Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Lampu meja berkekuatan empat puluh watt itu memendarkan cahaya kuning temaram, menyiram sudut kamar yang senyap. Di luar, gerimis tipis menyapu kaca jendela, menyisakan jejak-jejak air yang meluncur lambat seperti air mata yang enggan jatuh. Di ruangan ini, waktu seolah melambat, patuh pada ketukan jarum jam dinding yang berdetak malas. Kau duduk di sana, menyandarkan punggung pada tumpukan bantal beludru hangat. Rambutmu yang sedikit berantakan dibiarkan jatuh bebas di bahu. Di pangkuanmu, bukan novel roman picisan yang jamak ditemukan di meja rias, melainkan tumpukan kertas berserakan dan beberapa buku tebal beraroma kertas tua—aroma khas yang selalu mengingatkan kita pada perpustakaan sunyi di sudut kota yang menyimpan rahasia dunia. Malam yang merayap menuju sepertiga akhir ini semestinya tidak direduksi menjadi sekadar ruang sunyi untuk menutup mata. Jam-jam hening seperti ini adalah waktu yang terlalu sakral jika hanya dihabiskan untuk melamunkan kesunyian. Ia semestinya diisi ol...

Doa Kecil untuk Mu

Gerimis selalu punya cara tersendiri untuk melarutkan warna langit menjadi abu-abu yang intim. Di balik jendela kaca yang berembun, aku memperhatikan cangkir kopimu yang masih menyisakan lingkaran hitam tipis di dasarnya—jejak dari pagimu yang terburu-buru. Di titik-titik sunyi seperti inilah, ketika riuh dunia mereda dan yang tersisa hanyalah detak jam dinding yang monoton, aku menemukan diriku kembali melakukan ritual yang barangkali terdengar ganjil bagi orang luar: aku melangitkan doa-doa kecil untukmu. Bukan doa tentang keabadian yang muluk-muluk, bukan pula permohonan agar nama kita dipahat di atas bintang-bintang yang kelak akan mati. Langit sudah terlalu penuh dengan proposal manusia yang ambisius. Maka, aku memilih untuk menyelundupkan permohonan-permohonan sederhana, yang saking remehnya, mungkin akan membuat para malaikat tersenyum geli saat mencatatnya. Pertama-tama, aku selalu memohon dengan sungguh-sungguh: semoga kelingking kakimu yang manis itu dijauhkan dari tragedi be...

Malam yang Turun Tanpa Suara

Pintu kayu itu berderit pelan, menyisakan bunyi klik yang solid saat kunci kupisahkan dari slotnya. Di luar sana, Tulungagung, Malang, Surabaya—atau kota mana pun yang memilih untuk mengutuk dirinya sendiri agar tak pernah tidur—masih menyisakan dengung klakson, derit aspal, dan sisa-sisa amarah yang menggantung di udara tipis. Hari ini bising. Terlalu bising untuk dimengerti. Pikiran-pikiran manusia yang saling bertubrukan di gerbong kereta, ego yang berebut ruang di koridor kantor, hingga kecemasan yang mendesis di layar ponsel pintar. Semua itu bagai partikel debu yang berebut masuk ke dalam paru-paru. Namun, di dalam ruangan berukuran empat kali empat ini, segalanya mendadak melambat. Tuhan, terima kasih karena tetap membiarkanku pulang dengan utuh setelah hari-hari yang kadang terlalu bising untuk dimengerti. Kata "utuh" malam ini terasa begitu mahal. Menjadi utuh bukan sekadar lengan dan kaki yang masih lengkap menempel pada tubuh, melainkan jiwa yang tidak tercecer di ...