Barangkali, dunia memang terlalu luas bagi sepasang mata yang hanya ingin melihat ketenangan. Orang-orang sibuk memetakan samudra, menggali perut bumi demi emas dan permata, atau membangun mahligai-mahligai tinggi dengan lampu-lampu seri yang cahayanya seolah hendak menantang rembulan. Mereka mengejar sesuatu yang megah, sesuatu yang bisa dipamerkan kepada sejarah. Namun, di sebuah sudut kota yang barangkali sedang didera senja—senja yang merahnya seperti luka yang enggan sembuh—aku menyadari bahwa kemegahan seringkali hanyalah cara lain untuk merayakan kesepian.
Di dunia yang katanya luas ini, aku tidak sedang mencari peta menuju harta karun. Aku tidak sedang mendamba istana di atas bukit yang dingin. Sebab bagiku, kemewahan bukan terletak pada apa yang bisa dilihat dari kejauhan, melainkan pada apa yang bisa kurasakan di ujung saraf jemariku.
Cukup satu hal yang kupinta: jemarimu, dalam jemariku.
Ada sebuah keajaiban yang sulit dijelaskan oleh ilmu fisika ketika dua tangan bertaut perlahan. Di sana, ada perpindahan panas yang bukan sekadar soal suhu, melainkan soal sebuah pengakuan. Tatkala tangan kita bertaut, dunia yang bising itu seolah-olah dipaksa untuk menurunkan volumenya. Jalan raya yang macet, teriakan para ambisius, dan gemeretak mesin-mesin peradaban tiba-tiba terdengar menjauh.
Bahkan angin pun, entah bagaimana, berubah menjadi lebih sopan. Ia tidak lagi menerjang dengan kasar, melainkan berbisik di antara helai rambutmu, seolah takut mengganggu sebuah ritual suci yang sedang berlangsung di antara sela-sela jari kita. Genggaman tangan adalah sebuah wilayah kedaulatan. Di dalam lingkaran genggaman itu, hukum-hukum dunia tidak lagi berlaku. Resah yang biasanya merayap seperti kabut hitam di dada, tiba-tiba menyingkir, malu-malu, lalu lenyap ditelan kehangatan telapak tanganmu.
Hati, yang biasanya serupa pengelana tanpa tujuan di padang ilalang, tiba-tiba menemukan pelabuhannya. Ia bagai perahu yang akhirnya pulang ke teluk yang teduh setelah dihantam badai di laut lepas. Tidak perlu ada kata-kata yang muluk. Dalam diam, genggaman itu telah mengatakan segalanya: “Kau sudah sampai. Kau aman di sini.”
Duhai kasihku, tahukah kau bahwa di genggaman itu, dunia yang tadinya seluas cakrawala tiba-tiba mengecil? Ia mengerucut menjadi hanya seukuran ruang di antara jemari kita. Keajaiban ini sungguh aneh sekaligus nyata. Semua persoalan politik, inflasi yang mencekik, atau kerumitan filsafat tentang eksistensi, mendadak kehilangan relevansinya. Dunia tidak lagi menakutkan karena ia telah berhasil diringkas ke dalam satu sentuhan yang sederhana.
Duka pun luruh. Ia tidak sempat menetap di pundak, tidak sempat mengendap di mata. Setiap kali kesedihan mencoba mencari celah untuk masuk, ia tertahan oleh tautan tangan kita yang kokoh namun lembut. Dan yang paling luar biasa adalah bagaimana waktu mendadak menjadi budak yang patuh. Waktu, yang biasanya mengejar kita dengan cambuk di tangan, tiba-tiba tunduk tanpa suara. Detik-detik tidak lagi terasa seperti ancaman, melainkan seperti hamparan permadani yang bisa kita tapaki perlahan-lahan, tanpa perlu terburu-buru menuju masa depan yang belum tentu ada.
Maka, biarlah mereka mengejar emas. Biarlah mereka memperebutkan mahligai. Aku telah memilih tempat bersandarku sendiri. Sebuah tempat yang barangkali tampak terlalu sederhana bagi mereka yang silau oleh cahaya lampu kota, namun terasa begitu megah bagiku yang merindukan makna. Tempat itu adalah genggaman tanganmu.
Genggaman tanganmu adalah sebuah janji yang tidak perlu ditulis di atas materai. Ia adalah sebuah kesetiaan yang mengalir lewat denyut nadi. Di sana, aku menemukan nyaman yang bukan berasal dari empuknya kasur atau dinginnya pendingin ruangan. Nyaman itu berasal dari rasa saling memiliki, rasa di mana dua jiwa memutuskan untuk berhenti berlari dan mulai berjalan beriringan.
Di genggaman tanganmu, aku menemukan tempat di mana segala cinta bermuara. Seperti sungai-sungai yang akhirnya harus menyerahkan diri kepada laut, seluruh gelisanku, seluruh rindu yang meluap-luap, dan seluruh ketakutanku akan hari esok, akhirnya berserah. Aku menyerah pada kelembutan kulitmu, pada cara jarimu mengunci jariku, dan pada ketulusan yang tak perlu dibuktikan dengan janji-janji surgawi.
Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah tentang seberapa banyak yang kita genggam, melainkan tentang tangan siapa yang kita genggam. Dan di dalam tautan tangan ini, aku telah menemukan seluruh dunia yang kubutuhkan. Di sini, cinta bukan lagi sebuah kata kerja yang melelahkan, melainkan sebuah pelukan dalam bentuk jemari yang enggan lepas.
Dunia mungkin tetap luas dan kejam di luar sana. Namun di sini, di antara jemarimu dan jemariku, segalanya sudah selesai. Segalanya sudah cukup. Dan akhirnya, aku bisa menutup mata dengan tenang, karena aku tahu, aku telah sampai di rumah.
Komentar
Posting Komentar