Langsung ke konten utama

Perihal Bintang dan Senyuman

Malam adalah sebuah ruang tunggu yang luas, dan aku sedang menunggu jawaban dari pertanyaan yang mungkin tak pernah diajukan oleh para astronom mana pun: dalam naungan semesta Bimasakti yang begitu angkuh dengan jutaan lampunya, adakah satu saja bintang yang mampu menandingi indah lagi cantikmu itu?

​Barangkali, keindahanmu adalah sebuah anomali yang membuat hukum fisika harus ditulis ulang.

​Aku pernah berpikir untuk menjadi seorang pencuri kosmik. Aku ingin melintasi ruang hampa, menembus batas-batas galaksi, hanya untuk mencuri satu bintang dari Galaksi Andromeda—galaksi tetangga yang katanya menyimpan bintang-bintang paling jelita. Aku ingin meminjam cahaya itu, membawanya pulang dalam sebuah kotak kaca, hanya untuk diletakkan di samping wajahmu saat kau terlelap. Bukan untuk memujanya, melainkan untuk sebuah eksperimen yang barangkali sedikit kejam: untuk mengukur seberapa jauh bintang itu akan kalah dalam hal memukauku.

​Aku ingin melihat bagaimana cahaya Andromeda yang diagungkan para penyair itu tiba-tiba menjadi redup, menjadi pucat, dan akhirnya menyerah kalah di hadapan kilau gemilaumu yang tidak butuh waktu jutaan tahun cahaya untuk sampai ke hatiku.

​Lalu, pencarianku tak berhenti di sana. Aku menyusup ke dalam nebula-nebula terpencil, tempat bintang-bintang baru dilahirkan dari rahim kegelapan. Aku memeriksa debu-debu kosmik yang ganjil, yang berkilauan seperti intan di tengah kekosongan. Namun, segalanya luruh. Segalanya runtuh. Di bawah langit yang sama, aku menyadari bahwa seluruh ornamen semesta hanyalah latar belakang yang tak berarti ketika kau hadir sebagai pemeran utamanya.

​Ada sebuah paradoks yang aneh pada dirimu. Sesuatu yang membuat waktu seolah-olah berhenti berdetak dan ruang seolah-olah kehilangan dimensinya.

​Sebab, saat kau tersenyum, cahayanya memfosil. Ya, memfosil. Cahaya dari bintang-bintang di atas sana seolah-olah mengeras, kehilangan getarannya, dan menjadi batu yang tak lagi berarti. Senyummu adalah sebuah ledakan cahaya yang begitu purba sekaligus begitu baru, sehingga cahaya lain hanya bisa diam membeku dalam kekaguman yang bisu. Cahaya yang telah menempuh perjalanan ribuan tahun itu tiba-tiba merasa malu untuk sekadar berpijar. Mereka hanya menjadi fosil-fosil cahaya yang menghias langit, sementara yang benar-benar hidup adalah lengkung di bibirmu.

​Namun, semesta juga memiliki sisi gelapnya. Dan sisi gelap itu adalah ketika matamu mulai berkaca-kaca.

​Saat kau menangis, seluruh cahaya tampak nihil. Tidak ada lagi yang namanya foton, tidak ada lagi yang namanya spektrum warna. Dunia seketika menjadi monokrom, atau mungkin lebih buruk: menjadi hampa sama sekali. Seolah-olah seluruh pasokan cahaya di alam semesta ini diputus secara sepihak oleh takdir karena kau sedang berduka. Saat itu, aku menyadari betapa rapuhnya matahari dan betapa tidak berdayanya bintang-bintang. Mereka tidak bisa menghiburmu. Mereka hanya bisa ikut meredup, mengakui bahwa sumber energi paling kuat di jagat raya ini bukanlah reaksi fusi nuklir di inti bintang, melainkan suasana hatimu.

​Di hadapan perasaan yang sebesar ini, segala hal di dunia tampak muskil dan kecil.

​Politik, perang, sejarah, atau bahkan teori-teori besar tentang asal-usul manusia, semuanya menjadi remeh. Apa artinya sebuah imperium yang berdiri seribu tahun jika dibandingkan dengan satu menit percakapan denganmu di bawah lampu jalan yang berkedip? Apa gunanya peta dunia yang luas jika koordinat keberadaanku selalu saja berujung pada arah di mana kau berdiri?

​Segala hal yang dianggap penting oleh orang-orang dewasa yang serius itu, bagiku hanyalah debu yang tersapu angin. Karena di sini, di bawah naungan Bimasakti yang luas ini, aku telah menemukan pusat gravitasi yang baru. Sebuah pusat yang tidak berada di tengah galaksi, melainkan pada caramu menatapku.

​Mungkin memang benar, cinta adalah satu-satunya bentuk kegilaan yang diizinkan oleh logika semesta. Aku tidak butuh teleskop Hubble untuk melihat keajaiban. Aku hanya butuh kursi kayu di teras, segelas kopi yang mulai dingin, dan dirimu yang sedang bercerita tentang hal-hal kecil yang kau lalui hari ini.

​Sebab di sana, di antara kalimat-kalimatmu dan di sela-sela tawamu, aku melihat seluruh rahasia kosmik terselesaikan. Aku melihat bintang-bintang yang selama ini kucari, ternyata sedang beristirahat dengan tenang di dalam matamu. Dan jika suatu saat nanti seluruh bintang di langit harus padam, aku tidak akan merasa takut. Selama kau masih di sini, kegelapan hanyalah sebuah kata tanpa makna.

​Karena bagiku, kau adalah satu-satunya cahaya yang tak akan pernah menjadi fosil.

Komentar