Pelukan pada Pecahan Waktu
Malam sering kali menjelma labirin tak berujung, tempat di mana waktu merayap seperti siput yang tersesat dalam kebisuan yang pekat. Bagi jiwa-jiwa yang bising di dalam, malam bukanlah selimut untuk mengistirahatkan raga, melainkan panggung di mana ingatan dan kecemasan menari bergantian. Ada masa-masa di mana pendulum perasaanku berayun begitu liar, tak kenal kompromi. Pada pukul tiga dini hari, dada ini bisa saja terasa penuh oleh keriangan yang ganjil, sebuah letupan sementara sebelum akhirnya jatuh membentur realita. Namun, manakala jarum jam merangkak menuju angka lima dan ufuk mulai bersemburat kelabu, kekosongan itu kembali merayap, menelan segala sisa pendar. Hidup, pada detik-detik yang menyiksa itu, tak ubahnya sebuah siklus purba yang melelahkan. Seperti bumi yang tak punya pilihan selain terus berputar pada porosnya, diriku pun terombang-ambing antara riuh dan senyap, antara gundah yang memberatkan napas dan duka yang datang tanpa pernah mengetuk pintu. Aku muak, tentu saja...