Langsung ke konten utama

Pinjam, Sebentar Saja, Hari Milikmu

Bolehkah aku meminjam harimu yang biasa-biasa saja? Pertanyaan ini tidak lahir dari bibir yang biasa meminta. Ia merangkak dari palung jiwa yang lelah, dari lanskap hati yang porak-poranda oleh gempa yang datang tanpa henti. Aku melihatmu duduk di beranda senja, dengan secangkir teh yang uapnya menari-nari malas, dan tatapanmu jatuh pada cakrawala tanpa menuntut apa-apa. Di sanalah aku ingin berlabuh.

Harimu yang biasa-biasa saja itu, bagiku, adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau. Kau tahu, hari-hariku selalu datang dengan genderang perang. Pagi disambut dengan derit pintu ingatan yang terbuka paksa, siang adalah medan tempur untuk sekadar bernapas tanpa terisak, dan malam adalah gencatan senjata yang gelisah, di mana mimpi buruk menjadi patroli yang tak pernah lelah. Maka, ketika aku melihat harimu, aku melihat sebuah suaka.

Aku melihat sunyimu yang tidak berisik. Sunyiku adalah raungan panjang di lorong tak berujung; gaungnya memantul-mantul di dinding tengkorak, menjadi riuh yang memekakkan. Sunyimu, barangkali, adalah suara halaman buku yang dibalik, atau desir angin yang menyapa daun jendela. Sebuah sunyi yang membuai, bukan mencekik. Bolehkah aku menumpang di dalam sunyimu itu, sekadar untuk meluruskan punggung jiwaku yang bungkuk oleh beban?

Lalu, kulihat tawa kecilmu yang tidak menimbulkan badai. Sebuah senyum tipis yang tersungging saat membaca kalimat lucu, atau mungkin tawa kecil yang lolos saat melihat tingkah seekor kucing. Tawaku adalah petir yang menyambar. Setiap kali ia lahir, ia selalu diikuti oleh badai—tatapan sinis, pertanyaan yang menghakimi, atau dinding yang tiba-tiba meninggi di antara aku dan dunia. Tawaku adalah sebuah anomali yang harus dibayar mahal. Tawamu adalah sebuah jeda yang menenangkan. Bolehkah aku berteduh di bawahnya, agar aku lupa caranya takut pada bahagia?

Aku tidak membawa apa-apa, selain tubuh yang dipenuhi luka terkoyak dan hati yang menyimpan duka. Jangan cari peta di tanganku, sebab ia telah lama sobek. Jangan tanya arah di bibirku, sebab kompas yang kumiliki selalu menunjuk ke arah masa lalu. Aku datang sebagai pengungsi, sebagai musafir yang kehilangan oase. Tubuh ini adalah monumen dari pertempuran yang tak pernah kumenangkan. Setiap jengkal kulitnya adalah relief yang memetakan kekalahan. Dan hati ini? Anggap saja ia sebuah guci tua yang retak seribu, namun dipaksa terus menampung air mata. Aku hanya membawanya serta, berharap debu dari harimu yang tenang bisa menambal sedikit retakannya.

Maka, jika kau bertanya untuk apa semua ini, izinkan aku menjawab dengan sebuah pertanyaan lain: bolehkah aku menetap pada milikmu?

Ini bukan permintaan untuk memiliki, melainkan untuk ditinggali. Aku lelah menjadi penyewa abadi di penginapan-penginapan bernama sementara. Aku letih membongkar pasang koper di setiap stasiun persinggahan. Aku ingin berhenti. Di sini. Padamu.

Jika aku diizinkan, aku ingin menyusun ulang arti kata "pulang", melalui seseorang yang tak keberatan kutinggali. Selama ini, "pulang" adalah kata kerja yang menakutkan. Ia berarti kembali ke reruntuhan, menyusuri kembali jejak-jejak yang membawaku pada luka. Pulang adalah memori tentang pintu yang dibanting, bukan yang dibuka dengan hangat.

Namun, bersamamu, di dalam harimu yang biasa-biasa saja, aku ingin "pulang" menjadi kata benda. Pulang adalah engkau. Tempat di mana pencarian berhenti. Titik di mana napas tak lagi tersengal.

Aku ingin menanam pohon cemara kecil di halaman itu. Bukan pohon beringin yang angkuh dan rimbun oleh mitos, hanya cemara kecil yang rapuh namun jujur pada langit. Aku akan menyiraminya dengan sisa-sisa harapan yang kumiliki, memupukinya dengan penerimaan yang kau berikan. Biarlah ia tumbuh pelan-pelan, batangnya menguat seiring waktu, daunnya menjadi saksi bahwa sesuatu yang baru bisa lahir dari tanah yang gersang.

Dari sana, aku ingin keluarga tumbuh dari akar yang kupilih sendiri, bukan dari reruntuhan yang diwariskan silih berganti. Sebuah keluarga yang fondasinya adalah pengertian, bukan tuntutan; yang atapnya adalah kehangatan, bukan ketakutan. Sebuah ekosistem kecil di mana luka diizinkan untuk mengering sendiri tanpa harus disembunyikan, dan duka boleh menetap sejenak sebelum akhirnya pamit dengan sopan.

Bolehkah? Barangkali aku terlalu banyak meminta. Barangkali harimu yang biasa-biasa saja adalah benteng terakhirmu dari dunia yang juga kejam. Aku mengerti jika kau ragu. Siapa yang mau menerima badai ke dalam rumahnya yang tenang?

Aku hanya berdiri di ambang pintumu, tidak mengetuk, tidak memaksa. Hanya berdiri, menunggu jawaban dari sunyi yang kau tawarkan.

Komentar