Gerimis selalu punya cara tersendiri untuk melarutkan warna langit menjadi abu-abu yang intim. Di balik jendela kaca yang berembun, aku memperhatikan cangkir kopimu yang masih menyisakan lingkaran hitam tipis di dasarnya—jejak dari pagimu yang terburu-buru. Di titik-titik sunyi seperti inilah, ketika riuh dunia mereda dan yang tersisa hanyalah detak jam dinding yang monoton, aku menemukan diriku kembali melakukan ritual yang barangkali terdengar ganjil bagi orang luar: aku melangitkan doa-doa kecil untukmu.
Bukan doa tentang keabadian yang muluk-muluk, bukan pula permohonan agar nama kita dipahat di atas bintang-bintang yang kelak akan mati. Langit sudah terlalu penuh dengan proposal manusia yang ambisius. Maka, aku memilih untuk menyelundupkan permohonan-permohonan sederhana, yang saking remehnya, mungkin akan membuat para malaikat tersenyum geli saat mencatatnya.
Pertama-tama, aku selalu memohon dengan sungguh-sungguh: semoga kelingking kakimu yang manis itu dijauhkan dari tragedi beradu dengan sudut meja.
Aku tahu betapa rumah kita—atau kedai-kedai kopi yang sering kau kunjungi dengan langkah setengah melamun—penuh dengan ranjau-ranjau kayu berkaki runcing. Sudut meja jati di ruang tengah kita, misalnya, adalah sepotong keangkuhan masa lalu yang tidak pernah berkompromi dengan kelengahan manusia. Bayangan tentangmu yang mendadak mematung, menahan napas dengan wajah memerah, mencengkeram jemari kaki sambil mengutuk dalam bisikan yang tertahan, selalu berhasil membuat dadaku berdenyut ngilu. Rasa sakit seketika yang menghentak saraf itu adalah bentuk pengkhianatan paling kasar dari benda mati terhadap kehangatan rumah. Maka, dalam setiap embusan napasku yang paling sunyi, aku meminta semesta meluaskan ruang di antara langkahmu dan sudut-sudut tajam dunia. Aku ingin jalanmu mulus, tanpa ada rasa sakit sekecil apa pun yang merusak ritme langkahmu yang tenang.
Lalu, ada pula doa yang kutitipkan pada angin pagi, ketika kemeja kantormu yang baru saja kusetrika dengan ketelitian seorang kurator museum melekat pas di tubuhmu. Semoga semesta menunda hasrat buang airmu ketika kemeja kantormu sudah terlalu rapi untuk dibenahi ulang.
Ada keindahan yang rapuh pada sepotong katun yang terbentang tanpa cela di punggungmu; garis lipatan yang tegas, kerah yang tegak lurus, dan kancing-kancing yang terpasang simetris. Itu adalah pelindung bajamu sebelum kau memasuki rimba beton bernama kantor. Namun, aku tahu betapa rapuhnya kerapian itu di hadapan panggilan alam yang tak kenal waktu. Memikirkanmu harus membongkar tatanan itu di bilik toilet yang sempit, menarik keluar ujung kemeja dengan frustrasi, lalu mencoba menyelipkannya kembali ke dalam celana dengan hasil yang tak lagi sama presisinya—sedikit berkerut di sisi kiri, agak longgar di sisi kanan—terasa seperti sebuah ketidakadilan kecil yang menyebalkan. Aku ingin kau melangkah ke dalam ruang kerjamu dengan rasa percaya diri yang utuh, tanpa diganggu oleh rasa tidak nyaman dari pakaian yang tak lagi sempurna. Biarlah biologismu berkompromi dengan estetika pagimu, setidaknya sampai jam istirahat tiba.
Dan tentu saja, ada doa yang selalu kukeraskan di dalam hati setiap kali mendung mulai menggantung rendah di atas kota yang sibuk ini. Semoga pula kau diselamatkan dari konspirasi siklus hidrologi saat jas hujanmu entah tertinggal di mana.
Siklus hidrologi, bagiku, kadang terasa seperti konspirator ulung yang senang bercanda di waktu yang salah. Ia menguapkan air dari samudera, mengumpulkannya menjadi gumpalan kelabu, dan menjatuhkannya tepat ketika kau baru saja melajukan sepeda motormu di jalan layang tanpa tempat berteduh, sementara jas hujan biru lautmu masih tergantung manis di balik pintu kamar kita. Di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba, dunia menjadi begitu asing dan dingin. Aku tidak ingin membayangkanmu basah kuyup, dengan air yang merembes masuk ke sela-sela sepatu kantormu, membuat jemarimu mengerut dingin, atau membuat helai rambutmu lepek menempel di dahi saat kau harus bertemu orang penting. Aku ingin hujan menyapa bumi dengan ramah, bukan sebagai hukuman bagi kekhilafanmu melupakan selembar plastik pelindung.
Jika dipikirkan kembali, mungkin ini adalah cara yang aneh untuk mencintai seseorang. Di masa muda, kita semua mungkin pernah mendambakan cinta yang epik—cinta seperti dalam novel-novel klasik yang penuh dengan pengorbanan dramatis, kalimat-kalimat besar yang ingin menaklukkan dunia, atau sumpah setia sehidup semati di bawah rasi bintang yang megah. Kita ingin menjadi pahlawan bagi satu sama lain, bertempur melawan naga khayalan demi membuktikan ketulusan.
Sebab beginilah barangkali cinta bekerja pada akhirnya. Ia mengalami penyubliman yang luar biasa. Ia bukan lagi tentang kalimat-kalimat besar yang ingin menaklukkan dunia, melainkan kekhawatiran-kekhawatiran kecil yang diam-diam ingin memastikan harimu berjalan sedikit lebih nyaman saja.
Cinta, setelah melewati sekian banyak musim dan percakapan larut malam, akhirnya menanggalkan jubah kebesarannya yang melelahkan. Ia pulang ke rumah, memakai kaos oblong yang longgar, dan duduk di lantai sambil mengamati caramu memakai sepatu. Ia menjelma menjadi perhatian-perhatian mikro yang luput dari catatan sejarah, namun menjadi penentu utama dari senyum tipis yang tersungging di wajahmu di tengah kemacetan kota.
Aku tidak perlu kau menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia, dan aku pun tidak berniat menjadi mesias bagi hidupmu. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang memastikan bahwa ketika kau melangkah keluar dari pintu rumah kita, dunia tidak terlalu menyakitimu hari itu. Aku ingin menjadi penahan benturan, pelindung kerapianmu, dan payung tak kasatmata yang menepis rintik hujan dari pundakmu.
Maka, biarlah aku terus memelihara kecemasan-kecemasan kecil ini. Biarlah aku terus mengirimkan litani-litani remeh ini ke langit. Sebab di dalam setiap doa tentang kelingking kaki, kemeja yang rapi, dan jas hujan yang tertinggal, sesungguhnya ada seisi semesta kasih sayang yang sedang berbisik pelan, menjagamu dari jauh, agar harimu berjalan sedikit lebih nyaman saja.
Komentar
Posting Komentar