Lihatlah, mereka berbaris dalam parade yang tak pernah usai. Dengan langkah pongah di atas panggung yang mereka bangun sendiri, mereka membusungkan dada. Inilah para Tuhan-Tuhan Kecil. Makhluk-makhluk fana yang lupa bahwa napas mereka hanya pinjaman, bahwa jantung mereka berdetak bukan atas kehendak sendiri. Namun, di singgasana remah-remah kekuasaan, entah itu di ruang rapat berpendingin udara, di mimbar-mimbar komunitas, di meja makan keluarga, atau bahkan hanya di kolom komentar media sosial, mereka merasa telah menggenggam semesta.
Mereka adalah arsitek dari sebuah dunia yang harus berputar pada poros egonya. Peraturan? Tentu saja ada. Peraturan adalah apa pun yang terucap dari bibir mereka pagi ini. Besok? Bisa jadi lain lagi. Jangan bertanya tentang konsistensi, sebab konsistensi adalah belenggu bagi manusia biasa. Mereka, para tuhan kecil ini, adalah pengecualian. Mereka melampaui logika sebab-akibat yang menjemukan itu. Kehendak mereka adalah hukum tertinggi, dan setiap tarikan napas orang di sekitarnya harus menjadi bukti kepatuhan. Segala omongannya harus dituruti. Bukan karena argumennya kokoh atau visinya cemerlang, tapi semata-mata karena itu keluar dari mulutnya.
Dan sabdanya adalah kebenaran. Mutlak. Tak terbantah. Kebenaran yang dirangkainya dari serpihan kaca egonya, dipoles dengan ludah arogansi hingga tampak berkilau. Siapa pun yang berani menyodorkan cermin untuk menunjukkan retak pada kebenaran itu, akan dicap sebagai pembangkang, pengkhianat, atau—kata yang paling mereka suka—si bodoh yang tak tahu diri. Kritik di mata mereka adalah penghinaan. Pertanyaan adalah pemberontakan. Bahkan diam pun bisa ditafsirkan sebagai perlawanan pasif yang menusuk dari belakang. Maka, kebenaran mereka harus diyakini, diperhatikan, dan diamalkan tanpa reserve. Persis seperti wahyu yang turun dari langit, padahal ia hanya uap basi dari perut bumi kesombongan.
Mereka lupa, atau sengaja memilih lupa, akan segala kekurangan yang melekat pada kodrat manusiawi. Lupa bahwa ingatan bisa berkhianat, bahwa pengetahuan selalu punya batas, bahwa emosi seringkali lebih nyaring dari akal sehat. Mereka membangun istana di atas tanah labil keterbatasan diri, namun memaksa semua orang percaya bahwa istana itu terbuat dari intan abadi. Mereka menuntut kesempurnaan dari orang lain, sementara jubah mereka sendiri penuh tambalan dan lubang. Mereka adalah hakim yang mengetukkan palu vonis untuk setitik noda di baju orang lain, tanpa sadar punggung mereka sendiri berlumur lumpur.
Lalu, siapakah para tuhan kecil durjana ini? Di manakah kita bisa menemukan mereka?
Mungkin kita akan menunjuk pada sosok bos di kantor yang setiap perintahnya adalah dekret absolut. Atau pada politisi yang merasa setiap kalimatnya adalah kebijakan negara. Mungkin juga pada pemuka pendapat yang merasa paling berhak menafsirkan moralitas. Kita menunjuk ke luar. Selalu ke luar. Jari telunjuk kita adalah senjata yang mencari target, mencari kambing hitam untuk disalibkan di tiang caci maki. Mereka. Selalu mereka. Orang lain.
Tapi coba, coba sekali saja, hentikan parade itu sejenak. Heninglah. Lalu, arahkan telunjuk itu kembali, perlahan, hingga ia menantang bayanganmu sendiri di cermin yang paling jujur. Lihatlah baik-baik wajah di sana.
Bukankah di sana, di sorot mata itu, kadang terselip percik keilahian palsu? Ketika ide kita tak terbantahkan? Ketika kita merasa paling benar di tengah perdebatan sengit dengan pasangan? Ketika kita membentak anak kita untuk patuh tanpa penjelasan, hanya karena kita adalah orang tua? Ketika kita menghakimi pilihan hidup seorang kawan karena tak sesuai dengan standar kita?
Di sanalah ia. Tuhan kecil itu. Ia bersemayam di sudut paling gelap dalam diri kita, menunggu saat yang tepat untuk mengambil alih. Ia berbisik bahwa kita lebih baik, lebih pintar, lebih suci. Ia membangun singgasana dari rasa tidak aman kita, dari ketakutan kita untuk dianggap salah atau lemah.
Setiap kita berpotensi menjadi Tuhan-Tuhan kecil. Setiap kita membawa benih tiran dalam aliran darah. Benih itu disirami oleh pujian, dipupuk oleh kekuasaan—sekecil apa pun itu—dan ditumbuhkan oleh keengganan untuk bercermin. Karena terlalu sombong untuk mengakui: "Aku bisa salah." Terlalu angkuh untuk berbisik: "Aku butuh bantuan." Terlalu congkak untuk menerima bahwa menjadi manusia adalah menjadi makhluk yang penuh dengan cacat cela.
Parade itu terus berjalan, bukan di jalanan kota, tapi di lorong-lorong pikiran kita. Mungkin sudah saatnya kita membubarkan barisan, turun dari singgasana imajiner itu, dan kembali memijak tanah. Tanah tempat semua manusia setara: sama-sama fana, sama-sama bisa salah, dan sama-sama punya kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik. Bukan sebagai tuhan, tetapi sebagai manusia seutuhnya.
Komentar
Posting Komentar