Senja selalu punya cara untuk mengingatkan kita pada hal-hal yang tidak selesai. Namun, di hadapanmu, senja bukan lagi tentang perpisahan yang pedih, melainkan tentang cahaya yang tenang, yang menandai bahwa perjalanan telah menemukan titik hentinya. Aku memilih untuk tinggal. Bukan karena dunia tiba-tiba menjadi sepi dan berhenti menawarkan wajah-wajah baru yang mungkin lebih bercahaya atau tawa yang mungkin lebih merdu. Tidak. Dunia tetap bising dengan segala kemilau godaannya, namun bagiku, kebisingan itu hanyalah latar belakang yang kabur. Hatiku telah selesai berkelana sejak namamu menetap di sana, seperti sebuah titik yang diletakkan Tuhan di akhir sebuah kalimat panjang yang melelahkan.
Mungkin kau akan bertanya, apa itu kesetiaan? Bagiku, kesetiaan bukanlah deretan janji yang diucapkan dengan suara keras di bibir, yang sering kali hanya menjadi buih lalu hilang ditelan ombak rutinitas. Kesetiaan adalah sebuah keputusan sunyi. Ia adalah sesuatu yang diputuskan di dalam ruang paling rahasia di dalam batin, dilakukan tanpa saksi, dan dipegang erat-erat justru saat segalanya sedang tidak baik-baik saja. Ia adalah jangkar yang tetap menghujam ke dasar laut saat badai rindu, rasa lelah yang menghimpit, dan jarak yang membentang kejam mencoba menguji seberapa kuat kita bertahan. Di dalam kesunyian itulah, aku memilihmu. Berkali-kali.
Aku setia bukan karena kau adalah manusia tanpa cacat yang turun dari langit-langit mimpi. Kau punya kurang, kau punya lebih, dan terkadang kau punya sisi-sisi gelap yang bahkan kau sendiri tak berani menatapnya. Namun, bukankah cinta yang sejati justru lahir dari kemampuan untuk melihat retakan itu dan memutuskan untuk tidak menutupinya dengan semen palsu? Aku belajar mencintaimu apa adanya, tanpa sedikit pun keinginan untuk menggantimu dengan sosok yang mungkin lebih "sempurna" dalam kamus orang lain. Sebab, kesempurnaan bagiku bukan tentang ketiadaan cela, melainkan tentang bagaimana kita merasa cukup di dalam ketidakcukupan itu.
Ada saatnya aku akan diam. Suatu hari nanti, mungkin kau akan mendapati aku kehilangan kata-kata, hanya menatap kosong ke arah cakrawala atau sibuk dengan pikiranku sendiri. Jangan pernah berpikir bahwa saat itu perasaanku telah pergi atau cintaku telah luntur. Justru saat aku diam, aku sedang bekerja keras. Aku sedang bertarung di dalam diri sendiri untuk memastikan cinta ini tetap utuh dan tenang. Diamku adalah cara untuk meredam gemuruh ego, untuk menata kembali serpihan-serpihan rasa yang mungkin tersenggol oleh kerasnya hidup, agar aku tidak melukaimu dengan kata-kata yang salah. Aku diam agar kita tetap punya ruang untuk bernapas.
Aku akan tetap di sini. Aku tidak menjanjikan diriku sebagai orang yang paling hebat dalam mencinta, atau pahlawan yang bisa memberikan segalanya. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki satu tekad yang barangkali keras kepala: aku tidak pernah berniat berpaling. Bagiku, cinta bukan tentang menemukan seseorang yang baru setiap kali masalah datang. Cinta bukan tentang petualangan yang tak berujung dari satu pelukan ke pelukan lainnya.
Sebab pada akhirnya, aku menyadari satu hal yang paling mendasar tentang kita. Kesetiaan bukanlah tentang siapa yang paling lama bertahan dalam kata-kata manis, melainkan tentang siapa yang tahu jalan pulang. Dan bagiku, kesetiaan adalah pulang—berkali-kali, setiap hari, setiap detik—hanya pada orang yang sama. Orang itu adalah kamu. Di dalam namamu, seluruh perjalananku telah lumat, dan di dalam matamu, aku telah menemukan rumah yang tidak perlu lagi aku cari di tempat lain.
Maka, biarlah dunia tetap berputar dengan segala tawaran-tawarannya yang megah. Aku akan tetap duduk di sini, menyesap kopi bersamamu, menatap senja yang sama, dan merayakan keputusan sunyi yang telah aku buat: untuk tidak pernah beranjak dari sisimu.
Komentar
Posting Komentar