Malam selalu punya caranya sendiri untuk menjadi panggung bagi kesunyian yang paling bising. Di sebuah sudut kota yang barangkali sedang didera gerimis, aku duduk menghadap secarik kertas. Kertas itu putih, bersih, dan tampak begitu angkuh. Aku memegang sebuah pena, namun aku memutuskan untuk tidak mengisinya dengan tinta. Sebab, bukankah kata-kata seringkali justru mengkhianati perasaan yang terlalu penuh?
Aku menulis puisi dengan cara yang barangkali akan dianggap gila oleh para redaktur sastra di koran Minggu. Aku menulis dengan mata pena yang kering. Di atas kertas itu, tidak ada noda hitam, tidak ada garis yang meliuk membentuk huruf. Namun, di sana ada sajak. Sajak yang paling indah justru karena ia tidak terikat oleh keterbatasan abjad. Ia adalah goresan tak kasat mata yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mengerti bahwa cinta, pada puncaknya, adalah sebuah keheningan yang dipahami bersama.
Di antara baris-baris yang tak terlihat itu, kadang pula kusisipkan rindu. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat dadaku sedikit sesak saat menarik napas. Rindu itu sengaja kutitipkan di sana agar kelak, ketika kau memejamkan mata, ia bisa menyelinap masuk ke dalam mimpimu. Aku ingin rindu itu menjadi bantal yang empuk bagi kepalamu yang lelah, atau menjadi selimut yang menjagamu dari gigil dini hari. Aku ingin kau menyimpannya dalam tidurmu, sebuah tempat di mana logika tidak lagi berkuasa dan kita bisa bertemu tanpa perlu janji temu yang rumit.
Malam ini, langit tampak begitu murung, seperti wajah seseorang yang menyimpan rahasia terlalu lama. Kertas yang tak sempat dilumuri kata-kata ini tidak akan kukirimkan lewat pos. Tidak akan kupotret lalu kukirim lewat aplikasi pesan singkat yang dingin. Aku lebih suka menitipkannya langsung pada langit. Biarlah angin yang menjadi kurirnya. Aku membayangkan, barangkali sajak-sajak tanpa tinta ini akan jatuh bersama hujan—runtuh satu demi satu tepat di depan jendela kamarmu. Dan itu terjadi tepat saat kau sedang cantik-cantiknya; saat rambutmu sedikit berantakan dan matamu menatap kosong ke arah kegelapan, mencari sesuatu yang kau sendiri tidak tahu apa.
Lalu, kita bicara tentang keindahan yang langka. Orang-orang mendaki puncak Gunung Gede atau merayap di lereng Semeru hanya untuk melihat Anaphalis javanica. Edelweiss Jawa. Bunga yang disebut-sebut sebagai simbol keabadian karena ia tidak pernah layu, meski sebenarnya ia hanya menolak untuk mati dengan cara yang biasa. Mereka bilang bunga itu langka, dilindungi oleh undang-undang dan penjaga hutan. Tapi bagiku, kelangkaan itu tidak perlu dicari di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.
Kutemukan kelangkaan itu di sana, di bawah alis yang melengkung sempurna, dalam bentuk yang paling murni: di antara kelopak matamu.
Setiap kali kau berkedip, aku seperti melihat ribuan kelopak bunga Anaphalis yang mekar secara bersamaan. Ada sebuah keindahan yang tidak bisa dijelaskan oleh teori botani mana pun. Itu adalah jenis keindahan yang membuat waktu seolah-olah berhenti berdetak, membuat peluru-peluru di medan perang berhenti di udara, dan membuat para penyair kehilangan kata-kata—bahkan mereka yang biasanya paling cerewet sekalipun.
Di kelopak matamu, keindahan itu hadir dalam bentuk yang sempurna. Bukan sempurna karena tanpa cela, melainkan sempurna karena ia mampu menampung segala duka dan suka dalam satu tatapan. Itulah mengapa aku menulis puisi tanpa tinta. Karena tinta apa pun, semahal apa pun, tidak akan pernah cukup untuk melukiskan bagaimana cahaya lampu jalanan memantul di sudut matamu saat kau sedang tertawa kecil.
Dunia mungkin akan terus berjalan dengan segala kegilaannya. Politik yang busuk, ekonomi yang mencekik, atau keributan-keributan tidak penting di media sosial. Namun, biarlah di atas kertas yang kosong ini, sajak-sajakku tetap mengalir. Biarlah ia tetap menjadi rahasia antara aku, kau, dan hujan yang jatuh malam ini.
Sebab pada akhirnya, yang tersisa dari hidup ini hanyalah potongan-potongan momen yang sempat kita rekam dalam ingatan. Dan bagiku, ingatan tentangmu adalah sebuah perpustakaan yang berisi buku-buku tanpa tulisan, namun setiap lembarnya mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali.
Tidurlah. Rindu yang kusisipkan tadi mungkin sudah sampai di depan pintu mimpimu. Jangan lupa membukakan pintu, karena ia sudah menempuh perjalanan jauh dari ujung penaku yang kering, melewati langit malam yang basah, hanya untuk sekadar memastikan bahwa kau baik-baik saja di sana.
Malam tetaplah malam, namun denganmu, ia selalu punya alasan untuk tidak menjadi sekadar gelap. Dan bunga Anaphalis itu, biarlah ia tetap abadi di kelopak matamu, menjadi saksi bahwa di dunia yang serba instan ini, masih ada sesuatu yang indah karena ia langka—dan masih ada puisi yang indah justru karena ia tak pernah sempat dituliskan.
Komentar
Posting Komentar