Langsung ke konten utama

Resonansi di Ujung Saraf

Seratus tahun dari sekarang, ketika lampu-lampu kota mungkin sudah digantikan oleh pendar teknologi yang lebih dingin dan asing, tubuh kita—tubuh yang sekarang kau peluk dan aku jaga—hanyalah akan menjadi setumpuk debu dalam tanah yang bisu. Mungkin tak ada nisan yang tersisa, atau barangkali nama kita hanya akan menjadi barisan data digital yang terkubur dalam peladen yang usang. Namun, ada satu hal yang kutahu pasti: bukan anatomi tubuh ini yang akan bertahan menantang waktu, melainkan sebuah residu halus yang kita tanam dalam kesadaran orang-orang yang pernah kita cintai. Sebuah jejak kecil dari afeksi yang pernah menghangatkan sistem saraf seseorang, seperti aroma kopi yang tertinggal di cangkir kosong pada sebuah sore yang basah.

​Para ilmuwan di masa depan, barangkali dengan jubah putih yang lebih steril dan alat pindai yang mampu membaca hingga ke lekuk terdalam angan-angan, akan menyebut fenomena ini sebagai resonansi afektif. Mereka akan duduk di laboratorium, menatap layar transparan, dan mencoba membedah bagaimana dua jiwa bisa saling terikat melalui pengalaman yang menstimulasi amigdala dan korteks prefrontal. Mereka akan berbicara tentang dopamin, oksitosin, dan sinyal elektrik yang meloncat-loncat di antara sinapsis saat dua pasang mata bertemu di bawah lampu jalan yang temaram. Di sana, di laboratorium yang dingin itu, emosi dan logika akan dipaksa berdialog dalam diam, seperti dua orang asing yang terjepit di dalam lift yang macet.

​Namun, apakah mereka bisa benar-benar mengerti?

​Mereka akan meneliti bagaimana rasa kehilangan—seperti saat kau melepaskan genggaman tangan di stasiun kereta—dapat memunculkan mekanisme pertahanan diri yang rumit. Mereka akan menulis jurnal ilmiah tentang bagaimana cinta yang tak tersampaikan, yang terpendam di balik kerongkongan, bisa mengalami sublimasi menjadi karya seni atau sekadar gumaman doa di tengah malam. Mereka akan mengategorikan kehadiran seseorang sebagai attachment figure, sebuah figur lekat yang memberikan rasa aman di tengah badai eksistensial. Baginya, kau adalah pelabuhan; bagimu, dia adalah jangkar. Dan semua itu akan dirumuskan menjadi teori-teori kering yang diajarkan di ruang-ruang kuliah.

​Tetapi, para penyair-penyair terdahulu—atau mungkin aku yang sedang meminjam jiwa mereka—akan memberitahumu satu hal. Bahwa di balik kerumitan neurosains itu, ada sesuatu yang tak tersentuh oleh mikroskop manapun. Ada sebuah wilayah abu-abu di mana sains menyerah dan hanya sastra yang sanggup bicara.

​Bayangkanlah amigdala itu seperti sebuah kotak musik tua. Ia menyimpan rekaman tentang rasa takut, marah, tapi juga tentang getaran halus saat namamu dipanggil. Dan korteks prefrontal? Ia adalah penyunting yang bijak, yang mencoba memberi arti pada kegilaan jantung yang berdegup kencang. Ketika mereka berdialog, mereka tidak sedang membicarakan angka. Mereka sedang membicarakan bagaimana kehadiranmu mampu meredam kebisingan dunia, bagaimana bayanganmu bisa menjadi selimut yang hangat di tengah malam yang paling menggigil.

​Sains mungkin bisa menjelaskan mengapa jantung berdetak lebih cepat, tapi ia tak pernah bisa menjelaskan rasanya menanti pesan singkat darimu di bawah langit yang berwarna ungu kemerahan. Ia bisa memetakan jalur saraf, tapi ia tak bisa memetakan rindu yang berceceran di sepanjang jalan plosokandang saat hujan mulai turun.

​Maka, seratus tahun dari sekarang, biarlah para peneliti itu sibuk dengan data-datanya. Biarkan mereka berdebat tentang apakah cinta hanyalah reaksi kimia ataukah sebuah evolusi kesadaran. Sementara itu, di sini, di masa kini yang fana namun nyata, aku ingin menuliskan sebuah kesimpulan yang sederhana. Sebuah kesimpulan yang tidak membutuhkan catatan kaki atau validasi laboratorium.

​Bahwa dalam seluruh dinamika psikologis manusia yang sedemikian rumit, ada satu hal yang takkan pernah bisa dijelaskan sepenuhnya oleh sains: rasa hangat yang menjalar secara misterius, yang membuat seluruh sistem sarafku tenang, setiap kali aku memikirkanmu.

​Mungkin itu bukan sekadar hormon. Mungkin itu adalah bukti bahwa kita pernah ada. Bahwa kita pernah saling menghangatkan di tengah semesta yang begitu luas dan dingin. Bahwa memori emosional ini adalah satu-satunya bentuk keabadian yang sanggup kita miliki. Seperti senja yang selalu hilang, namun selalu meninggalkan janji bahwa ia akan kembali, begitu pulalah jejakmu dalam diriku. Ia permanen, melampaui logika, melampaui waktu.

​Sebab pada akhirnya, yang tersisa dari kita bukanlah daging, melainkan resonansi. Dan resonansiku adalah namamu yang bergema pelan di dalam sunyi yang paling dalam.

Komentar