Di sebuah persimpangan jalan yang riuh, di tengah hiruk-pikuk notifikasi dan arak-arakan berita tentang siapa mengakuisisi siapa, tentang berapa valuasi yang kini disandang sebuah nama, kita dipaksa memilih. Kiri atau kanan. Gelap atau terang. Vonis atau mahkota. Di sana, di kedua ujung jalan itu, berdiri dua berhala kembar dengan wajah yang sama-sama angkuh: yang satu bernama Gagal, yang lain Berhasil.
Keduanya adalah tuhan-tuhan kecil zaman ini. Mereka menuntut sesajen yang sama: waktu yang tergerus, tidur yang terampas, hubungan yang terabai. Altar mereka adalah layar-layar yang menyala biru dalam gelap, kuil mereka adalah ruang-ruang kerja bersama yang bising oleh mantera-mantera produktivitas. Orang-orang datang berbondong-bondong, membawa persembahan berupa proposal bisnis dan proyeksi keuntungan, berharap mendapat restu dari salah satu tuhan itu. Lebih tepatnya, berharap dihindarkan dari kutukan yang satu, dan dilimpahi anugerah dari yang lain.
Gagal, sebuah vonis yang dibacakan tanpa pengadilan. Ia adalah hantu yang mengejar di setiap langkah, bayangan yang menebal setiap kali angka tak sesuai harapan. Berhasil, sebuah singgasana yang dijanjikan, tetapi selalu terasa lebih tinggi dan lebih jauh setiap kali kita merasa nyaris menggapainya. Ia adalah fatamorgana di padang pasir ambisi, berkilauan namun tak pernah benar-benar memuaskan dahaga. Kita terperangkap dalam penyembahan buta ini, mengukur nilai diri dari vonis atau singgasana yang kita terima. Kita lupa, bahwa penyembahan selalu menuntut pengorbanan, dan yang paling sering kita korbankan adalah kemanusiaan kita sendiri.
Maka bagiku, wirausaha haruslah sebuah penolakan. Penolakan untuk berlutut di hadapan kedua berhala itu. Ia bukanlah jalan pintas, bukan pula jalan alternatif untuk sampai pada sebuah tujuan yang bernama penguasaan. Sebab kata "menguasai" itu sendiri sudah menyiratkan kekerasan. Menguasai pasar. Menguasai teknologi. Menguasai narasi. Selalu ada yang ditaklukkan, selalu ada yang direbut, selalu ada yang dipaksa tunduk. Dan dalam logika penaklukan, sang penakluk pada akhirnya akan selalu sendirian di puncak kekuasaannya, memandang kekosongan yang ia ciptakan sendiri. Keinginan untuk menguasai adalah benih dari kerapuhan, karena ia lahir dari rasa takut akan ketidakberdayaan.
Wirausaha, jika ia hendak menjadi sesuatu yang lebih luhur, haruslah sebuah sikap. Sebuah jalan untuk merawat.
Dan merawat adalah antitesis dari menguasai.
Menguasai adalah memacu, merawat adalah menyirami. Menguasai adalah memerintah, merawat adalah mendengarkan. Menguasai adalah membangun tembok, merawat adalah membuka jendela. Ketika wirausaha menjadi jalan untuk merawat, maka logika di dalamnya pun berubah. Sebuah ide tidak lagi dieksploitasi hingga kering, melainkan dirawat pertumbuhannya, diberi ruang untuk bernapas dan bertransformasi. Sebuah tim tidak lagi dilihat sebagai sumber daya yang bisa diperas, melainkan sebagai sesama pejalan yang ditemani dan dijaga kesejahteraannya. Pelanggan bukan lagi target yang harus ditaklukkan dengan angka konversi, melainkan insan yang kebutuhannya didengarkan dan hubungannya dirajut dengan tulus.
Dalam sikap merawat, proses itu sendiri adalah tujuan. Kegembiraan tidak ditunda sampai garis finis terlampaui, tetapi ditemukan dalam setiap langkah kecil: dalam ketelitian seorang pengrajin, dalam kesabaran seorang petani, dalam kehangatan seorang penyambut tamu. Di sini, tak ada lagi dikotomi banal antara gagal dan berhasil. Adakah seorang tukang kebun disebut gagal hanya karena satu benih tidak tumbuh? Adakah seorang ibu disebut gagal hanya karena anaknya terjatuh saat belajar berjalan? Tidak. Sebab fokus mereka bukanlah pada hasil akhir yang absolut, melainkan pada laku merawat yang terus-menerus. Jatuh adalah bagian dari perjalanan, benih yang tak tumbuh adalah pelajaran tentang tanah dan musim. Semuanya adalah bagian dari tarian merawat itu sendiri.
Maka wirausaha sebagai sikap adalah sebuah ziarah ke dalam diri. Ia bertanya bukan, "Apa yang bisa kutaklukkan di luar sana?", melainkan, "Apa yang bisa kurawat di dalam dan di sekitarku?" Ia tidak terobsesi pada valuasi miliaran dolar, tetapi pada nilai yang lestari. Ia tidak memburu pertumbuhan eksponensial yang membakar habis segalanya, tetapi mendamba pertumbuhan organik yang mengakar kuat dan meneduhkan.
Pada akhirnya, di hadapan altar Gagal dan Berhasil, kita selalu punya pilihan. Terus menjadi penyembah yang cemas, atau menjadi seorang perawat yang tekun. Menjadi penakluk yang kesepian, atau menjadi penjaga kehidupan. Bagiku, pilihan itu sudah jelas. Karena di jalan sunyi mereka yang merawat, tak ada vonis atau singgasana yang perlu dikejar. Yang ada hanyalah kerja tangan, ketulusan hati, dan martabat yang terjaga. Dan barangkali, itulah satu-satunya keberhasilan yang paling hakiki.
Komentar
Posting Komentar