Di dunia yang kerap kali terburu-buru, di mana detik jam sering terdengar seperti vonis yang dingin, aku pernah meyakini bahwa kebahagiaan hanyalah selingan singkat di antara deretan nestapa yang panjang. Kita semua adalah tawanan waktu; entitas yang rakus dan tak kenal ampun, yang merenggut masa muda dan menyisakan kerutan di sudut mata. Namun, segalanya mendadak bergeser koordinatnya ketika ia datang. Ia, yang namanya kini terpatri di antara lipatan ingatan dan denyut nadi, membawa sebuah anomali yang tak mampu dijelaskan oleh hukum fisika mana pun: sebuah musim senang yang menolak untuk gugur.
Ada sesuatu yang magis pada caranya memandang dunia, yang kemudian menular padaku seperti aroma buku lama yang menenangkan. Bersamanya, waktu tidak lagi terasa seperti garis lurus yang menuju garis finis yang gelap. Sebaliknya, waktu menjadi hamparan padang rumput yang luas, di mana matahari seolah enggan tenggelam. Jika dulu aku merasa hidup adalah rangkaian musim dingin yang menggigit, kini bersamanya, musim senang selalu terasa lebih panjang. Ia tidak menghapus kesedihan—karena hidup tanpa luka adalah kemustahilan—namun ia membuat setiap tawa memiliki resonansi yang lebih dalam, membuat setiap percakapan di meja makan menjadi sebuah perjamuan yang tak ingin kusudahi.
Banyak sudah buku yang telah ku baca, dan salah satunya mengingatkan ku pada pada ia di sebuah buku yang dalam narasi-narasinya sering kali bicara tentang bagaimana sejarah dan ingatan membentuk manusia. Bagiku, ia adalah sejarah baru yang ingin kutulis setiap hari. Menemukannya adalah seperti menemukan sebuah paragraf yang hilang dari naskah hidupku; sebuah penemuan yang membuat seluruh cerita sebelumnya menjadi masuk akal. Ketika aku menatap matanya, aku tidak hanya melihat masa kini, tapi aku melihat sebuah kemungkinan yang luas. Aku menemukan sebuah nama, yang secara ajaib, membuatku ingin terus hidup lebih lama.
Dulu, aku adalah orang yang skeptis pada konsep keabadian. Bagiku, hidup adalah persiapan untuk perpisahan. Kita lahir untuk akhirnya melepaskan. Namun, keberadaannya mengubah sinisme itu menjadi semacam doa yang rakus. Aku mendadak merasa bahwa jatah usia manusia—tujuh puluh atau delapan puluh tahun—adalah sebuah ketidakadilan yang nyata. Mengapa alam semesta hanya memberikan waktu sesingkat itu untuk mencintai seseorang yang begitu luas maknanya? Seumur hidup, aku tersadar, ternyata terlalu singkat untuk kami lalui sebagai sepasang.
Ada ketamakan yang tumbuh dalam diriku—ketamakan yang barangkali paling suci yang pernah ada. Aku ingin memiliki waktu yang melampaui angka-angka di kalender. Aku ingin bersamanya ketika rambut kami telah memutih seputih kapas, ketika ingatan kami mungkin mulai memudar diterjang usia, namun rasa hangat di genggaman tangan tetap sama. Aku ingin lebih dari sekadar "sampai maut memisahkan". Kalimat itu terasa terlalu final, terlalu menyerah pada batasan biologis. Kumiliki ia yang ingin kubersamai untuk waktu yang tak terhingga, untuk lebih dari selamanya.
Dalam gaya hidup yang penuh dengan retorika besar, aku menemukan bahwa cinta yang paling purba justru terletak pada detail-detail kecil: cara ia menyeduh teh di pagi hari, caranya menyebut namaku dengan intonasi yang hanya menjadi milik kami berdua, atau bagaimana ia tetap diam namun hadir sepenuhnya saat duniaku sedang runtuh. Hal-hal kecil inilah yang membangun fondasi dari keinginan untuk "hidup lebih lama". Aku ingin menyaksikan setiap perubahan musim di wajahnya. Aku ingin menjadi saksi dari setiap pemikiran yang melintas di kepalanya.
Kita sering kali takut pada kematian bukan karena kematian itu sendiri, melainkan karena semua hal yang belum sempat kita selesaikan. Bersamanya, daftar "hal yang belum selesai" itu menjadi tak terbatas. Bukan karena kami malas, tapi karena setiap detik bersamanya melahirkan keinginan baru untuk detik berikutnya. Ia adalah alasan mengapa aku kini menghargai setiap tarikan napas; karena setiap napas berarti satu momen lagi untuk mencintainya.
Maka, biarlah waktu terus berjalan dengan angkuhnya. Biarlah dunia luar hiruk-pikuk dengan segala urusannya yang fana. Di dalam lingkaran yang kami bangun, musim senang itu akan tetap tinggal. Ia bukan lagi sekadar seseorang yang kutemui di tengah jalan, melainkan destinasi yang membuat perjalanan panjang ini layak ditempuh. Padanya, kutemukan alasan untuk tidak hanya sekadar bertahan hidup, tapi benar-benar merayakan kehidupan. Sebab pada akhirnya, cinta bukan tentang berapa lama kita hidup, tapi tentang siapa yang membuat kita merasa bahwa selamanya pun tidak akan pernah cukup.
Di hadapan namanya, aku bertekuk lutut pada kehidupan, memohon pada semesta agar mengizinkanku mencintainya sedikit lebih lama lagi. Dan lagi. Dan lagi. Hingga waktu sendiri lelah menghitung keberadaan kami.
Komentar
Posting Komentar