Langsung ke konten utama

Kita Adalah Perjalanan Itu Sendiri

Maka kita pun berlari. Selalu berlari. Mengejar sesuatu yang kita sebut "tujuan" di ujung cakrawala. Sebuah titik, sebuah harta karun, sebuah ijazah, sebuah jabatan, sebuah kebahagiaan yang kita yakini akan menuntaskan segalanya. Kita terengah-engah, memfokuskan mata pada satu fatamorgana di kejauhan, dan sering kali lupa: kita sedang menapaki tanah. Kita sedang menghirup udara. Kita sedang menjadi.

Untuk apa semua lari ini? Pertanyaan itu mungkin terdengar konyol bagi dunia yang menuntut efisiensi. Dunia yang menjual peta-peta jalan pintas dan menjanjikan kedatangan yang lebih cepat. Tapi pertanyaan itu mengintai, seperti bayangan di siang bolong, mengusik di sela-sela napas kita yang tersengal. Jangan-jangan, semua yang kita cari justru berceceran di sepanjang jalan yang kita lewati dengan tergesa-gesa.

Lihatlah Santiago, anak gembala dari Andalusia itu. Ia melintasi gurun, menantang perampok, dan mengarungi lautan pasir hanya untuk sebuah mimpi: harta karun yang terkubur di kaki piramida Mesir. Tujuannya jelas, terukur, berkilauan dalam benaknya. Ia menjual domba-dombanya, meninggalkan dunianya yang nyaman, demi satu titik akhir itu. Tapi apa yang ia temukan di sana? Kekecewaan. Harta itu tak pernah ada di Mesir. Harta itu, ironisnya, berada di tempat ia memulai perjalanannya.

Lalu, apakah perjalanannya sia-sia?

Di sinilah semesta berbisik. Harta karun sejati Santiago bukanlah emas dan permata. Hartanya adalah saat ia belajar bahasa isyarat di toko kristal. Hartanya adalah ketika ia memahami bisikan angin gurun, yang ia sebut sebagai Bahasa Dunia. Hartanya adalah degup jantungnya saat melihat Fatima di tepi sumur, sebuah cinta yang tak akan pernah ia kenal jika ia tetap menjadi gembala di Spanyol. Hartanya adalah kebijaksanaan sang Alkemis yang mengajarinya untuk mendengarkan hati. Santiago berangkat untuk mencari harta, tetapi ia pulang dengan membawa dirinya sendiri—versi yang lebih utuh, lebih bijaksana, lebih hidup. Perjalanan itu telah mengubah sang pencari menjadi harta itu sendiri. Tujuannya hanyalah pemantik, sebuah alasan agar ia mau melangkahkan kaki.

Kini, mari kita tinggalkan gurun pasir yang romantis dan masuk ke dalam neraka yang nyata. Ke dalam barak-barak beku kamp konsentrasi Auschwitz. Di sana, Viktor Frankl, seorang psikiater, dilucuti dari segalanya: harta benda, martabat, bahkan nama. Tujuannya setiap hari hanyalah satu: bertahan hidup sampai esok. Sebuah tujuan yang begitu telanjang, begitu purba. Di tengah penderitaan yang tak terperikan, di mana manusia direduksi menjadi sekadar angka dalam statistik kekejaman, apa arti sebuah perjalanan?

Frankl menunjukkan sesuatu yang menusuk jantung. Ia menyaksikan bagaimana sebagian orang menyerah pada kebrutalan, menjadi sama kejinya dengan para penjaga. Namun, ia juga melihat yang lain: mereka yang berbagi remah roti terakhirnya, mereka yang menghibur sesamanya dengan sepatah kata. Dalam kondisi yang paling ekstrem sekalipun, Frankl sadar, ada satu hal yang tak akan pernah bisa dirampas dari seorang manusia: kebebasan untuk memilih sikap dalam menghadapi keadaan.

Di antara stimulus (rasa lapar, pukulan, kehilangan) dan respons (keputusasaan, kebencian), ada sebuah ruang jeda. Di dalam ruang jeda itulah letak kekuatan kita. Frankl dan mereka yang memilih untuk tetap menjadi manusia di tengah neraka, menemukan makna bukan pada "kapan penderitaan ini berakhir?" (tujuan), melainkan pada "bagaimana aku menjalani penderitaan ini detik demi detik?" (proses). Makna hidup, ternyata, tidak ditemukan dalam jawaban, melainkan dalam keberanian untuk terus bertanya dan memilih, bahkan ketika satu-satunya pilihan adalah bagaimana cara kita menderita.

Santiago dan Frankl. Yang satu dalam perjalanan mistis, yang lain dalam tragedi historis. Keduanya tiba pada kesimpulan yang sama: inti dari keberadaan bukanlah apa yang kita dapatkan di akhir, melainkan bagaimana kita bertumbuh di sepanjang jalan. Dunia kiwari menipu kita dengan ilusi jawaban instan. Kita mencari "tujuh langkah menjadi bahagia", "formula cepat kaya", "rahasia sukses dalam 24 jam". Kita mengunduh aplikasi untuk meditasi singkat, berharap pencerahan datang dalam notifikasi. Kita melupakan bahwa kebijaksanaan adalah endapan dari pengalaman, bukan data yang bisa diunduh.

Hidup bukanlah masalah matematika yang memiliki satu jawaban pasti. Ia adalah sebuah sajak yang maknanya terus terkuak di setiap baris yang kita jalani. Ia adalah musik yang keindahannya terletak pada alunan nada dari awal hingga akhir, bukan hanya pada dentuman penutup.

Maka, mungkin kita perlu berhenti sejenak dari lari kita. Merasakan kerikil di bawah telapak kaki, menyadari betapa teriknya matahari atau betapa sejuknya angin. Mungkin kita perlu menerima bahwa tersesat terkadang adalah bagian dari peta. Bahwa keraguan adalah kompas yang jujur. Karena pada akhirnya, arti tidak datang dari sebuah plakat di garis finis. Arti itu kita ciptakan, kita rajut, kita pahat dari setiap langkah, setiap kegagalan, setiap tetes air mata, dan setiap senyum kecil yang kita temukan di tengah perjalanan.

Kita bukanlah musafir yang sedang menuju tujuan. Kita adalah perjalanan itu sendiri.

Komentar