lebur serupa gula di atas lidah, aku ingin menitipkan sesuatu. Sebuah salam yang tak pernah punya alamat, sebuah pertanyaan yang selalu mengambang di udara kamar yang pengap oleh penantian. Kuletakkan daguku di tepian jendela yang dingin, membiarkan bayanganku sendiri menjadi satu-satunya kawan bicara, dan bulan di atas sana menjadi satu-satunya kurir yang kupercaya.
Maka, kepada bulan yang pucat pasi itu, kusampaikan: sampaikan padanya pertanyaanku.
Kamu sedang apa?
Apakah di kotamu yang jauh, di antara gedung-gedung yang menelan senja dan lampu-lampu jalan yang menyala tanpa pernah bertanya, kau juga tengah memandangnya? Apakah kau melihat semburat tipis awan yang melintas di wajahnya, serupa kerudung yang tersingkap perlahan? Atau jangan-jangan kau sedang tertawa, di sebuah kedai kopi yang ramai, dengan kepulan asap yang mengaburkan wajah kawan-kawanmu, dan kau lupa sama sekali pada langit. Aku tak akan menyalahkanmu. Sungguh. Tapi, izinkan aku bertanya, hanya untuk diriku sendiri.
Lalu, sampaikan juga ini padanya, wahai bulan. Apakah hari ini bahagia?
Bahagia, sebuah kata yang seringkali terasa asing, bukan? Seperti nama kota yang pernah kita dengar tapi tak pernah kita kunjungi. Belakangan ini, hidupku sering sekali bersinggungan dengan kata itu. Aku menemukan bahagia dalam hal-hal kecil yang fana: aroma tanah setelah hujan pertama, senyum seorang anak kecil di angkutan umum, atau secangkir teh hangat di pagi yang malas. Tuhan, entah bagaimana, tiba-tiba menghadirkan orang-orang baik di sekelilingku. Mereka datang seperti angin musim yang tak terduga, membawa kesejukan dan cerita-cerita baru yang membuatku lupa bahwa ada sebuah ruang kosong yang selalu kau tinggalkan. Aku bahagia, sungguh. Tapi bahagiaku terasa seperti lukisan yang indah namun belum sepenuhnya kering; ia rapuh, dan satu sentuhan yang salah bisa melunturkan segalanya. Apakah bahagiamu juga begitu? Atau bahagiamu kokoh laksana karang, tak goyah oleh musim dan waktu?
Bulan, jangan lelah. Masih ada yang ingin kusampaikan.
Bagaimana kuliahmu? Apakah tumpukan buku dan jurnal masih menjadi pemandangan paling akrab di atas mejamu? Apakah para dosen masih menjadi makhluk-makhluk menyebalkan yang merasa paling benar di semesta? Aku masih ingat bagaimana kau akan bercerita dengan mata berapi-api tentang teori yang baru kau pelajari, seolah kau baru saja menemukan peta menuju surga. Kuharap api itu tak pernah padam. Kuharap kau menaklukkan semua mata kuliahmu seperti kau pernah menaklukkan hatiku dulu: tanpa perlawanan, tanpa sisa.
Dan dua pertanyaan terakhir yang paling sederhana, yang paling fana, yang mungkin tak berarti apa-apa. Sedang suka mendengarkan lagu apa? Sedang ingin membaca buku siapa? Aku hanya ingin tahu, melodi apa yang menemanimu dalam sunyi, dan kalimat-kalimat siapa yang menidurkanmu di malam hari. Sebab aku, aku masih sering memutar lagu yang dulu kau kirimkan. Lagu tentang perpisahan yang manis, yang ironisnya kini menjadi lagu pengantar tidurku. Dan aku masih membaca sajak-sajak lama, berharap menemukan namamu terselip di antara baris-barisnya.
Kau tahu, menurutku bulan tidak pernah gagal. Mau itu separo, seperempat, penuh, semua indah di mataku. Sama sepertimu. Kau tak pernah gagal menjadi alasan mengapa malam-malamku terasa begitu panjang dan penuh percakapan. Percakapan satu arah, tentu saja.
Aku ingin bercerita banyak sekali padamu. Tentang hidupku yang belakangan sering sekali bahagia, meski selalu ada seiris luka tipis yang mengingatkanku padamu. Tentang rindu, yang seringkali tak tahu malu datang di tengah keramaian, memaksaku menunduk dan berpura-pura sibuk dengan ponsel. Rindu, yang pada akhirnya seringkali kututup saja dengan bantal di sebelah kepalaku, seolah dengan membekapnya ia akan mati kehabisan napas. Nyatanya tidak. Ia justru semakin hidup dalam mimpi.
Maka, ketika bulan yang sebentar lagi lebur ini terasa tak cukup untuk membawa semua pesanku, ketika langit terasa terlalu luas dan bisu, aku tahu apa yang harus kulakukan. Kuambil beberapa lembar kertas kosong, serupa bentangan kemungkinan yang belum tertulis. Lalu, kugenggam sebuah pena berwarna ungu, warna yang selalu mengingatkanku pada senja yang kita pandangi bersama di ufuk barat.
Bila kamu tidak juga dapat kurengkuh dengan hatiku, biarlah kata-kata ini yang melakukannya untukku. Setiap huruf yang tergores adalah jejak rinduku. Setiap kalimat adalah usaha sia-sia untuk membangun jembatan di atas jurang yang memisahkan kita. Dan surat ini, surat yang tak akan pernah kukirim ini, adalah pelukan terakhirku untukmu malam ini. Selamat tidur, di mana pun kau berada. Biarlah bulan di atas sana yang menjadi saksinya.
Komentar
Posting Komentar