Dunia selalu menuntut sesuatu yang baru setiap kali angka di kalender berganti. Di awal tahun ini, layar putih blog milikku menatapku dengan angkuh. Kursor berkedip-kedip seperti detak jantung yang cemas—menagih sebuah resolusi, sebuah refleksi hebat, atau mungkin sekadar bualan tentang bagaimana tahun ini akan menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Aku bingung. Kata-kata seperti tersangkut di tenggorokan, macet seperti jalan lalu lintas di jam jam pulang kantor.
Namun, di tengah hiruk-pikuk tuntutan untuk menjadi "luar biasa" itu, aku justru teringat padamu. Pada bulan Januari yang basah ini, ingatanku mendarat pada satu titik diam: kamu.
Kata mereka, kau adalah perempuan paling biasa di Bumi.
Mereka melihatmu dan hanya menemukan kesederhanaan yang membosankan. Tidak ada kemilau yang menyilaukan mata, tidak ada intonasi suara yang menggelegar, tidak ada langkah kaki yang membuat orang menoleh dua kali. Kau adalah personifikasi dari angka rata-rata dalam statistik kerumunan. Kau adalah definisi dari "biasa saja".
Tetapi, di sinilah letak subversifnya perasaan. Di sinilah logika kepenulisanku menyerah pada kenyataan yang lebih magis.
Aku ingat sore itu, saat kita berjalan di antara bising klakson dan teriakan pedagang kaki lima yang berebut ruang di aspal. Kota ini seharusnya tuli oleh suaranya sendiri. Namun, mengapa ketika kau mulai bicara, seolah-olah seseorang menekan tombol mute pada semesta? Seluruh bising di jalan kota mendadak sunyi, luruh ke bumi, hanya agar angin bisa mengantarkan bisikmu ke telingaku dengan utuh. Seakan-akan dunia tahu bahwa dalam biasa-mu, ada rahasia yang lebih penting dari semua kegaduhan peradaban ini.
Kata mereka kau perempuan paling biasa di Bumi, tapi mengapa hari yang marak membakar hari-hari yang penuh dengan amarah matahari dan tuntutan hidup yang memanggang kewarasan selalu berakhir dengan teduh yang tak masuk akal setiap kali senja berlabuh di wajahmu? Di lengkung alismu, aku menemukan tempat bernaung yang tidak bisa diberikan oleh gedung pencakar langit manapun. Di matamu, matahari yang garang itu melunak, seolah ia pun malu untuk bersikap kasar di hadapan ketenanganmu yang begitu purba.
Aku ini orang yang memuja logika. Aku menyusun kata, membangun argumen, dan merapikan pikiran seperti seorang arsitek yang teliti. Aku punya cetak biru untuk segalanya. Tapi lihatlah betapa rapuhnya semua itu. Kata mereka kau perempuan paling biasa di Bumi, tapi mengapa logika yang sudah kususun serapi mungkin runtuh seperti debu, tercerai-berai tanpa bentuk, setiap kali tanganmu menyentuhku? Sentuhanmu bukan sebuah ledakan, bukan pula badai. Ia hanya sentuhan biasa. Namun, ia memiliki daya bongkar yang membuat seluruh teori tentang kemandirian dan rasionalitas yang kubanggakan menjadi tidak relevan.
Maka, biarlah mereka dengan penilaiannya. Biarlah dunia dengan standarnya tentang apa yang layak dianggap istimewa.
Di awal tahun ini, di bulan Januari yang melankolis ini, aku tidak akan menulis tentang perubahan dunia atau revolusi teknologi. Aku telah memutuskan. Aku akan menulis tentangmu. Tentang bagaimana yang biasa bisa menjadi begitu absolut. Tentang bagaimana kesederhanaanmu adalah sebuah pemberontakan terhadap dunia yang terlalu banyak bersolek.
Aku akan menulis banyak tentangmu, si perempuan paling biasa saja itu—kata mereka. Karena bagiku, dalam setiap inci "biasa" yang kau miliki, ada sebuah dunia yang belum sempat mereka temukan, namun sudah terlanjur kutinggali dengan keras kepala.
Selamat datang di catatanku, Januari. Selamat datang, Perempuan Paling Biasa. Mari kita biarkan mereka bingung, sementara kita merayakan sunyi yang paling bising ini.
Komentar
Posting Komentar