Malam ini, rembulan nampak begitu angkuh di atas sana. Cahayanya yang benderang jatuh ke bumi, membelah kegelapan kota yang biasanya hanya menyisakan debu dan bising. Di hadapan rembulan yang benderang itu, aku termenung. Menatap bayangmu yang tenang. Sebuah bayangan yang barangkali hanya mampir dalam kepalaku, namun terasa lebih nyata dari beton-beton gedung di luar jendela.
Aku sempat berpikir untuk mencuri sedikit saja sinarnya. Hanya sedikit, barangkali setetes dua tetes cahaya perak itu, untuk melukismu di atas kanvas ingatanku. Namun, niat itu lekas layu. Sebab dalam satu kilasan memori tentang caramu menarik ujung bibir, aku sadar: cahaya rembulan yang dipuja para penyair itu pun kalah telak oleh senyummu. Senyummu tidak butuh pantulan matahari untuk bersinar; ia punya sumber apinya sendiri.
Maka di sinilah aku, duduk dengan pena yang gemetar. Setiap kata yang kurangkai terasa hampa. Seperti kerangka yang kehilangan daging, atau seperti surat yang alamatnya telah dihapus hujan. Kata-kata itu hanyalah goresan kecil dari sebuah rasa yang luar biasa—sebuah rasa yang membuat waktu seolah-olah berhenti berputar hanya untuk memberiku kesempatan mengagumimu.
Aku bertanya-tanya pada kegelapan yang merayap di sudut kamar: Bagaimana mungkin tintaku mampu mengeja indah wajahmu? Sebuah wajah yang aku yakin tidak dibentuk oleh sekadar genetika, melainkan tercipta dari timbunan doa dan sari pati cinta yang paling murni. Menuliskanmu adalah sebuah upaya yang sia-sia, karena bahasa manusia terlalu miskin untuk menggambarkan bagaimana garis wajahmu bisa menenangkan badai yang paling riuh sekalipun.
Dalam gaya hidup yang serba cepat ini, engkau adalah jeda yang paling aku syukuri. Engkau adalah pelangi di kala hujan reda. Hadirmu membawa tenang bagi jiwa yang lara, sebuah oase di tengah gurun rutinitas yang membosankan. Jika hidup adalah sebuah film yang melelahkan, maka saat-saat menatapmu adalah still frame yang ingin kuputar selamanya.
Tak ada syair yang sanggup merangkum elokmu, wahai pemilik hati yang membuatku terpaku. Para penyair besar mungkin akan menyerah jika diminta mendeskripsikan bagaimana sorot matamu bisa bercerita lebih banyak daripada sebuah novel tebal. Syair-syair itu hanya akan menjadi rongsokan kata jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa kau ada, di sini, dalam jangkauan rinduku.
Maka, biarlah aku berhenti mencoba menjadi penyair yang hebat. Biarlah detak jantungku saja yang menjadi iramanya—sebuah ritme yang konsisten, yang berdegup hanya untuk menyebut namamu dalam setiap denyutnya. Dan biarlah tatap mataku menjadi saksi bisu selamanya. Mata yang tidak perlu bicara, mata yang cukup memandang untuk mengerti bahwa kebahagiaan itu kadang sederhana saja: melihatmu bernapas dengan tenang.
Sebab sungguh, aku menyadari satu hal di bawah saksi rembulan malam ini. Keindahanmu adalah sebuah anugerah. Sesuatu yang jatuh dari langit dan mendarat tepat di depanku tanpa sempat aku siapkan payung penangkisnya. Ia adalah keindahan yang takkan habis diceritakan oleh waktu yang berpindah. Abad-abad boleh berganti, musim boleh bertukar wajah dari kemarau ke penghujan, namun caraku memandangmu akan tetap sama.
Dunia mungkin akan terus bergerak, penuh dengan intrik, politik, dan kekacauan. Namun di hadapan rembulan ini, semua itu menjadi tidak relevan. Yang relevan hanyalah bayangmu, senyummu, dan fakta bahwa aku masih punya cukup tinta—meski terbatas—untuk menuliskan betapa berartinya kehadiranmu.
Keindahanmu bukanlah tentang apa yang tampak oleh mata saja, melainkan tentang bagaimana kau membuat dunia ini terasa lebih layak untuk ditinggali. Kau adalah alasan mengapa aku masih percaya bahwa doa-doa yang dipanjatkan di tengah malam selalu memiliki cara untuk dikabulkan.
Malam semakin larut. Rembulan mulai bergeser, mencari tempat persembunyian di balik awan. Namun bayangmu tetap tinggal, menetap di sana, di tempat yang paling sunyi sekaligus paling ramai di hatiku. Dan aku akan terus di sini, mengeja wajahmu, meski aku tahu tintaku takkan pernah cukup. Sebab menceritakanmu adalah pekerjaan abadi yang takkan pernah membuatku lelah.
Begitulah. Di hadapan rembulan, aku berhenti menjadi pengamat, dan memilih untuk menjadi pecintamu yang paling sunyi.
Komentar
Posting Komentar