Kesunyian di Ambang Didih

Dapur kecil ini selalu menjadi saksi bisu setiap kali dunia di luar sana terasa terlalu bising dan menyesakkan. Di atas kompor yang apinya menjilat-jilat kebiruan, sebuah teko tua mulai berdesis. Air di dalamnya meronta, bergejolak hebat mencapai titik didih yang tak lagi bisa ditawar. Memperhatikan gelembung-gelembung air yang pecah dan menguap ke udara, aku teringat pada diri kita sendiri. Perjalanan yang kita tempuh ini tak pernah berumur pendek. Ia adalah sebuah bentangan jalan panjang yang teramat melelahkan, dipenuhi kerikil tajam, debu yang membutakan, dan tanjakan curam yang menguras habis napas kita. Seringkali, kita sampai pada satu persimpangan sunyi di mana isi kepala dan rongga dada kita ikut mendidih, persis seperti air dalam teko ini. Sebuah titik didih yang dipenuhi oleh rasa muak yang pekat dan menggelegak.

Namun, di sanalah letak ujian tertingginya. Bukankah terlalu gegabah, bahkan mungkin pengecut jika kita memilih untuk mematikan api, membuang airnya, dan menyudahi segalanya hanya karena kita merasa tidak tahan lagi dengan panasnya? Seperti sebuah masakan yang sedang diungkep dalam panci, bumbu-bumbu penderitaan, kepahitan, dan ketahanan itu sesungguhnya butuh waktu untuk meresap ke dalam daging kehidupan kita. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah diam sejenak. Membiarkan uap panas itu perlahan membumbung tinggi, membawa serta amarah dan sisa-sisa kelelahan, lalu membiarkannya mendingin di udara yang fana. Kita hanya butuh jeda untuk mengambil napas, bukan untuk menyerah pada kekalahan.

Aku mengenalmu, dan dalam dirimu, aku melihat pantulan diriku sendiri. Kita adalah bagian dari segelintir jiwa-jiwa imajiner yang keras kepala. Kita merajut mimpi dari benang-benang utopia, melukis langit mendung dengan warna-warna hangat yang mungkin tak pernah ada di palet pelukis mana pun. Sayangnya, kenyataan seringkali hadir sebagai hakim yang kejam dan tak kenal ampun. Ia datang tanpa permisi, menampar wajah kita dengan telapak tangannya yang kasar hingga meninggalkan ruam merah yang perih. Tamparan itu datang dalam berbagai wujud: tatapan sinis dari mereka yang tak pernah sudi memahami isi kepala kita, kalimat-kalimat beracun yang menyusup ke pori-pori dan menetap di ingatan, hingga kepergian orang-orang yang dulu punggungnya kita jadikan tempat bersandar. Mereka melangkah pergi, meninggalkan ruang kosong di meja makan kita; ruang yang kini hanya diisi oleh gema dari tawa masa lalu yang terasa menyayat hati.

Pada akhirnya, kita dipaksa sadar bahwa sebagian besar dari lakon kehidupan ini bukanlah sebuah peta yang tergambar jelas dengan garis bujur dan lintang. Hidup lebih sering terasa seperti berjalan terhuyung di lorong berkabut tebal; kita hanya bisa meraba-raba dinding yang lembap dan menerka-nerka di mana letak celah cahaya berada. Sesekali, kabut itu menipis, memberikan pandangan yang seolah-olah jernih, aman, dan menjanjikan. Namun, bukankah fatamorgana di tengah gurun juga terlihat seperti telaga yang menyegarkan? Pandangan yang jelas itu kerap kali menipu. Dan ketika kita jatuh terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya, kita hanya bisa menertawakan diri sendiri. Tertawa getir, menyadari bahwa pada akhirnya, siapa pula yang mau percaya dan peduli pada omong kosong yang kita pertahankan dengan susah payah ini?

Lalu, ketika hidup tiba-tiba melemparkan ledakan besar yang meluluhlantakkan sisa-sisa kewarasan dan pertahanan kita, apa yang tersisa untuk dilakukan? Menangis dan meratapi reruntuhan di sudut kamar? Tidak. Dunia tidak bekerja dengan belas kasihan. Ketika ledakan itu datang menghantam, kawan, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menciptakan ledakan tandingan di dalam dada kita sendiri. Ledakan dari sebuah tekad sunyi yang lahir dari rahim keputusasaan.

Maka, kuangkat teko yang airnya telah sedikit menenangkan diri itu. Kutuang perlahan ke dalam cangkir keramik kusam yang di dasarnya sudah berbaring bubuk kopi murni. Hitam, pekat, tanpa kompromi, seperti malam-malam tanpa tidur yang sering kita lewati. Aroma tanah yang basah dan kegetiran yang jujur langsung menguar, memenuhi setiap sudut ruangan, mengusir dingin yang sejak tadi memeluk bahu. Aku tak memiliki banyak hal untuk ditawarkan pada dunia yang bising ini. Aku hanya memiliki sedikit sisa kopi dan persediaan kesunyian yang melimpah ruah. Kuseduh semuanya menjadi satu racikan yang pas: pahit dan panas. Keduanya adalah kawan terbaik untuk merayakan setiap luka. Mari kita teguk kesunyian ini secara perlahan, dan mari kita meriahkan panggung kehidupan yang absurd ini dengan cara kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu