Langsung ke konten utama

Logika yang Rebah di Altar Cinta

Mungkin, pada akhirnya, rasionalitas hanyalah sebuah bangunan megah yang didirikan di atas pasir hisap. Kita menyusun batu-batunya dengan presisi, memperkuat fondasinya dengan hukum sebab-akibat, lalu merasa aman di dalamnya. Sampai kemudian, cinta datang seperti badai sunyi yang tidak butuh izin untuk meruntuhkan segalanya.

Seno Gumira Ajidarma pernah menulis bahwa "Sepotong Senja untuk Pacarku" adalah tentang upaya memindahkan semesta ke dalam amplop. Namun, jatuh cinta lebih dari sekadar memindahkan senja; ia adalah tindakan membunuh rasionalitas berkali-kali, lalu merayakannya di atas bangkai nalar tersebut.

Lihatlah Sangkuriang. Lelaki itu bukan orang bodoh. Dia adalah pemburu yang tangkas, pemegang rahasia hutan. Namun, ketika matanya menatap Dayang Sumbi, nalar itu menguap bersama kabut pagi di perbukitan Priangan. Membangun bendungan dan perahu sebelum fajar menyingsing adalah sebuah kemustahilan yang teknis. Siapa yang waras akan mencoba membendung Citarum dengan tangan kosong dalam hitungan jam? Tidak ada. Tapi bagi Sangkuriang, logika adalah gangguan kecil dalam ambisi jantungnya. Di hadapan cinta, waktu bukan lagi garis lurus yang objektif, melainkan karet yang ditarik paksa untuk memenuhi janji yang tak masuk akal.

Lalu ada Bandung Bondowoso. Seribu candi dalam semalam. Bayangkan bunyi pahat yang beradu dengan batu di bawah rembulan, sebuah simfoni kegilaan yang dipicu oleh penolakan Roro Jonggrang. Apakah ia tahu bahwa ia sedang ditipu oleh suara lesung dan cahaya fajar palsu? Barangkali ia tahu. Barangkali, dalam kegilaannya, ia hanya ingin membuktikan bahwa bagi seorang lelaki yang sedang jatuh cinta, mukjizat hanyalah soal seberapa keras ia bersedia memeras keringat dan memanggil roh-roh dari kegelapan. Baginya, satu candi yang kurang bukan sekadar kegagalan konstruksi, melainkan sebuah kiamat kecil bagi harga diri seorang pencinta.

Dunia seringkali menuntut kita untuk menjadi makhluk berakal. Kita diajarkan untuk menghitung untung-rugi, memetakan risiko, dan menjaga diri agar tidak hancur. Namun, sejarah dan mitos lebih mencintai mereka yang hancur.

Dyah Pitaloka di Padang Bubat tidak memilih untuk menyerah pada taktik politik Gajah Mada. Ia memilih keris yang menembus jantungnya sendiri. Bukan karena ia tidak tahu cara bertahan hidup, tapi karena hidup tanpa martabat cinta adalah bentuk kematian yang lebih mengerikan. Begitu pula Shinta, yang memilih api sebagai saksi kesuciannya. Mereka adalah simbol bahwa kesetiaan seringkali menuntut nyawa sebagai maharnya. Bagi mereka, logika untuk "bertahan hidup demi masa depan" kalah telak oleh dorongan untuk "mati demi keabadian makna".

Bahkan pada makhluk yang paling berakal sekalipun—para filsuf, ilmuwan, atau penyair—cinta selalu menjadi anomali yang tak bisa diselesaikan dengan rumus. Mereka melawan semua ketidakteraturan ini dengan cara menyerah padanya.

Maka, sekarang aku mengerti.

Aku mengerti mengapa senja harus dipotong dan dimasukkan ke dalam amplop. Aku mengerti mengapa orang-orang sudi menjadi gila hanya demi satu tatapan mata. Karena sekarang, di hadapanmu, aku merasakan nalar yang selama ini kubanggakan itu mulai meluruh seperti es di bawah terik matahari.

Aku ingin mengajakmu masuk ke hatiku. Bukan sebagai tamu yang sekadar singgah untuk minum teh dan berbincang tentang cuaca, melainkan untuk membangun peradaban di sana. Sebuah peradaban yang tidak butuh hukum tata negara atau sistem ekonomi, karena satu-satunya undang-undang yang berlaku adalah caraku menatapmu saat kau tertawa.

Aku ingin menjadi saksi bagi diriku sendiri bahwa aku telah menyerah pada segala bentuk logika. Mencintaimu tanpa syarat adalah sebuah tindakan subversif terhadap kewarasan dunia. Jika dunia berkata bahwa kita harus realistis, maka aku memilih untuk menjadi seorang utopis yang percaya bahwa di antara rusukmu, aku menemukan rumah.

Aku mencintaimu sampai jiwa terlepas dari badan. Dan barangkali, cerita ini tidak akan selesai ketika napas terakhirku diembuskan. Aku akan mencarimu lagi pada kehidupan setelahnya. Mungkin aku akan menjadi angin yang mengusap rambutmu, atau menjadi aksara-aksara dalam buku yang kau baca, atau sekadar menjadi senja yang kau tatap dari jendela kamar yang sepi.

Mungkin kata-kataku ini terdengar berbelit-belit. Mungkin ini hanyalah igauan seorang lelaki yang terlalu banyak membaca prosa dan terlalu sedikit tidur. Namun, intinya sesederhana detak jantung yang tak mau diam.

Maukah kau turut menggenapkan separuh cintaku untuk selamanya?

Biarlah nalar tetap berada di luar pintu, sementara kita di dalam sini, merayakan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pengertian manusia. Mari kita menjadi tak masuk akal bersama-sama, sampai waktu sendiri merasa bosan untuk menghitung usia kita.

Komentar