Di sebuah kota di mana waktu seringkali dicuri oleh kebisingan knalpot dan rutinitas yang menjemukan, kita sering lupa bahwa hidup hanyalah sepotong lilin yang sumbunya terus dimakan api. Kita berlari mengejar sesuatu yang kita sebut masa depan, tanpa menyadari bahwa di belakang kita, detik-detik berjatuhan seperti daun kering yang tak akan pernah kembali ke rantingnya. Pada kehidupan yang ternyata tak cukup panjang untuk menampung segala yang tak sempat ini, aku tiba pada satu kesimpulan yang keras kepala: aku ingin menjadikanmu satu-satunya hal favorit yang kusimpan dalam saku ingatanku yang paling sunyi.
Dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi sendirian, namun terlalu sempit untuk menyimpan semua keinginan. Ada begitu banyak rencana yang gagal, begitu banyak kata yang tertelan sebelum sempat diucapkan, dan begitu banyak pelukan yang terlepas karena kita terlalu sibuk melihat jam tangan. Namun bagiku, jika hidup ini memang sebuah lilin yang cepat meleleh, biarlah kusulut seluruh nyalanya hanya untuk satu hal yang pasti. Aku tidak butuh lampu kota yang benderang namun dingin. Aku hanya ingin melihat wajahmu bercahaya dalam remang yang lembut. Di sana, dalam keremangan itu, garis wajahmu menjadi peta bagi kepulanganku.
Ada sesuatu yang tragis sekaligus manis tentang waktu. Ia memberi kita kesempatan untuk mencintai, namun ia juga yang menyediakan liang lahat bagi setiap momen. Setiap orang pernah bilang dan meyakini benar bahwa "senja itu indah karena ia singkat." Mungkin begitu juga dengan kita. Kehadiranmu bukan tentang berapa lama kita duduk berdampingan di bangku taman, tapi tentang bagaimana dalam sisa usia yang terus menyusut ini, sosokmu menjadi satu-satunya yang memenuhi ruang pandangku.
Kalau boleh aku sedikit lancang meminta pada takdir—meski aku tahu takdir seringkali adalah seorang petaruh yang curang—aku ingin menukar segala detikku yang tersisa. Aku ingin menukar semua prestasi, semua perjalanan, dan semua kemungkinan di masa depan dengan satu pelukan erat yang tidak dicuri oleh waktu. Sebuah pelukan yang di dalamnya kita bisa mendengar detak jantung masing-masing tanpa harus khawatir kapan alarm akan berbunyi. Aku ingin menyayangimu tanpa harus mengukur sisa usia dengan penggaris ketakutan. Aku ingin mencintaimu dengan segenap yang bersisa, dengan sisa napas yang mungkin sudah mulai payah, namun penuh dengan ketulusan yang tak pernah habis.
Cinta, dalam kamusku yang mulai usang, bukan lagi soal janji-janji tentang keabadian yang muluk-muluk. Keabadian itu melelahkan. Keabadian adalah beban bagi mereka yang tak tahu cara menghargai detik ini. Aku tidak butuh kita menjadi abadi seperti batu karang yang dingin. Cukup sisa waktuku kau isi penuh. Biarlah ruang-ruang di kepalaku, di hatiku, dan di sela-sela jariku, terisi penuh olehmu. Hingga ketika maut datang menjemput dan bertanya tentang apa yang kubawa, aku tidak punya kenang-kenangan lain selain tentangmu.
Kita adalah saksi dari sebuah zaman di mana orang-orang lebih sering memotret momen daripada merasakannya. Tapi aku ingin berbeda. Aku ingin memandangmu begitu dalam, hingga citramu terekam bukan di memori ponsel, melainkan di balik kelopak mataku. Sehingga saat aku memejamkan mata nanti, hanya ada kamu. Tak ada ruang tersisa untuk penyesalan tentang apa yang tak sempat kulakukan di dunia ini, karena melakukan segalanya bersamamu sudah lebih dari cukup.
Waktu mungkin akan terus berlari, mencuri masa muda kita, menggoreskan kerutan di sudut matamu, dan memutihkan rambutku. Tapi dalam remang cahaya lilin yang kusam ini, kamu tetaplah hal terfavorit. Aku ingin mencintaimu seperti seseorang yang sedang membaca buku di bab terakhir; dengan ketelitian yang luar biasa, dengan rasa takut akan segera berakhir, namun dengan kepuasan bahwa setiap kalimatnya telah kunikmati dengan segenap jiwa.
Pada akhirnya, hidup memang tidak pernah cukup panjang. Selalu ada yang tertinggal, selalu ada yang tak sempat. Namun jika di ujung jalan nanti aku ditanya tentang apa yang paling berharga dari perjalanan singkat ini, aku akan menunjukmu. Karena bagiku, sisa waktu yang kau isi penuh adalah definisi dari kebahagiaan yang paling sederhana sekaligus paling mewah.
Biarlah lilin ini meleleh habis. Biarlah remang ini menjadi gelap. Selama ada kamu di sisa waktuku, kegelapan pun akan terasa seperti pelukan yang hangat. Kita tidak perlu selamanya, kita hanya perlu sekarang, di sini, dengan segenap cinta yang tersisa. Karena di hadapan waktu yang kejam, hanya cinta yang mampu membuat satu detik terasa seperti satu milenium yang penuh makna.
Cukup kau, dan sisa waktuku yang kau penuhi hingga tak ada lagi ruang untuk yang lain.
Komentar
Posting Komentar