Lampu meja berkekuatan empat puluh watt itu memendarkan cahaya kuning temaram, menyiram sudut kamar yang senyap. Di luar, gerimis tipis menyapu kaca jendela, menyisakan jejak-jejak air yang meluncur lambat seperti air mata yang enggan jatuh. Di ruangan ini, waktu seolah melambat, patuh pada ketukan jarum jam dinding yang berdetak malas. Kau duduk di sana, menyandarkan punggung pada tumpukan bantal beludru hangat. Rambutmu yang sedikit berantakan dibiarkan jatuh bebas di bahu. Di pangkuanmu, bukan novel roman picisan yang jamak ditemukan di meja rias, melainkan tumpukan kertas berserakan dan beberapa buku tebal beraroma kertas tua—aroma khas yang selalu mengingatkan kita pada perpustakaan sunyi di sudut kota yang menyimpan rahasia dunia. Malam yang merayap menuju sepertiga akhir ini semestinya tidak direduksi menjadi sekadar ruang sunyi untuk menutup mata. Jam-jam hening seperti ini adalah waktu yang terlalu sakral jika hanya dihabiskan untuk melamunkan kesunyian. Ia semestinya diisi ol...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"