Maka, bayangkan ini: sebuah panggung tanpa batas, lantainya terbuat dari kaca. Di bawahnya, jurang gelap menganga, entah sedalam apa. Di atasnya, badai angin tak pernah berhenti meraung, datang dari segala penjuru, membawa serta serpihan debu dan pekik suara-suara yang tak jelas siapa empunya. Dan di tengah panggung yang gemetar itu, mereka menari. Anak-anak muda itu. Generasi yang lahir ketika dunia sudah terlanjur riuh.
Lantainya adalah kaca. Kaca bening yang pada mulanya tampak kokoh, sebuah keajaiban teknologi yang memantulkan langit-langit digital penuh janji. Inilah lantai informasi, di mana segala pengetahuan, segala cerita, segala kebenaran dan kebohongan terhampar dalam kilau yang memabukkan. Mereka meluncur di atasnya, jemari mereka adalah sepatu dansa, dan setiap gesekan adalah sebuah langkah, sebuah pilihan, sebuah klik. Indah, bukan? Panggung yang menawarkan segalanya.
Tapi lihat lebih dekat. Lantai itu tidak mulus. Ia penuh retakan.
Bukan retak biasa yang lurus dan bisa diduga. Ini adalah jaring laba-laba keretakan yang menjalar ke mana-mana, lahir dari setiap hentakan kaki, dari setiap kabar yang dilempar tanpa tanggung jawab. Setiap judul berita yang menjebak adalah sebuah getaran yang melahirkan retakan baru. Setiap foto yang dimanipulasi adalah tekanan yang membuat jaring itu semakin rumit. Setiap propaganda politik yang dibisikkan oleh akun-akun tanpa wajah adalah beban yang membuat kaca itu mengerang, nyaris pecah.
Dan mereka menari di atasnya. Sadar atau tidak sadar, mereka terus menari di atas lantai kaca yang retak itu.
Lalu badai itu datang. Badai angin yang bukan sekadar angin. Ini adalah badai opini, badai sentimen, badai algoritma. Angin dari utara menderu membawa pekik kebencian terhadap satu kelompok. Angin dari selatan mendesah membisikkan hoaks kesehatan yang terdengar begitu meyakinkan. Angin dari barat dan timur saling bertabrakan, menciptakan pusaran dahsyat bernama polarisasi, menarik siapa pun yang ragu-ragu ke dalam debat kusir tanpa ujung. Badai itu tidak bertujuan mendinginkan, ia bertujuan menggoyahkan. Tujuannya adalah membuat setiap penari kehilangan keseimbangan.
Lihatlah mereka. Seorang pemuda mencoba melangkah ke kiri, mengikuti irama musik yang sedang tren, namun lantai di bawah kakinya berderak hebat. Ia ragu. Seorang gadis mencoba berputar, meniru gerakan seorang idola, tapi badai angin meniupnya begitu kencang hingga ia nyaris terpelanting. Langkah-langkah yang seharusnya menjadi ekspresi diri kini menjadi pertaruhan hidup-mati. Salah pijak sedikit, retakan itu akan menganga dan menelannya ke dalam jurang kebingungan. Terlalu mengikuti arah angin, ia akan terlempar ke tepi panggung, terisolasi dalam bilik gema keyakinannya sendiri.
Menari di tengah badai di atas lantai kaca yang retak adalah perkara menjaga kewarasan. Bagaimana caranya melangkah dengan kritis ketika setiap pijakan berisiko? Bagaimana caranya mendengar musik jiwa sendiri ketika raungan badai jauh lebih keras? Ini bukan lagi soal benar atau salah. Di era pasca-kebenaran, vonis itu sudah kadaluwarsa. Ini adalah soal pijakan mana yang cukup kokoh untuk menahan berat badanmu barang sedetik lebih lama. Ini adalah soal arah angin mana yang hanya iseng menggoda dan mana yang benar-benar ingin mencelakakanmu.
Mereka dipaksa menjadi penari sekaligus navigator dalam waktu bersamaan. Mereka dituntut untuk lincah, tetapi juga harus waspada. Berdansa dengan senyum, meski telapak kaki mereka merasakan getaran retakan yang kian menjalar.
Lalu, apa yang mereka pegang? Di tengah panggung yang berguncang dan badai yang memekakkan telinga, apa yang bisa menjadi pegangan? Tak ada. Tak ada tiang, tak ada tali, tak ada tangan lain yang bisa diandalkan sepenuhnya, sebab tangan lain itu pun sedang sibuk menari tarian resikonya sendiri.
Satu-satunya yang tersisa adalah sesuatu di dalam diri. Sebuah kompas kecil yang getar jarumnya nyaris tak terasa: rasionalitas. Bukan rasionalitas dingin seorang filsuf di menara gading, melainkan rasionalitas seorang penari yang putus asa. Sebuah kesadaran untuk berhenti sejenak di tengah badai, untuk menunduk dan memeriksa retakan di bawah kaki, untuk bertanya: “Apakah pijakan ini nyata? Apakah suara angin ini benar adanya?”
Kompas itu tidak menjanjikan jalan keluar. Ia tidak akan menghentikan badai atau menambal lantai kaca yang terlanjur remuk. Ia hanya menawarkan arah. Jarumnya yang bergetar menunjuk pada satu titik remang-remang bernama kejujuran intelektual. Ia berbisik lirih di antara deru angin: “Raguilah. Pertanyakanlah. Verifikasilah.”
Maka, tarian itu terus berlanjut. Tarian yang ganjil dan penuh ketegangan. Sebuah koreografi bertahan hidup. Mereka melompat dari satu pijakan kaca yang tampak solid ke pijakan lainnya, membiarkan tubuh mereka sedikit oleng oleh angin sebelum menemukan kembali titik pusat gravitasi mereka. Mereka belajar membedakan mana derak kaca yang berbahaya dan mana yang hanya gertakan. Mereka belajar kapan harus mengikuti angin dan kapan harus menancapkan kaki sekuat tenaga untuk melawannya.
Mereka mungkin akan terpeleset. Beberapa mungkin akan jatuh. Tapi mereka yang terus memegang kompas kecil itu, yang terus mencoba membaca peta retakan di bawah kaki mereka, akan terus menari. Bukan tarian yang indah, mungkin. Tapi sebuah tarian yang jujur. Sebuah kesaksian bahwa di atas panggung dunia yang nyaris pecah, memilih untuk tetap berpikir adalah satu-satunya gerakan yang paling berarti.
Dan mereka terus menari. Di atas lantai kaca yang retak. Di tengah badai angin.
Komentar
Posting Komentar