Doa Sederhana di Hari Lahirmu

Untuk kekasih ku, Nadha Khoirina, di bawah langit yang sama.

Di kota yang terus bergegas ini, di mana waktu mengalir seperti sungai yang tak pernah bersedia untuk tidur, ada satu hari di mana aku selalu ingin menghentikan segalanya sejenak. Hari ini, udara berembus dengan cara yang berbeda. Ada semacam rahasia yang dibisikkan angin kepada dedaunan yang gemetar di ujung ranting, tentang sebuah perayaan yang tak kasat mata namun menggetarkan dada. Nadha, hari ini harap demi harap dilangitkan kembali, merobek awan-awan yang paling murung, dan semoga demi semoga diucapkan dengan lantang oleh semua penduduk bumi yang menyayangimu. Seolah-olah, hari ini, seluruh semesta sedang berkonspirasi untuk mengukir senyum di wajahmu.

Aku sering merenung, di antara miliaran cerita manusia yang berlalu-lalang di bumi yang lelah ini, bagaimana mungkin garis nasib kita bisa bersinggungan? Jawabannya selalu sama: engkau terlahir sebagai manusia yang ceritanya dirangkai dengan sangat hebat, dengan begitu teliti, oleh Sang Penulis semesta. Di tengah riuh rendah dunia yang seringkali kehilangan arah, aku menemukan diriku bersyukur dengan teramat sangat atas dihadirkannya engkau di waktu yang tak terduga. Waktu, yang tadinya hanya sekadar detak yang mekanis pada jarum jam, tiba-tiba memiliki nyawa semenjak kau melangkah masuk. Nadha, kau sungguh tertulis indah, dengan tinta emas yang tak akan pernah pudar, di halaman paling menyenangkan dalam buku kehidupanku. Sebuah bab di mana aku ingin tinggal berlama-lama dan tak pernah ingin kulihat halaman akhirnya.

Terkadang aku masih tersenyum sendiri mengingatnya. Senang rasanya, sungguh teramat senang, mengenal manusia penuh kejutan sepertimu. Engkau bukanlah puisi diam yang hanya mematung indah di dalam buku. Engkau adalah karnaval kehidupan itu sendiri. Aku sering mendapati diriku dibuat tertawa lepas oleh tingkahmu yang tak terduga, lalu di detik berikutnya, dibuat kesal bukan main dengan seribu keusilanmu yang tak pernah kehabisan akal. Namun, tahukah kamu? Bahkan dalam kekesalan yang pura-pura itu, cintaku tak pernah sudi menyusut barang satu milimeter pun. Keusilanmu adalah keajaiban kecil yang membuat hidup yang banal ini terasa jauh dari kata membosankan.

Hari ini, usiamu bertambah. Apa kau mendengarkannya, Nadha? Kata "semoga" kuucapkan jauh lebih keras dari biasanya, kubiarkan ia membelah angin, agar dunia juga dapat mendengarnya. Sebab aku ingin semua penduduk bumi dari pejalan kaki di trotoar hingga burung-burung yang hinggap di tiang listrik harus tahu bahwa manusia yang paling baik yang pernah kutemui ini sedang merayakan hari lahirnya. Jika kau mau melongok ke luar jendela, kau akan menyadari bahwa alam pun bersenandung ria. Ia dipimpin oleh matahari yang pagi ini sengaja menyorotkan cahayanya yang paling puitis, paling indah, dengan bentuk bulat sempurna menyambut jiwamu yang sedang bertambah matang. Lihatlah, bahkan alam pun ikut serta merayakan perayaan hari baikmu, menari bersamamu dalam diam.

Tentu saja, perayaan ini tak akan pernah berhenti sampai di sini, pada pergantian tanggal yang singkat ini. Karena bagiku, setiap hari bersamamu adalah hari yang pantas kurayakan. Setiap keberadaanmu adalah festival.

Lalu, di antara keriuhan semesta yang menyambutmu, ada satu permohonan yang ku genggam erat-erat. Sebuah doa yang dipanjatkan paling akhir, paling sunyi, di kedalaman palung hatiku. Ketika beribu semoga dari orang-orang bertarung dan terbang di udara, aku menitipkan satu kata: “kita”. Aku menitipkan pesan tentang semoga kita bisa terus mengudara, melawan gravitasi keputusasaan, menciptakan benih-benih kebahagiaan dalam rangkulan kasih yang selalu mengusahakan kata “saling”. Saling menjaga, saling menatap, dan saling merawat kewarasan di dunia yang seringkali terlampau gila.

Maka, bertumbuhlah sebagaimana mestinya, Sayang. Perjalanan di bumi ini masih sangat panjang, dan barangkali di depan sana akan ada jalanan berbatu atau hujan badai yang tak pernah tercatat di prakiraan cuaca. Namun, satu pintaku padamu: tolong temui aku di pijakan bumi mana pun, ya? Di stasiun kereta yang bising, di persimpangan jalan yang sepi, atau di sudut kota mana saja asalkan ada kau. Temui aku, agar kau tak pernah mendekap lelah itu sendirian. Sebab kau juga mempunyai aku; sepasang lengan yang diciptakan untuk merangkul semua bentuk cerita, baik yang terang maupun yang remang, yang akan kau lalui nanti.

Nadha Khoirina, kekasihku. Terima kasih telah memilih terlahir sebagai manusia yang mencintai aku. Terima kasih telah berani menjadi sosok hebat, sosok tak terduga yang membawa gerbong penuh kebahagiaan ke dalam stasiun hidupku. Dan yang paling penting, terima kasih telah mengisi segala ruang-ruang rumpang yang selama ini menganga diam di dalam diriku.

Sekali lagi, selamat bertambah usia, Sayang. Semoga semua penduduk bumi dan alam semesta senantiasa merayakanmu dengan penuh suka cita, hari ini, esok, dan di ribuan senja yang akan kita lalui bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu