Mekar di Runtuhan Rencana
Aroma tanah basah setelah hujan di penghujung Maret selalu memiliki cara klandestin untuk menyeret ingatanku mundur pada sebuah buku catatan bersampul kulit kusam. Dulu, di lembar-lembar bernapas apek itu, aku pernah menata hidup layaknya seorang arsitek angkuh yang menggambar cetak biru sebuah katedral agung. Aku merancang linimasa dengan presisi yang hampir menakutkan: lima, sepuluh, lima belas, hingga dua puluh tahun ke depan. Tinta hitamnya menggoreskan kepastian tentang di titik koordinat mana aku harus berdiri kelak, udara seperti apa yang pantas kuhirup, hingga detail-detail banal tentang rutinitas pagi yang akan kujalani. Semuanya tertulis rapat, rapi, tanpa menyisakan ruang bernapas untuk sebuah koma yang salah tempat atau takdir yang melenceng. Pada masa itu, aku memandang realitas yang tengah kuhidupi hanyalah sebuah ruang tunggu yang pengap. Sebuah persinggahan sementara yang tak pantas mendapatkan koper yang terbuka penuh, apalagi hati yang menetap. Aku melabeli fase itu s...