Isyarat Bisu Mengukir Sesal
Bau tanah basah yang menguar setelah hujan sore di kota ini selalu memiliki cara tersendiri untuk membongkar paksa laci-laci ingatan yang sudah lama kucoba kunci rapat. Di antara aroma petrikor dan kepulan asap kopi tubruk yang mulai mendingin di atas meja kayu jati ini, siluet masa lalu itu kembali hadir. Sebuah masa di mana kita adalah dua manusia yang merasa cukup hidup hanya dengan mengandalkan sebuah bahasa rahasia; bahasa tanpa suara yang kita tenun dengan sangat hati-hati di sela-sela denting sendok dan piring kaca.
Kita pernah menjadi sepasang pemburu ahli di padang sabana rutinitas. Aku kerap menebar umpan berupa pertanyaan-pertanyaan retoris tentang buku sastra yang baru kubaca, atau segelas teh susu yang kuseduhkan khusus saat kau tampak lelah. Dan kau, dengan kelihayan seorang penari, selalu menyambut umpan itu. Kau membalasnya dengan sepotong senyum lengkung yang tertinggal di ujung mata, sebuah gestur kecil yang seolah berkata bahwa kau mengerti. Kita merancang kebetulan-kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut takdir, menciptakan ribuan alasan tak masuk akal sekadar agar rute pulang kita bersilangan, atau sekadar berbagi meja di kantin yang pengap oleh asap kretek.
Di ruang-ruang interaksi yang sempit itu, kita menumbuhkan sebuah semesta yang intim. Kita bertukar tawa yang tertahan, mendiskusikan ramalan cuaca hingga rancangan masa depan yang entah bagaimana selalu memiliki ruang kosong untuk diisi satu sama lain. Kau hafal betul bahwa aku membenci bising suara klakson dan aroma parfum yang terlalu menyengat, sementara aku tahu pasti bahwa kau tak pernah bisa menoleransi secangkir kopi yang diseduh dengan air yang kurang mendidih. Kedekatan itu merayap masuk, mengakar diam-diam, menyamar sebagai persahabatan yang melampaui batas kewajaran.
Namun, di sanalah letak tragedi dari sebuah kenyamanan yang terlalu pekat. Kita terlalu asyik menari di atas tali tipis ketidakpastian. Kita membiarkan waktu bergulir bak adegan film bisu, mengira bahwa jarum jam akan selalu berbaik hati menunggu kita menemukan keberanian. Ada kata-kata bertubuh raksasa yang sebenarnya berdesakan di dalam dada, meronta minta dilahirkan menjadi suara. Namun, setiap kali ujung lidah ini hampir merapalkan pengakuan, ketakutan selalu datang membekapnya. Apakah kita terlalu dimanjakan oleh kehangatan isyarat yang aman ini? Ataukah kita sejatinya adalah sepasang pengecut yang terlalu ngeri menghadapi kenyataan bahwa meresmikan sebuah rasa berarti harus siap menanggung risiko kehilangannya?
Pada akhirnya, waktu membuktikan bahwa ia adalah hakim yang paling tidak kenal ampun. Masa tenggang untuk permainan isyarat kita telah habis. Kesempatan-kesempatan yang dulu berserakan kini menguap bersama musim yang berganti. Dunia yang dulu hanya berisi kode-kode rahasia kita kini perlahan retak dan runtuh, menyisakan ruang hampa yang tak lagi bisa diisi oleh tatapan mata. Kita lenyap ditelan kebisuan kita sendiri, menjadi dua orang asing yang kebetulan pernah menyimpan rahasia paling bising di dalam kepala masing-masing.
Kini, di hadapan secangkir kopi yang telah sepenuhnya dingin, aku hanya bisa merawat sebuah penyesalan yang berdenyut pelan namun konstan. Ada sebuah kalimat pengandaian yang terus menggentayangi langit-langit kamarku setiap malam; sebuah jeritan tertahan tentang betapa berbedanya akhir cerita ini, seandainya saja pada suatu sore yang cerah di masa lalu, aku berani menanggalkan segala isyarat dan melontarkan isi kepalaku dengan lantang, tepat di hadapan kedua matamu.
Komentar
Posting Komentar