Langsung ke konten utama

Papan Permainan di Ruang Tamu

​Maka, kau gelar juga papan permainan itu. Di atas karpet beludru peninggalan nenek, di antara kita. Kotak-kotak hitam dan putih. Atau mungkin warna-warni, seperti lintasan ular tangga yang penuh janji surga dan ancaman neraka seukuran mata dadu. Kau tersenyum. Senyum seorang juru taktik yang sudah hafal semua kemungkinan, semua probabilitas, semua celah untuk menang.

​Bagimu, ini hanyalah itu. Sebuah papan. Sebuah arena yang dibatasi oleh tepi-tepi kayu yang dipernis. Bidak-bidaknya adalah aku, adalah kau, adalah janji-janji yang pernah kita sebut sebagai doa. Kau lempar dadunya. Angka enam. Kau melangkah dengan riang. Kau ambil kartu “kesempatan”. Mungkin isinya: “Maju tiga langkah dan ambil semua kenangan yang pernah ada.” Dan kau tertawa. Sebab ini permainan. Selalu hanya permainan.

​Tapi lihat ke seberang sofa. Lihat siapa yang duduk di sana, dalam diam yang lebih purba dari semua kata-kata kita. Ada Bapak. Tangannya menggenggam koran sore yang tak lagi ia baca. Matanya menatap kosong ke arah jendela, ke arah senja yang turun perlahan-lahan, seperti kelopak bunga yang menyerah pada malam. Di sampingnya, Ibu. Jari-jarinya meronce tasbih, tapi bibirnya tak bergerak. Zikirnya telah menjadi degup jantung, menjadi napas yang ia embuskan dengan kecemasan yang tak bernama.

​Mereka bukan penonton. Mereka adalah semesta tempat papan permainan ini digelar.
​Jika memang bagimu ini hanyalah sebuah papan permainan, jangan kau ajak ibu dan bapak bermain.

​Jangan. Pernah.

​Kau kira mereka melihat bidak-bidak dari kayu atau plastik? Tidak. Yang mereka lihat adalah anak perempuan mereka, yang dulu mereka timang sambil menyanyikan lagu tentang bulan di atas pohon kelapa. Yang mereka lihat adalah lelaki yang datang dengan tatapan paling jujur di dunia, meminta izin untuk menjaga jantung hati mereka. Di papan permainanmu itu, setiap langkah mundur adalah luka gores di hati mereka. Setiap kali kau mengocok dadu dengan harapan culas, harapan mereka ikut terguncang.

​Mereka tidak mengerti aturan mainmu. Aturan mereka sederhana: cinta adalah menjaga, bukan menaklukkan. Komitmen adalah menggenapkan, bukan mengeliminasi lawan. Rumah adalah tempat pulang, bukan sekadar petak “start” atau “finish” dalam sebuah perlombaan absurd. Doa-doa yang mereka langitkan setiap sepertiga malam bukanlah strategi untuk mendapat kartu “dana umum”. Doa mereka adalah perisai, tameng tak kasatmata yang mereka harap bisa melindungimu dari dirimu sendiri. Dari permainan yang kau ciptakan ini.

​Maka jangan. Jangan seret mereka ke dalam arena-mu. Jangan kau jadikan kerut di kening mereka sebagai skor. Jangan kau ubah helaan napas mereka menjadi sorak-sorai kekalahan atau kemenangan. Biarkan mereka tetap dalam sunyi mereka, dalam dunia di mana cinta tidak perlu dipertaruhkan di atas meja judi. Biarkan kopi pagi buatan Bapak etap terasa manis tanpa racun spekulasi. Biarkan sajadah Ibu tetap tergelar lurus ke arah kiblat, bukan ke arah papan permainanmu yang fana.

​Dewasakanlah dirimu.

​Sebab kedewasaan bukanlah soal usia. Bukan soal angka dalam kartu tanda penduduk atau jumlah kerutan di wajah. Kedewasaan adalah kesadaran akan konsekuensi. Kesadaran bahwa setiap langkah yang kau ambil, setiap bidak yang kau gerakkan, meninggalkan jejak nyata di kehidupan orang lain. Kedewasaan adalah ketika kau paham bahwa hati manusia, terutama hati orang tua, bukanlah bidak yang bisa kau korbankan dalam sebuah strategi endgame. Ia terbuat dari kaca tipis bernama kepercayaan. Sekali retak, selamanya ia akan menampilkan bayangan yang pecah.

​Kau kira hidup bisa di-restart seperti konsol permainan video? Kau kira ada tombol undo untuk setiap kata yang melukai? Kau kira ada buku manual untuk memperbaiki hubungan yang kau rusak demi sebuah kemenangan ego? Tidak ada. Waktu tak pernah jadi pion yang bisa mundur. Ia hanya maju. Terus maju. Dan di setiap kotaknya, ada catatan. Ada rekam jejak. Ada tangis dan tawa yang tak bisa dihapus.
​Kita sudah bukan di halaman belakang rumah, bermain congklak dengan biji sawo. Yang kalah hanya akan cemberut sebentar, lalu kembali tertawa saat azan magrib memanggil kita pulang. Tidak.

​Sebab kita sudah bukan main-main.

​Ini bukan lagi soal siapa yang lebih dulu mencapai garis finis. Ini soal apakah kita sampai di sana bersama-sama. Utuh. Bukan sebagai pemenang dan pecundang. Ini adalah soal membangun sesuatu yang nyata di luar papan permainan itu. Sesuatu yang disebut rumah. Sesuatu yang disebut masa depan. Sesuatu yang membuat Ibu dan Bapak bisa tersenyum lega, bukan tersenyum getir melihat anak-anaknya sibuk berperang dalam permainan yang mereka ciptakan sendiri.

​Maka, gulunglah papan itu. Simpan dadunya. Bakar kartu-kartunya jika perlu.
Lihat aku. Lihat mereka.

Dan sadarilah, di sini, di ruang tamu ini, yang dipertaruhkan bukanlah pion.

​Melainkan kehidupan itu sendiri.

Komentar