Pintu kayu itu berderit pelan, menyisakan bunyi klik yang solid saat kunci kupisahkan dari slotnya. Di luar sana, Tulungagung, Malang, Surabaya—atau kota mana pun yang memilih untuk mengutuk dirinya sendiri agar tak pernah tidur—masih menyisakan dengung klakson, derit aspal, dan sisa-sisa amarah yang menggantung di udara tipis. Hari ini bising. Terlalu bising untuk dimengerti. Pikiran-pikiran manusia yang saling bertubrukan di gerbong kereta, ego yang berebut ruang di koridor kantor, hingga kecemasan yang mendesis di layar ponsel pintar. Semua itu bagai partikel debu yang berebut masuk ke dalam paru-paru.
Namun, di dalam ruangan berukuran empat kali empat ini, segalanya mendadak melambat.
Tuhan, terima kasih karena tetap membiarkanku pulang dengan utuh setelah hari-hari yang kadang terlalu bising untuk dimengerti.
Kata "utuh" malam ini terasa begitu mahal. Menjadi utuh bukan sekadar lengan dan kaki yang masih lengkap menempel pada tubuh, melainkan jiwa yang tidak tercecer di antara tumpukan dokumen, atau hati yang tidak retak oleh kata-kata tajam yang terlontar tanpa kurasi. Aku meletakkan tas jinjingku di atas kursi rotan tua yang selalu setia menunggu di sudut ruangan. Kursi itu, seperti halnya sudut sunyi ini, adalah saksi bisu dari kepulangan-kepulangan yang melelahkan.
Aku melangkah ke dapur kecil. Mengambil cangkir keramik berwarna kelabu yang permukaannya mulai retak seribu—retakan alami yang justru membuatnya tampak lebih jujur. Di bawah siraman air hangat yang membasuh sendok, aku menakar kopi. Dua sendok bubuk kopi arabika, tanpa gula. Aku menyukai pahit yang jujur daripada manis yang berpura-pura. Saat air mendidih menyentuh bubuk hitam itu, aroma tanah basah dan buah matang segera menguar, memenuhi udara kosong, mengusir sisa-sisa bau polusi yang sempat menempel di ujung jaket.
Di tengah hidup yang terus bergerak seperti kota yang tak pernah benar-benar tidur, Engkau masih menyisakan ruang kecil tempat aku bisa duduk tenang, menyesap kopi hangat, lalu menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang diam-diam Kau selamatkan tanpa pernah sempat kusadari.
Sembari menyesap cairan hitam yang mengepulkan uap tipis itu, aku membiarkan pandanganku menerawang ke luar jendela kaca. Di bawah sana, lampu-lampu jalanan tampak seperti kunang-kunang raksasa yang terjebak dalam jaring laba-laba raksasa bernama modernitas. Aku teringat kejadian siang tadi. Sebuah truk kontainer yang mendadak mengerem mendadak tepat beberapa meter di depan motorku. Atau saat aku hampir saja salah mengirimkan dokumen krusial yang bisa saja menghancurkan reputasi yang kubangun bertahun-tahun. Kejadian-kejadian mikro itu lewat begitu saja, dianggap sebagai "keberuntungan biasa" oleh dunia yang serbacepat.
Namun, di hadapan cangkir kopi yang mulai mendingin ini, aku tahu itu bukan sekadar keberuntungan.
Ada tangan tak terlihat yang menahan laju bahaya. Ada skenario sunyi yang ditulis-Nya untuk melindungiku dari kebodohanku sendiri. Kita sering kali mendefinisikan penyelamatan Tuhan dalam skala yang megah: kesembuhan dari penyakit mematikan, promosi jabatan yang tak terduga, atau kelolosan dari bencana besar. Kita lupa bahwa Tuhan juga bekerja dalam detail-detail yang sangat sunyi. Dia menyelamatkan kita dari pertemuan dengan orang yang salah, menghindarkan kita dari kata-kata buruk yang hampir kita ucapkan, atau sesederhana memberi kita ruang untuk bernapas saat dada terasa sesak oleh kecemasan yang tak bernama.
Dan mungkin benar, sebagian nikmat terbesar memang tidak datang dengan gemuruh, melainkan hadir pelan-pelan, seperti malam yang turun tanpa suara, namun berhasil menenangkan seluruh isi kepala.
Aku pernah menulis tentang bagaimana masa lalu dan kenangan kerap kali bersembunyi di balik aroma makanan atau sudut-sudut rumah yang berdebu. Malam ini, rasa syukur itu datang seperti bau hujan yang pertama kali menyentuh tanah kering—lembut, menenangkan, dan membawa pulang ingatan akan kesejatian diri. Aku tidak perlu menjadi siapa-siapa di ruangan ini. Aku tidak perlu mengenakan topeng profesionalisme yang melelahkan, tidak perlu menyusun kalimat-kalimat diplomatis untuk menyenangkan hati atasan. Di hadapan kesunyian ini, aku adalah aku: seonggok daging dan jiwa yang ringkih, yang baru saja diselamatkan dari rimba raya bernama dunia luar.
Kopi di cangkirku kini tinggal separuh. Kehangatannya merambat dari telapak tangan, menjalar ke lengan, lalu menetap di dada. Di luar, riuh kota perlahan melesap, kalah oleh malam yang semakin pekat. Langit malam yang hitam tanpa bintang seolah menjadi selimut besar yang diletakkan-Nya dengan sangat hati-hati di atas bumi yang lelah.
Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan keheningan menginvasi setiap sudut pikiran yang tadinya penuh dengan angka, tenggat waktu, dan percakapan tanpa makna. Menyadari bahwa hidup ini, dengan segala kerumitan dan kebisingannya, masih menyisakan ruang bagi jiwa untuk pulang. Dan kepulangan yang utuh adalah bentuk mukjizat paling intim yang sering kali kita lewatkan tanpa sempat mengucapkan terima kasih.
Malam telah turun sepenuhnya. Tanpa suara, tanpa gemuruh. Namun, di dalam dada ini, ada kelegaan yang luar biasa lapang. Sebuah kesadaran sunyi bahwa esok hari, apa pun yang terjadi di luar sana, aku akan selalu memiliki ruang ini—dan Dia yang selalu menjagaku dalam diam.
Komentar
Posting Komentar