Dunia sedang sepi. Bukan sepi yang biasa, melainkan sepi yang menjalar dari lorong-lorong kota yang lelah hingga ke sudut-sudut kamar yang pengap oleh tumpukan buku. Di saat seperti inilah, ketika detak jarum jam terdengar seperti palu yang menghantam paku ke papan kayu, aku kembali ke meja. Meja yang sebenarnya adalah altar bagi segala yang tak tersampaikan.
Ada satu hal yang selalu luput dari perhitungan waktu: bagaimana sebuah nama bisa tetap hangat sementara cuaca di luar sana begitu dingin. Tubuhmu, barangkali, kini sedang didera kelelahan. Waktu adalah pencuri yang paling sopan, ia mengambil keremajaanmu sedikit demi sedikit, meninggalkan garis-garis halus di sudut matamu yang kau sebut sebagai tanda kedewasaan. Namun bagiku, waktu hanyalah sebuah variabel yang gagal. Sebab di atas kertas ini, kau tidak pernah berubah. Kau abadi di halaman-halaman yang menolak untuk menguning.
Maka, biarlah namamu hidup di sana. Di sela koma yang memberimu napas sejenak, dan di balik titik yang memastikan kau tidak akan pernah benar-benar pergi.
Orang-orang sering bertanya, mengapa seorang penulis begitu tekun menyusun kalimat hingga larut malam? Jawabannya sederhana, meski pahit: karena ingatan manusia memiliki tanggal kedaluwarsa. Memori adalah perpustakaan yang perlahan-lahan terbakar. Wajah-wajah akan memudar, suara-suara akan menjadi desis, dan pelukan akan menjadi sekadar mitos.
Namun, aku menolak menyerah pada hukum alam itu. Saat ingatan orang lain tentangmu mulai retak dan hancur seperti tembok bangunan tua, aku akan memanggilmu pulang lewat metafora. Kau bukan lagi sekadar manusia yang terdiri dari daging dan tulang; kau adalah senja yang enggan pamit di cakrawala Jakarta, kau adalah aroma tanah basah setelah kemarau yang panjang, atau mungkin kau adalah jeda di antara dua nada yang membuat sebuah lagu menjadi bermakna.
Dalam dunia kepenulisan, kau tidak perlu lelah berjalan. Kau hanya perlu bernapas di setiap kata yang kupilih. Setiap kata sifat yang kusematkan adalah upaya untuk menyentuh kembali rambutmu. Setiap kata kerja yang kutulis adalah caraku menggenggam jemarimu. Di dalam cerita-cerita yang sengaja tak kubuatkan penyelesaiannya, kau akan terus berjalan, mencari jawaban, dan tetap ada. Sebuah cerita yang tak pernah usai adalah bentuk keabadian yang paling jujur.
Aku pernah membaca tentang cinta yang melampaui logika ruang dan waktu. Begitu pula dengan ini. Cinta seorang penulis bukan sekadar soal debar jantung atau surat-surat berbau parfum. Cinta penulis adalah sebuah perlawanan. Sebuah pemberontakan terhadap kepunahan.
Kita semua akan mati, itu pasti. Namun, ada perbedaan antara mati yang benar-benar hilang dan mati yang tersimpan dalam artefak literasi. Menuliskanmu adalah caraku menyelamatkanmu dari jurang lupa yang rakus. Ketika cucu-cucu dari orang yang belum lahir hari ini membaca baris-baris ini, mereka akan melihat senyummu. Mereka akan merasakan kehangatan yang sama seperti yang kurasakan malam ini, meski tubuhmu mungkin sudah lama menyatu dengan bumi.
Di sela-sela kalimat yang kusunting dengan teliti, aku menyelundupkan jiwamu. Ada semacam magis di mana tinta yang mengalir dari pena berubah menjadi aliran darah dalam karakter yang kubangun. Kau akan hidup dalam puisi, dalam cerpen, dalam esai-esai yang barangkali hanya dibaca oleh mereka yang juga sedang patah hati atau sedang jatuh cinta setengah mati.
Dunia mungkin akan tetap sepi, atau mungkin akan menjadi terlalu bising hingga kita tak bisa lagi mendengar suara hati sendiri. Namun, selama aku masih memiliki kata-kata, kau tidak akan pernah benar-benar lenyap. Selama tinta ini masih mengalir—hitam di atas putih—kamu akan tetap bernapas.
Tulisanku adalah rumah bagimu. Sebuah rumah yang tak mengenal musim gugur, sebuah rumah di mana pintunya selalu terbuka bagi namamu untuk beristirahat di sela tanda baca. Jangan khawatir akan waktu yang melelahkan tubuhmu, karena di sini, di baris terakhir yang kutulis ini, kau tetaplah indah, tetaplah nyata, dan tetaplah milikku.
Sebab pada akhirnya, yang tersisa dari seorang penulis bukan hanya bukunya, melainkan siapa yang ia selamatkan di dalamnya. Dan hari ini, esok, serta selamanya, orang itu adalah kamu.
Namamu akan selalu ada. Di sela koma, sebelum titik yang tak pernah benar-benar kutitipkan.
Komentar
Posting Komentar