Suaka Kecil Ujung Waktu
Hujan baru saja reda di beranda ini, menyisakan aroma petrikor yang menguar dari tanah basah dan daun-daun mangga yang meranggas. Duduk di kursi kayu yang mulai berderit dimakan usia, sambil menyesap kopi hitam yang perlahan mendingin, ada sebuah kesadaran yang diam-diam menyelinap. Lanskap kehidupan kita, pada akhirnya, mengerucut menjadi sebuah titik yang teramat sederhana. Kedamaian yang kini terasa mengalir di pembuluh darah seolah menutupi fakta bahwa kita pernah bertarung habis-habisan di sebuah arena yang brutal.
Kesederhanaan ini bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit sore. Ia adalah medali usang yang kita tebus dengan harga yang tidak murah. Jika kita memutar kembali pita waktu, kita akan melihat jejak kaki kita yang acak dan berantakan. Di masa lalu itu, kita pernah berlari mengejar bayang-bayang dengan napas terengah, tersandung akar pohon kehidupan, dan jatuh terjerembap hingga lutut kita berdarah.
Kita mengingat masa-masa ketika kita menjadi bahan tertawaan dunia, dan sebagai balasannya, kita hanya bisa menelan kepahitan itu bulat-bulat, lalu menangis tanpa suara di sudut kamar mandi agar tak ada telinga yang mendengar. Kehidupan mengajarkan ironi yang tajam: kita pernah menjadi korban yang tertipu oleh janji-janji manis, namun dalam keputusasaan dan insting untuk bertahan hidup, kita pun pernah menjelma menjadi sosok yang menipu orang lain. Dan di antara pusaran kekacauan moral dan batin itu, kita dengan keras kepala memutuskan untuk mencintai seseorang, menyerahkan sepotong hati yang akhirnya babak belur juga.
Kini, setelah melewati labirin yang melelahkan itu, kita tiba di sebuah fase di mana rambut mulai memutih dan tulang tak lagi sepandai dulu meredam lelah. Kita menyadari bahwa realitas sering kali hadir sebagai monster bertaring yang siap mengunyah sisa kewarasan kita. Maka, kita membangun sebuah tempat perlindungan. Harapan dan prasangka baik bukan lagi sekadar kenaifan masa muda; keduanya kini menjelma menjadi suaka, sebuah rumah yang hangat dan ideal tempat kita pulang untuk merebahkan tubuh dari dunia yang terlampau bising dan menguras tenaga.
Di dalam suaka itu, kita seperti sedang membuka sebuah halaman belakang yang selama ini tertutup semak belukar berduri. Dengan tangan telanjang yang penuh goresan luka, kita membersihkan lahan tersebut. Kita tak punya bibit mawar dari Belanda atau anggrek yang eksotis. Kita hanya memungut apa yang tersisa—mungkin sekadar benih yang tak sengaja dijatuhkan dari kotoran burung layang-layang yang melintas.
Kita menanamnya dengan sisa keyakinan yang kita miliki. Kita menyiram tanah kerontang itu bukan hanya dengan air, melainkan dengan tetesan darah dari luka-luka lama yang belum sepenuhnya mengering, dan merawatnya dengan kata "semoga" yang dirapal berulang kali seperti mantra di keheningan malam. Kita menunggu tunas itu tumbuh, membiarkan waktu yang menjawab doa-doa sunyi kita.
Lalu, di sinilah kedewasaan menunjukkan wajah aslinya. Ia berbisik dengan suara yang lembut namun tegas: bagaimana jika kelak yang tumbuh dan merimbun bukanlah bunga-bunga cantik atau pohon buah yang ranum? Bagaimana jika dari tanah yang telah kita sirami dengan darah dan air mata itu hanya memunculkan hamparan rumput liar dan ilalang?
Kita tidak akan mengutuk langit, tidak juga memaki bumi. Kita hanya akan menengadah, tersenyum dengan raut wajah yang damai, dan meminta sebuah restu yang sederhana kepada Sang Pemilik Waktu. Jika memang rumput yang menjadi takdir halaman kita, maka biarkanlah kita memelihara sepasang domba. Tidak perlu domba dengan bulu yang tebal atau daging yang gemuk bergelambir. Asalkan domba itu sehat, asalkan ia memiliki kerangka tulang yang kokoh untuk menemani kita menghabiskan sisa hari, itu sudah lebih dari cukup. Sebab pada akhirnya, kita telah belajar untuk berdamai dengan apa yang tumbuh, dan merayakan apa pun yang sudi menemani.
Komentar
Posting Komentar