Langsung ke konten utama

Que Sera, Sera. Amor Fati

Maka, mari kita bicara tentang takdir.

Dan takdir, ah, takdir—entitas tak kasatmata yang seringkali kita bayangkan sebagai sutradara agung, atau mungkin, lebih jujur lagi, sebagai preman pasar yang paling piawai. Ia hadir tanpa permisi, seenak jidatnya sendiri, kadang membawa sebuket bunga mawar yang baru dipetik, tapi lebih sering menyodorkan bogem mentah tepat di ulu hati. Takdir mungkin memang piawai bangsatnya hadir seperti bajingan paling asu, menendang pintu hidup kita yang bahkan tak pernah kita kunci, lalu tertawa terbahak-bahak melihat kita kelimpungan di antara puing-puing rencana yang baru semalam kita susun dengan saksama. Ia adalah lelucon kosmik yang paling getir.

Lalu apa? Kita meratap? Mengutuk langit yang pekak dan tak peduli? Menyalahkan bintang-bintang yang posisinya tak pernah kita minta? Silakan saja. Itu adalah hak prerogatif manusia yang merasa dikhianati. Tapi di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya, persoalan yang memisahkan antara sekadar hidup dan menjadi hidup: persoalan pengelolaan. Ya, pengelolaan. Kata yang terdengar begitu birokratis, begitu membosankan, namun menjadi kunci dari segala kewarasan. Inilah inti dari Amor Fati—kecintaan pada takdir—yang sesungguhnya bukan sebentuk kepasrahan buta, melainkan sebuah seni mengelola energi, emosi, waktu, dan tenaga kita dengan kearifan seorang akuntan jiwa yang paling ulung.

Hidup singkat ini yang kita punya. Sebuah fragmen waktu yang berkedip di antara dua eternitas kegelapan. Di dalam kedipan singkat inilah kita dilemparkan, tanpa manual, tanpa peta. Kita tak dapat mengontrol kapan hujan akan turun membatalkan janji temu terpenting kita. Kita tak bisa mencegah ban mobil pecah di tengah jalan tol saat kita terburu-buru. Kita tak punya kuasa atas hati orang lain yang bisa berbalik pergi tanpa satu kata pun. Hal-hal eksternal itu—cuaca, mesin, kehendak orang lain, kebijakan pemerintah, laju inflasi—adalah teritori kekuasaan si bajingan bernama takdir. Mencoba mengendalikannya adalah sebentuk kegilaan, sebuah upaya membakar samudera dengan satu buah korek api. Energi kita akan terkuras habis, emosi kita akan menjadi ampas, dan waktu kita yang berharga akan menguap begitu saja menjadi asap kekecewaan.

Di sinilah Amor Fati menawarkan sebuah jalan pedang: jika kau tak bisa mengontrol apa yang di luar, maka kuasai satu-satunya semesta yang menjadi milikmu seutuhnya—semesta internal. Kita tak bisa mengontrol fakta bahwa kita ditampar, tetapi kita bisa seratus persen mengontrol persepsi kita atas tamparan itu. Apakah ia sebuah penghinaan yang harus dibalas dengan darah? Ataukah sebuah sinyal untuk berbalik arah? Kita dapat mengelola dan mengkalkulasi—bukan dengan dinginnya kalkulator, tapi dengan panasnya intelektualitas dan intuisi—tindakan macam apa yang dapat kita lakukan. Inilah momen alkimia paling puitis dalam eksistensi manusia: mengubah setiap timah negatif menjadi emas positif. Hujan yang membatalkan janji temu menjadi waktu tak terduga untuk membaca buku yang lama tertunda. Ban yang pecah menjadi pengingat tentang kerapuhan dan perlunya bersiap. Hati yang dipatahkan menjadi pupuk paling subur untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.

Sebab, ketimbang sebuah kalimat pasif, manusia adalah—dan semestinya selalu menjadi—sebuah kalimat aktif. Kita bukan kertas yang ditulisi oleh takdir. Kita adalah tangan yang memegang pena itu sendiri. "Aku dihantam badai" adalah kalimat pasif, kalimat seorang korban, seorang figuran yang nasibnya ditentukan oleh alur cerita orang lain. Tapi "Aku memilih menari di tengah badai" adalah kalimat aktif. Subjeknya adalah "Aku". Predikatnya adalah sebuah tindakan sadar: "memilih menari". Inilah deklarasi kemerdekaan seorang individu. Dengan segala intelektualitasnya, dengan segala kesadarannya, manusia semestinya mampu menjadi tokoh utama, bukan sekadar tokoh sampingan yang numpang lewat dalam narasi kehidupannya sendiri. Tokoh sampingan mengeluh tentang skenario. Tokoh utama mengambil skenario terburuk sekalipun dan menjadikannya sebuah pertunjukan yang layak dikenang.

Maka, Amor Fati bukanlah bisikan lirih untuk menyerah. Ia adalah sebuah geraman. Sebuah tantangan. "Baiklah, Kehidupan! Lemparkan apa saja yang kau punya! Patah hati, kegagalan, kehilangan, pengkhianatan! Aku akan mengambil semuanya. Aku akan memeluknya, merengkuhnya, dan menjadikannya bahan bakar untuk apiku sendiri. Aku akan mencintai takdirku, bukan karena ia selalu baik, tapi karena ia adalah milikku." Ini adalah puncak dari keberanian eksistensial.

Pada akhirnya, bukankah lagu lama itu sudah menyenandungkannya dengan begitu sederhana? Que Sera, Sera. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Biarkan si bajingan itu melakukan tugasnya. Biarkan panggung sandiwara ini berjalan dengan segala absurditasnya. Tugas kita bukanlah mengutuk sutradaranya. Tugas kita adalah berakting sebaik mungkin dengan peran yang kita dapatkan, bahkan jika itu peran seorang martir atau seorang badut. Jalani. Nikmati setiap getir dan manisnya. Sebab dalam penerimaan yang aktif itulah terletak kebebasan yang paling absolut.

Amor Fati!

Komentar