Langsung ke konten utama

Ruang Hening, Saringan Waktu

Dua belas hari.

​Angka itu yang tertera di layar, menghitung mundur sejak kapan terakhir kali aku menumpahkan kata-kata di blogspot ini. Sebuah ruang digital yang hanya berisi tulisan-tulisan receh, keluhan-keluhan kecil, pengamatan-pengamatan sepele tentang dunia yang berputar di sekelilingku. Dan kini, ia ikut terdiam. Sama diamnya seperti diriku selama dua bulan terakhir. Keheningan ini, mungkin, adalah bentuk paling jujur dari apa yang sedang terjadi.

​Semuanya bermula, atau setidaknya menemukan momentumnya, pada bulan September lalu. Keputusan pindah dari rumah kontrakan sebuah ruang yang penuh riuh rendah, tawa bersama, dan drama kolektif menuju sebuah kamar kos sempit, adalah sebuah penanda. Itu bukan sekadar perpindahan alamat; itu adalah perpindahan lanskap batin. Dari komunal, menjadi individual. Dari riuh, menjadi senyap. 

​Dan di dalam kesenyapan itulah, aku menarik diri.

​Dua bulan aku resmi mengasingkan diri dari lingkaran pertemanan yang selama ini menjadi poros hidupku sebagai mahasiswa. Semester sembilan, kataku pada diri sendiri. Skripsi menuntut konsentrasi penuh. Aku butuh ketenangan untuk menamatkan bab-bab terakhir dari tugas akhir yang terasa seperti monster yang harus dikalahkan. Itulah dalih yang kubangun, sebuah benteng pertahanan yang kokoh.

​Meski ironisnya, tak ada yang benar-benar bertanya. Tak ada yang menggedor pintu benteng itu.

​Kehidupan, tampaknya, terus berjalan bagi mereka. Lini masa media sosial menjadi etalase keberhasilan: foto-foto wisuda dengan toga mengilap, surat penerimaan kerja, perayaan-perayaan kecil di kafe-kafe yang sedang tren. Dan aku? Aku di sini, di kamar kos ini, masih berkutat dengan paragraf yang sama, dengan revisi yang tak kunjung usai. 

​Di sinilah neraka kecil itu mengambil alih. Bukan neraka dengan api dan garpu tala, tapi neraka dingin yang membekukan dari dalam. Rasa minder itu datang merayap, pelan-pelan, seperti kabut. Lalu rasa malu. Aku mulai merasa seperti sampah.

​Ya, sampah. Kata itu kasar, tapi tak ada kata lain yang lebih presisi untuk menggambarkan perasaanku ketika pikiran untuk sekadar kumpul dengan teman-teman terlintas. Mereka sudah lulus. Mereka sudah bekerja. Mereka sudah melangkah ke fase berikutnya, sementara aku tertinggal. "Hanya telat satu semester," otak logisku mencoba berbisik, memberi pembelaan. Tapi hati menolaknya mentah-mentah. Satu semester di usia ini terasa seperti jurang yang menganga, memisahkan aku yang "masih" dari mereka yang "sudah". Perasaan menjadi residu, sisa dari sebuah angkatan, membuatku semakin enggan untuk menunjukkan wajah.

​Maka aku memilih diam. Menghilang.
​Pengasingan dua bulan ini, yang awalnya diniatkan sebagai strategi menamatkan skripsi, ternyata berevolusi menjadi sesuatu yang lain. Ia menjadi sebuah laboratorium sosial dalam skala mikro. Ia menjadi saringan.

​Dalam diamku, aku mulai melihat dengan jelas. Sesuatu yang selama ini tertutup oleh riuh tawa dan basa-basi pergaulan, kini mengemuka. Sesuatu yang busuk. Aku mendengar, samar-samar, lalu semakin jelas, bagaimana namaku disebut-sebut. Bagaimana ketidakhadiranku dijadikan justifikasi atas retak-retak yang mungkin sudah lama ada. "Dia berubah," kata mereka. "Sejak dia pindah, jadi begini."

​Aku, yang sedang berjuang sendirian di kamar kosku, tiba-tiba diposisikan sebagai asal muasal masalah. Aku menjadi kambing hitam atas segala perubahan dan ketidaknyamanan yang mereka rasakan. Orang-orang yang dulu kupikir teman, yang kutraktir kopi, yang kudengarkan curhatnya, kini berdiri di seberang, menunjukku sebagai biang keladi mengapa orang-orang lain di sekitar mereka mulai menjauh. Mereka pura-pura baik, bertanya kabar hanya untuk mencari amunisi baru.

​Tapi di sudut lain dari laboratorium hening ini, ada anomali.

​Di tengah riuh tuduhan itu, ada pesan-pesan pribadi yang masuk. Singkat, tapi padat. "Hei, apa kabar?" "Skripsi gimana? Aman?" "Butuh apa-apa, bilang." Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang tidak menuntut jawaban panjang. Pertanyaan yang tidak menghakimi.

​Merekalah teman-teman yang benar-benar baik. Mereka yang peka, yang mengerti bahwa diamku bukanlah kesombongan, tapi pertarungan. Mereka yang tidak menyalahkan perubahanku, tapi mencoba memahami prosesku. Pengasingan ini, betapapun sakitnya, telah membantuku memetakan; memisahkan mana loyang yang berkilau karena polesan, dan mana emas murni yang bersinar dari dalam.

​Dan akhirnya, monster itu kutaklukkan. Skripsi itu selesai. Tugas akhir kuliah itu resmi kutamatkan. Beban ribuan kata dan puluhan referensi itu terangkat dari pundak. Aku menang.

​Kemarin, aku memutuskan untuk keluar dari bentengku. Bukan untuk menemui mereka yang sibuk mencari kambing hitam, tapi untuk mereka yang bertanya "apa kabar".

​Aku kembali bertemu teman-teman yang membantuku selama proses pengasingan itu. Kami duduk. Kami bercerita. Aku menceritakan semuanya. Tentang rasa minder itu, tentang perasaan menjadi sampah, tentang tuduhan-tuduhan yang kudengar, dan tentang kelegaan luar biasa setelah sidang. Mereka mendengarkan. Kami tertawa, kali ini tawa yang benar-benar lepas.

​Aku akhirnya dapat mengambil pelajaran. Bahwa pengasingan diri ini bukanlah sebuah kekalahan atau pelarian. Ia adalah proses kalibrasi yang menyakitkan namun perlu. Aku tidak lari; aku hanya mengambil jarak untuk melihat siapa yang benar-benar layak untuk didekati ketika aku kembali. Hidupku memang berubah banyak dalam dua bulan ini. Tapi perubahan ini, kini aku tahu, adalah perubahan yang baik.

​Blogspot ini mungkin akan segera kuisituliskan receh, tapi kini, aku tahu recehan mana yang layak disimpan.

Komentar