Langsung ke konten utama

Petrichor, dan Alamat Pulang yang Hilang

Hujan berhenti. Tiba-tiba. Seperti percakapan yang diputus paksa di tengah kalimat paling penting. Udara yang tadinya riuh oleh rentetan air yang menusuk-nusuk atap seng dan aspal jalanan, kini lengang. Hanya menyisakan gema sayup dari tetes-tetes terakhir yang jatuh dari ujung daun atau talang air yang bocor. Dan di antara jeda sunyi itulah ia datang. Bukan suara. Bukan bayangan. Tapi bau.

Bau tanah setelah hujan. Petrichor. Para ilmuwan punya nama untuknya, tentu saja. Mereka selalu punya nama untuk segala hal, seolah menamai berarti menaklukkan. Mereka akan bicara tentang geosmin, tentang bakteri actinomycetes, tentang minyak atsiri dari tumbuhan yang dilepaskan ke udara. Mereka membedahnya, mengurainya menjadi rumus-rumus kimia yang dingin dan presisi. Tapi mereka keliru. Mereka melupakan satu unsur paling penting yang tak bisa diukur oleh spekstrometer mana pun: kenangan.

Karena kangen adalah bau tanah setelah hujan.

Ia merayap masuk tanpa permisi lewat rongga hidung, melewati batas logika, dan langsung menghunjam ke pusat arsip paling purba di dalam kepala. Aroma itu adalah kunci. Kunci yang membuka sebuah diorama lanskap yang kau kira sudah lama punah, terkubur di bawah lapisan-lapisan hari yang sibuk dan malam-malam yang gelisah. Lanskap dari sesuatu yang pernah tumbuh di sana. Sesuatu yang pernah kau sirami dengan tawa, kau pupuki dengan harapan, dan kau jaga dari terik matahari dengan kedua telapak tanganmu.

Mungkin itu adalah sebatang pohon rambutan di halaman rumah masa kecil, tempat kau pertama kali belajar memanjat dan melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Mungkin itu adalah hamparan rumput di taman kota, tempat sebuah janji diucapkan dengan suara bergetar, lebih pelan dari desau angin tapi lebih kekal dari prasasti batu. Atau mungkin, itu hanyalah sepetak pot berisi tanaman herbal di balkon apartemen sempit, saksi bisu dari pagi-pagi yang dimulai dengan secangkir kopi dan percakapan ringan yang terasa sanggup menopang seluruh beban dunia.

Bau itu membangkitkannya kembali. Segar. Begitu segar seolah baru kemarin terjadi. Kau bisa merasakan lagi hangat punggung tangan yang menyentuh pipimu. Kau bisa mendengar lagi renyah tawa yang pecah di udara. Kau bisa melihat lagi kilat di sepasang mata yang menatapmu seakan kaulah satu-satunya hal yang nyata di tengah semesta yang fana. Semua begitu hidup, begitu penuh warna, begitu berdenyut dengan kehidupan. Itulah kesegaran yang pernah ada, kesegaran dari sebuah musim semi yang kau pikir akan berlangsung selamanya.

Tapi musim selalu berganti. Tak ada yang bisa menahannya.

Dan bau yang sama, yang tadinya membawa bingkisan kesegaran, kini menyajikan sebuah kenyataan yang lain. Kenyataan tentang apa yang tersisa. Sisa-sisa. Ya, hanya itu. Bukan lagi pohon yang utuh, bukan lagi taman yang terawat. Ia kini hanya sisa-sisa rimbun dari apa yang pernah menghijau. Rerimbunan yang tumbuh liar, tak teratur, menjalari setiap sudut ingatan tanpa bisa kau kendalikan.

Sisa percakapan yang menggantung di udara, tak pernah menemukan titik. Sisa senyum yang membeku menjadi sebuah foto usang di dalam dompet. Sisa rencana perjalanan yang coretannya masih ada di buku catatan, kini menguning dimakan waktu. Sisa kebiasaan-kebiasaan kecil—seperti cara ia melipat selimut atau memilih lagu di radio—yang kini menjadi hantu-hantu janggal dalam rutinitas solitermu.

Rimbun, karena ia banyak sekali. Terlalu banyak. Memenuhi ruang, menyesakkan dada, membuatmu tersesat di dalam belantara kepalamu sendiri. Setiap sulurnya adalah sebuah detail. Setiap daunnya adalah sebuah momen. Dan kau berdiri di tengahnya, dikepung oleh vegetasi kenangan yang begitu lebat hingga cahaya matahari hari ini pun tak sanggup menembusnya.

Inilah bagian paling kejam dari kangen yang dibawa oleh bau tanah sehabis hujan. Ia tidak hanya mengingatkanmu pada apa yang pernah tumbuh dan pernah segar. Ia juga menyeretmu ke dalam sisa-sisanya yang rimbun, dan kemudian membisikkan sebuah kebenaran pahit: kau tak tahu arah pulang.

Kau bisa mengunjungi kembali hutan kenangan itu kapan saja, terutama ketika hujan baru saja reda. Kau bisa menyentuh setiap daunnya, menelusuri setiap akarnya. Tapi kau tak akan pernah bisa kembali ke masa ketika hutan itu adalah sebuah taman yang rapi. Pintu masuknya adalah aroma, tapi tak ada pintu keluar. Kau hanya bisa berputar-putar di sana, di antara sisa-sisa yang subur namun tanpa kehidupan, mencari jalan kembali ke sebuah "rumah" yang kini hanya ada dalam bentuk aroma.

Aspal di luar sana mulai mengering. Bau tanah perlahan memudar, ditelan oleh asap knalpot dan polusi kota yang abadi. Diorama di kepalamu pun perlahan ikut surut, kembali menjadi arsip yang terkunci.

Sampai hujan berikutnya turun. Dan kau, sekali lagi, akan menghirup dalam-dalam sebuah kerinduan yang membawamu tersesat di sebuah taman yang tak lagi punya alamat.

Komentar