Langsung ke konten utama

Di Bawah Naungan Api yang Tak Kunjung Padam

Aku mencintai mu.

Tiga kata itu barangkali terdengar purba, usang, atau mungkin terlalu sering diucapkan hingga kehilangan magisnya di telinga dunia. Namun bagiku, ia adalah sebuah rahasia yang telah lama kusekap dalam sebuah bilik gelap di relung jiwa; sebuah perasaan yang telah lama terpenjara, berdesakan dengan sunyi dan rindu yang tak sempat terucap. Hari ini, kekasih, jeruji itu kupatahkan. Aku ingin mengungkapkannya tanpa sisa, membiarkan setiap hurufnya mengalir seperti air bah yang meruntuhkan bendungan kesabaranku selama ini.

Telah kurawat perasaan agung ini dengan ketelatenan seorang pengrajin yang menjaga api tungkunya agar tidak mati oleh embusan angin malam. Sudah sangat lama aku berdiri di ambang pintu hatimu, hanya berani mengintip melalui celah kecil, memastikan bahwa cahaya di sana masih tetap hangat. Aku telah menjaga rasa ini melampaui musim-musim yang berganti, merawatnya di tengah badai keraguan dan menyiraminya dengan doa-doa yang paling sunyi. Bagiku, mencintaimu bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan yang mendarat tepat di titik paling rapuh dalam eksistensiku.

Namun, aku sadar, setiap pengakuan membawa risiko keruntuhan. Di balik keberanianku hari ini, ada bayang-bayang kehancuran yang mengintai. Andai setelah pengakuan ini kau memutuskan untuk menghancurkan hatiku, maka biarlah ia hancur. Aku tidak akan memunguti kepingannya dengan air mata penyesalan. Justru, biarkan setiap serpihannya jatuh ke tanah batin yang subur, lalu tumbuh menjadi rasa cinta yang lebih pekat, lebih kental, dan lebih berani daripada sebelumnya. Biarkan rasa sakit itu menjadi pupuk bagi sebuah pengabdian yang lebih dalam. Sebab, bagiku, kau bukanlah sekadar persinggahan, melainkan tujuan akhir dari segala pencarian yang melelahkan.

Rasa yang kini kurasakan bukan lagi sekadar percikan kecil yang bisa dipadamkan oleh rintik hujan melankoli. Ia telah lama berkobar menjadi api yang tak kunjung padam. Ia adalah satu-satunya cahaya yang menyinari labirin hidupku yang seringkali gelap dan membingungkan. Aku bersedia berjalan di tengah kobaran itu. Meskipun aku harus terbakar, meskipun raga ini harus lumat oleh panasnya intensitas perasaan ini, aku tidak akan mundur. Biarkan setiap bulir abuku terbang, terbawa angin kosmik, lalu melekat erat di setiap tubuh bintang-bintang di langit raya. Agar setiap kali kau menengadah ke langit malam, kau akan melihat jejak-jejak cintaku yang berpendar di sana—abadi dan tak terjangkau oleh waktu.

Aku mencintaimu, kekasih, dengan segala dualitas yang menghidupiku. Aku mencintaimu dengan segala kelemahanku—tangan yang gemetar saat menuliskan surat ini, suara yang parau saat menyebut namamu, dan pikiran yang seringkali tersesat dalam lamunan tentangmu. Namun, aku juga mencintaimu dengan segala kekuatanku—sebuah tekad yang mampu meruntuhkan gunung ego, sebuah kesetiaan yang tak luntur oleh godaan dunia, dan sebuah keberanian untuk tetap berdiri di sampingmu meski badai datang menghantam.

Hatiku mungkin saat ini sedang dicekam ketakutan. Takut akan penolakan, takut akan kehilangan, takut akan keheningan yang mungkin mengikutinya. Namun, di saat yang sama, ia juga sangat berani. Keberanian ini lahir dari sebuah keyakinan bahwa perasaan yang sejati tidak membutuhkan jaminan keamanan. Ia hanya membutuhkan kejujuran. Aku memilih untuk jujur padamu, pada diriku sendiri, dan pada semesta yang telah menjadi saksi bisu atas pertumbuhanku dalam mencintaimu.

Cintaku padamu adalah sebuah narasi yang tak pernah mati. Ia adalah sebuah kitab yang halamannya tak akan pernah habis dibaca, sebuah simfoni yang nadanya tak akan pernah usai berdenting. Ia akan terus hidup, bahkan di tengah puing-puing kehancuran sekalipun. Jika dunia ini harus berakhir dan segala sesuatu harus kembali menjadi ketiadaan, cintaku akan tetap tersisa sebagai sebuah getaran di udara—sebuah pengingat bahwa pernah ada seseorang yang mencintaimu dengan sebegitu hebatnya, sebegitu tulusnya, dan sebegitu dalamnya.

Maka, inilah aku. Tanpa topeng, tanpa sisa. Aku menyerahkan seluruh rasaku di hadapanmu. Bukan untuk meminta balas, bukan untuk menuntut kepastian, tapi semata-mata karena aku tak sanggup lagi memikul beban keindahan ini sendirian. Aku mencintaimu, sungguh, sangat mencintaimu. Selebihnya, biarlah takdir yang menenun sisa cerita kita di atas kanvas kehidupan yang masih misterius ini.

Kita mungkin hanyalah dua titik kecil di tengah semesta yang mahaluas, namun di dalam cintaku padamu, aku menemukan seluruh jagat raya. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup.

Komentar