Menakar Harap Secukup Pagi
Pagi merayap masuk melalui celah tirai, membawa serta aroma tanah basah sisa gerimis semalam dan udara dingin yang perlahan menghapus jejak kelam. Di dapur yang masih setengah gelap, aku berdiri di depan kompor, membiarkan bunyi air yang mendidih dalam ceret tembaga memecah keheningan. Ini adalah ritual harianku; sebuah upaya keras kepala untuk menarik kesadaranku kembali ke bumi, setelah semalaman penuh kepalaku berubah menjadi galaksi yang riuh.
Semalam, tanpa diundang, ribuan kemungkinan dan angan-angan berpendar terlalu terang di pelupuk mataku saat terpejam. Mereka menjelma menjadi lautan konstelasi yang megah namun menindas. Ada mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk diwadahi sepasang tangan, ada pula penyesalan yang bergelayut bagai kabut pekat. Semuanya berebut ruang, menuntut untuk diwujudkan, ditangisi, atau sekadar diratapi. Namun, saat uap kopi tubruk pertama kali mengepul di udara, berpadu dengan wangi pekat biji robusta yang diseduh, kehidupan seolah menepuk bahuku dengan lembut namun tegas.
Ia membisikkan sebuah peringatan purba: kau tak bisa menggendong seluruh malam untuk dibawa ke bawah terik matahari.
Aku menuangkan air panas itu perlahan, melihat ampas kopi berputar sebelum akhirnya mengendap di dasar cangkir porselen putih. Begitulah seharusnya kita memperlakukan riuhnya isi kepala. Dari ribuan kerlip angan yang membombardir kesadaran tadi malam, hidup memaksaku untuk menyortirnya dengan kejam pagi ini. Aku harus merelakan sebagian besar dari mereka menguap bersama embun. Hanya ada ruang untuk satu saja. Satu pijakan paling nyata, satu alasan paling esensial yang membuatku tetap waras dan mengenali diriku sendiri di depan cermin. Sisanya? Biarkan mereka luruh dan kembali menjadi rahasia semesta.
Sebab, hari ini adalah panggung yang terlalu berharga untuk dilewatkan hanya karena kita sibuk menengok ke belakang atau terlalu cemas mengintip masa depan. Berjalanlah dengan telapak kaki yang benar-benar menjejak lantai ubin yang dingin ini. Rasakan kasar permukaannya. Hirup udara paginya. Jangan biarkan detik demi detik hari ini lolos dari genggaman bagai butir pasir, hanya karena pikiran kita sedang mengembara ke tempat yang tidak nyata.
Aku menarik kursi kayu di meja makan, duduk menghadap sepotong roti tawar gandum yang baru saja keluar dari pemanggang. Warnanya kecokelatan, sedikit hangus di bagian tepi. Aku mengoleskan mentega tipis-tipis, membiarkannya meleleh oleh suhu panas. Di meja makan yang sepi ini, aku belajar tentang seni menakar.
Banyak dari kita yang jatuh sakit bukan karena kurang gizi, melainkan karena terlalu rakus menelan ekspektasi. Kita sering kali menyuapkan porsi harapan yang terlalu besar ke dalam mulut jiwa kita, membayangkan bahwa kenyang oleh angan-angan akan membawa kebahagiaan paripurna. Padahal, lambung kita—sebagaimana halnya batin kita—memiliki batas toleransi.
Menelan terlalu banyak tuntutan, memaksakan terlalu banyak skenario sempurna tentang bagaimana hidup ini seharusnya berjalan, hanya akan membuat kita tersedak. Dan pada akhirnya, segala ekspektasi yang menumpuk berlebihan itu tidak akan menjadi energi. Alih-alih menguatkan, tumpukan harapan yang tak kunjung mewujud itu akan terperangkap di dalam dada, berubah menjadi asam yang menggerogoti dinding kewarasan. Mereka membusuk di dalam, menyebarkan aroma keputusasaan, dan membuat langkah kita terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya.
Maka, kukunyah roti gandumku perlahan. Rasanya tawar, namun ada jejak gurih yang tertinggal. Cukup. Semuanya terasa cukup. Aku menyesap kopiku yang pahit, membiarkan kehangatannya mengalir melewati kerongkongan, membangunkan sisa-sisa sel tubuh yang masih tertidur.
Hari ini, aku memilih untuk makan secukupnya, berharap sewajarnya, dan hidup sepenuhnya. Aku meninggalkan lautan bintang itu di belakang punggungku, melangkah keluar pintu, dan menyambut matahari dengan perut dan dada yang terasa ringan.
Komentar
Posting Komentar