Mencintaimu adalah sebuah keputusan yang lahir dari kesadaran yang dingin. Di kota yang bising ini, di mana orang-orang saling sikut demi tiket kereta atau sekadar sisa ruang di trotoar, aku memilih untuk berhenti sejenak dan melakukan sesuatu yang barangkali dianggap gila oleh logika pasar: aku memilih untuk jatuh hati padamu. Dan dalam dunia yang serba terukur, mencintaimu adalah variabel yang paling penuh risiko.
Sebelum jemariku mengetuk pintu hatimu, aku telah menarik napas panjang-panjang. Napas yang bukan sekadar urusan paru-paru, melainkan sebuah jeda sebelum terjun ke dalam jurang yang tak terlihat dasarnya. Aku sudah membayangkan skenario terburuk. Aku sudah menghafal anatomi kekecewaan, rasa perih dari penolakan, atau keheningan yang mencekam saat sebuah harapan patah di tengah jalan. Aku telah memutar film tentang kegagalan berkali-kali di kepalaku, bahkan sebelum adegan pertama kita dimulai. Namun, setelah semua simulasi penderitaan itu selesai, aku tetap melangkah. Aku telah meyakinkan diriku sendiri, dengan seluruh keyakinan yang tersisa dari sisa-sisa kegagalan masa lalu, bahwa kamu adalah pertaruhan yang layak.
Perempuan seindah kamu, bagiku, memang layak untuk diperjuangkan dengan cara yang kolosal.
Ada sebuah pepatah lama yang sering kudengar di warung kopi remang-remang, bahwa permata tidak pernah ditemukan di permukaan tanah. Ia bersembunyi di kedalaman bumi yang gelap, terjepit di antara lapisan batu purba dan tekanan yang tak terbayangkan. Mengambilnya butuh usaha yang luar biasa. Ia butuh keringat, butuh tangan yang berdarah, dan yang paling penting: ia butuh kesabaran yang tak terhitung jumlahnya. Mencintaimu adalah kerja keras seorang penambang di bawah tanah. Aku harus menggali perlahan, memastikan tidak ada yang runtuh, dan menunggu waktu yang tepat untuk melihat kilaumu.
Namun, drama tidak berhenti saat permata itu sudah di tangan. Manusia sering kali serakah atau ceroboh. Setelah mendapatkan keindahan, mereka lupa bagaimana cara merawatnya. Mereka menggenggam terlalu keras hingga retak, atau membiarkannya tergeletak hingga berdebu. Aku tidak ingin menjadi manusia seperti itu. Bagiku, memilikimu berarti belajar menjaga keseimbangan yang mustahil: menjaga agar keindahanmu tidak rusak, memastikan nilaimu tidak berkurang di mataku maupun di matamu sendiri, namun juga berhati-hati agar tidak terlalu keras menjagamu. Karena aku tahu, sesuatu yang terlalu kuat dikekang akan kehilangan jiwanya. Aku ingin kamu tetap menjadi kamu, yang bersinar karena dirimu sendiri, bukan karena aku memaksamu berkilau.
Sering kali, orang-orang bertanya tentang masa lalu. Tentang siapa yang pernah singgah, tentang siapa yang pernah memenangkan malam-malam panjangmu sebelum aku ada. Bagiku, itu semua hanyalah suara bising dari radio yang rusak. Aku tidak pernah peduli siapa yang ada di hatimu sekarang atau dengan siapa kau menghabiskan waktu di masa silam. Bagiku, masa lalumu adalah sebuah peta yang sudah terbakar. Aku tidak butuh kompas untuk menuju ke sana. Sebab, jika aku sudah jatuh hati padamu, aku hanya ingin melihat dirimu yang sekarang yaitu perempuan yang berdiri di hadapanku dengan segala luka dan tawanya yang otentik. Kamu adalah "saat ini" yang paling nyata. Kamu adalah perempuan yang membuatku harus berdoa panjang kepada Tuhan, sebuah aktivitas yang barangkali sudah jarang kulakukan di tengah sibuknya dunia.
Caraku mencintaimu mungkin sedikit berbeda, sedikit sunyi, dan mungkin sedikit kuno. Aku tidak mengincarmu dengan kata-kata manis di bawah lampu neon kota. Aku mengincarmu dalam doa-doaku. Di hadapan Tuhan, aku adalah seorang peminta-minta yang keras kepala. Aku membidikmu dalam setiap sujud, meminta Allah mempermudah langkahku untuk menikahimu. Aku tidak meminta kemenangan yang mudah, aku hanya meminta agar kita dijaga dari hal-hal yang tidak seharusnya. Aku meminta agar rute menuju dirimu tidak dipenuhi dengan tipu daya ego dan nafsu yang fana.
Aku punya tujuan yang jelas bersamamu. Dan karena tujuan itu begitu tinggi, aku sadar bahwa aku tidak bisa tetap menjadi orang yang sama. Aku terus memperbaiki diriku, setiap hari, setiap detik. Aku merapikan akhlakku, aku menata masa depanku, dan aku memperkuat pundakku. Aku melakukannya demi Allah, demi keluargaku, dan demi seseorang yang semoga saja, setelah semua perjalanan melelahkan ini adalah kamu.
Kini, aku berdiri di sini. Di sebuah titik yang barangkali tidak terlihat oleh radar orang lain. Di garis takdir yang paling tenang, aku menunggumu. Tanpa terburu-buru, tanpa paksaan. Aku membiarkan waktu bekerja dengan caranya yang misterius. Aku percaya bahwa sesuatu yang memang dituliskan untukku, tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. Di garis tenang itulah, aku berdiri menatap cakrawala, menanti kepulanganmu ke dalam pelukanku yang telah kusiapkan dengan segala risiko yang telah kuterima.
Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya soal mendapatkan, tapi soal menjadi seseorang yang layak untuk didapatkan. Dan untukmu, perempuan yang begitu indah, aku bersedia menjadi layak.
Komentar
Posting Komentar