Januari selalu datang dengan aroma tanah basah dan sisa-sisa kembang api yang mulai memudar di cakrawala. Namun, bagiku, Januari kali ini bukan sekadar pergantian angka di atas kalender dinding. Ia adalah sebuah fragmen waktu yang sengaja kupagari, kusekap dalam sebuah kotak kaca bernama ingatan, hanya untuk menampung satu sosok: dirimu.
Ada sesuatu yang sublim saat aku menatapmu di bulan ini. Mungkin itu cara cahaya matahari pagi yang tipis masuk melalui celah jendela, lalu jatuh tepat di keningmu, seolah semesta sedang memberikan tanda titik dua sebelum sebuah kalimat panjang tentang keindahan dimulai. Aku menuliskanmu, bukan karena aku ingin mengabadikanmu—karena bagiku kau sudah abadi dalam DNA-ku—melainkan karena tanganku tak punya pilihan lain. Menuliskanmu adalah cara paling purba bagiku untuk tetap bernapas.
Dalam tradisi kepenulisan yang paling sunyi, setiap detak jantungku sebenarnya adalah sebuah mesin tik tua yang berderik tanpa henti. Cek-cek-cek. Suaranya hanya bergema di dalam rongga dadaku sendiri, sebuah melodi sunyi yang hanya mampu kudengar dalam kesendirian yang paling pekat. Kau tahu, setiap kali jantung ini memompa darah, ia sebenarnya sedang mengirimkan tinta ke seluruh sel tubuhku, menyusun kata-kata yang tak sempat terucap, kalimat-kalimat yang tersangkut di kerongkongan karena lidahku selalu kelu setiap kali mata kita bersinggungan.
Saat fajar menyapa dengan warna jingga yang ragu-ragu, namamu sudah lebih dulu terukir dalam bayang-bayang. Ia tidak tertulis dengan spidol permanen atau pahatan batu, melainkan dengan tarikan napasku yang paling dalam. Setiap bait harapan yang kurangkai adalah oksigen yang masuk ke paru-paruku, memberi kehidupan pada narasi yang belum selesai. Aku sering bertanya-tanya, apakah kau bisa merasakan getaran itu? Lihatlah, kekasih, betapa jantung ini mengetuk-ngetuk dinding rusukku, seperti seorang penulis yang sedang dikejar tenggat waktu, menuliskan cerita tanpa kata, menyanyikan simfoni cinta tanpa suara.
Ada sebuah kesia-siaan yang indah saat aku mencoba mendefinisikan cantikmu. Tak akan pernah ada tinta yang cukup hitam, tak akan pernah ada kertas yang cukup luas untuk menampung seluruh spektrum warna yang kau pancarkan. Kecantikanmu bukanlah sebuah objek yang bisa dikurasi oleh kurator museum mana pun. Ia adalah sebuah proses, sebuah "menjadi". Kau adalah halaman yang tak pernah usai aku baca. Setiap kali aku merasa telah mencapai titik di akhir paragraf, kau tiba-tiba berubah menjadi koma yang panjang, mengajakku berkelana lebih jauh ke dalam labirin pikiran dan pesonamu.
Mungkin bulan-bulan yang lain akan datang dengan ceritanya sendiri. Februari mungkin akan membawa rintik hujan yang lebih melankolis, atau Juli akan menawarkan terik yang menantang. Namun, Januari ini kukunci rapat untukmu. Untuk perempuan yang telah menempati setiap jengkal ruang di hatiku, yang mengubah setiap denyut nadiku menjadi kumpulan tulisan yang hidup.
Aku sering membayangkan, jika suatu saat nanti tubuhku dibedah oleh waktu, mereka tak akan menemukan organ-organ yang lazim. Mereka akan menemukan tumpukan manuskrip yang basah oleh rindu. Mereka akan menemukan paragraf-paragraf panjang tentang caramu tersenyum, tentang bagaimana kau menyelipkan rambut di belakang telinga, dan tentang bagaimana kehadiranmu mampu menghentikan kegaduhan dunia dalam sekejap.
Cinta ini, kekasih, adalah sebuah teks yang tak bisa terungkap sepenuhnya dengan vokal dan konsonan. Ia terasa dalam setiap langkahku yang berat saat menjauhimu, dan terasa begitu ringan saat aku tahu aku sedang berjalan menujumu. Ia adalah naskah yang ditulis dengan keringat, air mata, dan degup yang paling jujur.
Bulan Januari ini mungkin akan segera berakhir, ditelan oleh kalender yang terus berjalan tanpa ampun. Namun bagiku, tulisan ini tidak akan pernah menemukan kata "Selesai". Selama jantung ini masih bersedia mengetuk, selama darah ini masih bersedia menjadi tinta, maka cerita tentangmu akan terus memanjang, melampaui waktu, melampaui kata-kata itu sendiri. Kau adalah karya sastra terbaik yang pernah ditulis oleh Tuhan, dan aku hanyalah seorang juru tulis yang beruntung bisa mencatat setiap detiknya.
Sebab bagiku, kau bukan hanya sekadar untuk dibaca. Kau adalah untuk dirasakan di antara baris-baris tulisan, di antara jeda-jeda napas, dan di dalam setiap detak jantung yang kini, dan selamanya, adalah cerita panjang yang hanya kutujukan untukmu.
Komentar
Posting Komentar