Mencintaimu, barangkali, adalah sebuah pekerjaan paling sunyi di dunia yang bising ini. Seperti membaca sebuah buku yang halamannya terus bertambah setiap kali aku memejamkan mata. Aku mencintaimu, dan segala hal tentangmu—sebuah kalimat yang mungkin terdengar klise bagi mereka yang hanya mengenal cinta lewat layar kaca atau lirik lagu pop yang dangkal. Namun, bagiku, itu adalah sebuah maklumat yang lahir dari observasi panjang terhadap detak-detak kecil hidupmu yang tak kasatmata.
Aku mengingat caramu tersenyum di tepi pantai itu. Cahaya matahari senja yang jingga seperti tumpah di wajahmu, dan senyummu bukanlah jenis senyum yang menantang dunia. Ia adalah senyum yang tenang, yang seolah-olah berkata bahwa segala kegelisahan samudera bisa diredam hanya dengan satu tarikan napas. Di sana, di antara aroma garam dan deru ombak yang tak henti-hentinya membasahi pasir, aku menyadari bahwa cintaku bukan hanya pada dirimu, melainkan pada bagaimana semesta seolah-olah berkonspirasi untuk menjadikannya latar belakang bagi keberadaanmu yang bersahaja.
Namun, cinta tidak selalu tentang senja yang jingga atau pasir yang hangat. Aku mencintaimu pada caramu diam di tengah badai—badai yang sesungguhnya bukan berasal dari langit, melainkan dari dalam dadamu sendiri. Badai yang tak pernah kau ceritakan pada siapa pun. Kau memilih diam, sebuah diam yang pekat dan dalam, seperti sumur tua yang menyimpan rahasia berabad-abad. Aku melihatmu berdiri di sana, di tengah riuh rendah persoalan yang mengguncang dunia kecilmu, namun kau tetap tegak. Kau tidak mengeluh. Kau tidak meminta belas kasihan. Dan di dalam kesunyian yang gigil itu, aku justru merasa paling dekat denganmu. Aku mencintaimu pada setiap napas yang kau hembuskan pelan ketika dunia terlalu bising, ketika kota ini terasa seperti mesin raksasa yang ingin menelan siapa saja yang lemah. Pada saat itu, aku tahu, hatimu hanya ingin pulang. Dan aku ingin menjadi rumah itu.
Ada semacam melankoli yang indah pada caramu menikmati hujan. Kau bukan orang yang berlari mencari payung; kau adalah orang yang akan berdiri di balik jendela, membiarkan uap napasmu memburamkan kaca, sambil mendengarkan lagu-lagu yang kau simpan untuk dirimu sendiri. Lagu-lagu yang liriknya mungkin tak pernah sampai ke telinga orang lain, lagu-lagu yang menjadi latar bagi luka-luka yang kau simpan rapi.
Aku tahu tentang luka-luka itu. Luka yang kau bungkus dengan kain sutra kesabaran agar tak ada yang merasa harus menolongmu. Kau tidak ingin menjadi beban, katamu. Tapi bukankah cinta justru tentang kesediaan untuk saling memanggul beban tanpa harus merasa keberatan? Aku mencintaimu bukan hanya pada bagian-bagianmu yang utuh dan indah, yang bisa dipamerkan di bawah lampu kristal ruang tamu. Aku mencintaimu pada retak-retak yang membentukmu. Pada garis-garis patah di jiwamu yang kau anggap sebagai kekurangan, namun bagiku adalah peta menuju keaslian.
Retak-retak itu, Sayangku, adalah celah di mana cahaya bisa masuk. Segala kurangmu justru membuatku yakin bahwa cintaku tak pernah salah singgah. Cinta yang sempurna hanyalah milik mereka yang kurang imajinasi. Bagiku, mencintaimu adalah menerima bahwa kau adalah manusia yang bisa rapuh, yang bisa salah, yang bisa merasa tersesat di tengah jalan setapak yang biasa kau lalui. Justru pada ketidaksempurnaan itulah, aku menemukan alasan untuk tidak pernah pergi.
Dunia mungkin akan terus berubah. Kota ini mungkin akan semakin macet, gedung-gedung akan semakin tinggi, dan orang-orang akan semakin sibuk dengan gawai mereka masing-masing. Tapi di dalam ruang kecil yang kita bangun ini, waktu seolah-olah berhenti berdetak. Aku mencintaimu pada setiap detak kecil hidupmu—pada caramu menyeduh kopi di pagi hari, pada caramu membetulkan kerah baju yang sedikit miring, hingga pada caramu menatap kosong ke arah langit malam seolah-olah sedang menghitung bintang yang sudah mati.
Maka, jika suatu hari nanti aku kehabisan kata—jika lidahku kelu dan tintaku kering—biarlah kalimat ini yang selalu tinggal, membeku dalam waktu, menjadi prasasti di dalam batinmu: Aku mencintaimu dan segala hal tentangmu. Tanpa syarat, karena syarat hanyalah untuk kontrak dagang. Tanpa jeda, karena napas tak mengenal istirahat. Dan tanpa ingin pergi, karena sejauh apa pun aku melangkah, aku selalu menemukan bahwa jalan paling benar adalah jalan yang membawaku kembali kepadamu.
Mencintaimu adalah sebuah perjalanan yang tak memiliki garis finis. Dan aku, dengan senang hati, akan terus berjalan di sampingmu, melewati pantai yang tenang maupun badai yang membisu, hingga kita menjadi bagian dari debu bintang yang melayang di semesta yang sunyi. Karena di dalam cintamu, aku menemukan apa yang selama ini kucari: sebuah alasan untuk tetap menjadi manusia.
Komentar
Posting Komentar