Senja selalu punya cara yang licik untuk mengingatkan kita pada hal-hal yang tidak selesai. Di sebuah sudut Tulungagung yang terkadang bising, di mana lampu-lampu merkuri mulai berkedip seperti mata yang lelah, aku duduk menuliskan sesuatu yang barangkali akan kau anggap sebagai igauan. Aku ingin mencintaimu dengan rumit. Bukan karena aku menyukai kesulitan, tapi karena kesederhanaan seringkali adalah bentuk lain dari pengabaian.
Ada sebuah paradoks yang lebih purba dari sejarah manusia: bagaimana sesuatu yang tak mungkin bersatu justru menciptakan kehadiran yang paling nyata?
"Aku ingin mencintaimu dengan rumit; seperti cincin yang tak mungkin memeluk Saturnus namun dekapnya meniadakan sunyi yang membuatnya ada."
Bayangkan Saturnus. Sebuah bola gas raksasa yang dingin dan angkuh di kejauhan sana. Ia dikelilingi oleh miliaran bongkahan es dan debu yang kita sebut cincin. Secara teknis, cincin itu tak pernah benar-benar memeluk sang planet. Ada jarak jutaan kilometer yang dijaga oleh hukum fisika yang kaku. Gravitasi adalah cinta yang posesif sekaligus penjaga jarak yang kejam.
Namun, lihatlah. Tanpa cincin itu, Saturnus hanyalah sebuah titik sunyi di kegelapan kosmos. Cincin yang tak mampu memeluk itu justru menjadi identitas yang meniadakan kesunyian. Mencintaimu dengan rumit berarti menerima bahwa ada jarak yang tak akan pernah bisa dipangkas oleh jemari kita. Bahwa dalam ketidakmungkinan untuk "menjadi satu", kita justru menemukan alasan mengapa kita harus terus ada. Dekapan itu tidak berbentuk fisik, melainkan sebuah kehadiran yang gigih di sekitar lingkaran takdirmu. Aku mencintaimu seperti debu-debu es itu; aku tidak memelukmu, aku hanya memastikan bahwa kau tidak sendirian di tengah hampa semesta.
"Aku ingin mencintaimu dengan rumit; seperti bayangan yang ingin memeluk sukmanya sendiri—namun gelapnya begitu semarak menemani malam yang kelabu."
Di bawah lampu jalan yang temaram, bayanganku memanjang, tampak lebih hidup daripada tubuhku sendiri. Ada sesuatu yang tragis pada bayangan. Ia adalah pengikut yang paling setia, namun ia ditakdirkan untuk tidak pernah bisa menyentuh pemiliknya. Seberapa keras pun bayangan itu mencoba meringkuk dan memeluk sukmanya, ia akan tetap menjadi sebidang gelap di atas aspal.
Namun, di sanalah letak romansanya. Dalam dunia yang dipenuhi cahaya yang menyilaukan dan palsu, kegelapan bayangan adalah sebuah kejujuran. Saat malam menjadi kelabu—saat dunia kehilangan warna dan hanya menyisakan gradasi kesedihan—bayangan itu menjadi semarak. Ia tidak pergi. Ia menemani malam yang paling sunyi dengan kehitaman yang pekat.
Mencintaimu dengan rumit adalah menjadi bayanganmu. Aku tidak menuntut untuk menjadi bagian dari daging dan tulangmu. Aku cukup menjadi kegelapan yang menempel di tumitmu, yang mengerti lekuk-lekuk kesedihanmu saat tak ada orang lain yang melihat. Sebuah cinta yang gelap, namun semarak karena ia tidak pernah berkhianat pada malam.
"Aku ingin mencintaimu dengan rumit; seperti aksara yang tak mungkin hidup tanpa nada—namun jejaknya kekal menjadi puisi yang kau baca."
Pada akhirnya, segala hal akan bermuara pada bahasa. Namun bahasa adalah penjara yang sempit bagi perasaan yang meluap. Aksara-aksara yang kutuliskan di atas kertas ini hanyalah bangkai hitam jika kau membacanya tanpa nada. Tanpa getaran frekuensi yang disebut rasa, kata "cinta" hanyalah lima huruf mati yang berderet tak berdaya.
Kerumitan ini adalah tentang bagaimana tulisan yang bisu berusaha keras untuk bernyanyi. Aksara membutuhkan nada untuk bernapas, sebagaimana aku membutuhkan suaramu untuk merasa hidup. Namun, meski nada itu seringkali hilang ditelan kebisingan dunia, jejak aksara itu tetap tinggal. Ia membeku di atas kertas, menjadi puisi yang abadi.
Mencintaimu dengan rumit adalah membiarkan diriku menjadi jejak yang kau baca di kemudian hari. Barangkali saat itu aku sudah tidak ada, atau barangkali nada kita sudah tidak lagi selaras. Namun puisi itu, yang lahir dari kerumitan antara keinginan dan kenyataan, akan selalu ada di sana. Menunggu matamu untuk sekali lagi menghidupkannya.
Mengapa Harus Rumit?
Dunia hari ini memaksa kita untuk mencintai dengan praktis. "Suka ya katakan, tidak ya tinggalkan." Semuanya harus instan seperti kopi dalam sachet. Tapi bagiku, itu bukan cinta. Itu hanyalah transaksi emosi.
Cinta yang benar-benar cinta adalah yang berani memasuki labirin tanpa niat untuk menemukan jalan keluar. Ia adalah cincin Saturnus yang tahu diri, bayangan yang setia pada malam, dan aksara yang merindukan nada. Mencintaimu dengan rumit adalah cara terbaik untuk merayakan kemanusiaan kita yang penuh dengan retakan.
Sebab dalam kerumitan itulah, sunyi tidak lagi terasa sepi. Dalam kerumitan itulah, kita abadi.
Tulungagung, dalam sisa-sisa hujan yang tak pernah benar-benar usai.
Komentar
Posting Komentar