Pelukan pada Pecahan Waktu
Malam sering kali menjelma labirin tak berujung, tempat di mana waktu merayap seperti siput yang tersesat dalam kebisuan yang pekat. Bagi jiwa-jiwa yang bising di dalam, malam bukanlah selimut untuk mengistirahatkan raga, melainkan panggung di mana ingatan dan kecemasan menari bergantian. Ada masa-masa di mana pendulum perasaanku berayun begitu liar, tak kenal kompromi. Pada pukul tiga dini hari, dada ini bisa saja terasa penuh oleh keriangan yang ganjil, sebuah letupan sementara sebelum akhirnya jatuh membentur realita. Namun, manakala jarum jam merangkak menuju angka lima dan ufuk mulai bersemburat kelabu, kekosongan itu kembali merayap, menelan segala sisa pendar. Hidup, pada detik-detik yang menyiksa itu, tak ubahnya sebuah siklus purba yang melelahkan. Seperti bumi yang tak punya pilihan selain terus berputar pada porosnya, diriku pun terombang-ambing antara riuh dan senyap, antara gundah yang memberatkan napas dan duka yang datang tanpa pernah mengetuk pintu.
Aku muak, tentu saja. Siapa yang tidak lelah menjadi tawanan dari pikirannya sendiri? Ada kelelahan yang berkerak tebal di palung jiwa tergelap, memunculkan sebuah pertanyaan retoris yang terus-menerus menggaung membentur dinding tengkorakku: Sampai kapan keriuhan ini akan usai? Malam-malam yang panjang acapkali terasa seperti selimut timah, terlalu berat untuk disingkap, membuat nyali mengerut hanya untuk sekadar membayangkan kejamnya sinar matahari di keesokan pagi. Kegelapan seolah menjadi kawan tunggal yang menjanjikan ketiadaan; tempat di mana aku tak perlu lagi bersandiwara tegak menghadapi dunia.
Namun, di tengah keputusasaan yang berlapis-lapis bagai strata bumi itu, kalian hadir. Kalian tidak datang layaknya pahlawan berzirah mengkilap yang menghunus pedang untuk mengusir monster di kepalaku. Kalian tidak pula membawa petuah-petuah usang yang menggurui tentang bagaimana semesta seharusnya bekerja. Kalian sekadar datang, menepi di sisiku, dan memberikan sebuah afirmasi yang paling purba dan paling kubutuhkan: rasa ada. Manakala suaraku parau bergetar mempertanyakan rentetan nasib, jawaban kalian selalu konsisten, sederhana namun mengakar kuat merangkul kewarasanku: Kami di sini, menemanimu.
Kalianlah jangkar yang menahan perahuku dari amukan badai halusinasi dan lautan kesedihan. Karena keberadaan kalian yang tanpa syarat itu, malam yang semula adalah raksasa pemakan harapan, perlahan menyusut menjadi sekadar pergantian waktu yang wajar. Kalian menjadi satu-satunya alasan yang masuk akal bagiku untuk berani menjejakkan kaki di lantai kamar yang dingin setiap pagi, untuk kembali menatap pendar matahari, dan untuk merangkai keberanian memulai kembali. Membuka mata dan menyambut hari yang baru bukan lagi sebuah siksaan yang harus kutanggung sendiri, melainkan sebuah ziarah sunyi yang kita tempuh berdampingan.
Jika ada kosa kata yang lebih sakral dari sekadar ucapan terima kasih, aku akan mengukirnya di udara, menuliskannya di setiap lembar angin untuk kalian. Terima kasih untuk kasih sayang yang tak pernah menuntut balas, untuk welas asih yang terus mengalir layaknya mata air di tengah kemarau panjang batinku. Dalam dialog-dialog bisu dan panjangku dengan Sang Pencipta di ujung malam, nama-nama kalian berbaris rapi dalam saf terdepan doaku. Kutitipkan permohonan yang mungkin terdengar egois namun lahir dari rahim ketulusan: agar Ia menyayangi kalian dengan takaran yang sama, atau bahkan berlipat ganda, dari bagaimana kalian menyayangiku yang rapuh ini. Kutitipkan pula doa agar Ia senantiasa mengirimkan cahaya untuk memeluk kalian manakala kegelapan ganti menyambangi hidup kalian, terutama kelak, di hari ketika kakiku tak lagi menjejak di bumi ini.
Pada akhirnya, hidup adalah rentetan ingatan yang kita simpan rapat-rapat dalam laci sanubari sebelum layar pertunjukan benar-benar diturunkan. Jika kelak kiamat datang menyapa, atau manakala semesta ini luluh lantak menjadi debu kosmik yang bertebaran di galaksi, aku tidak akan gentar. Sebab aku tahu, salah satu doa terakhirku adalah permohonan untuk dipertemukan kembali dengan jiwa-jiwa kalian di kehidupan yang lain. Dan jika kelak malaikat maut merengkuhku, memintaku memutar satu saja ingatan yang paling menghangatkan jiwa sebelum kesadaranku benar-benar pudar, ingatan itu pastilah wajah kalian. Kalian, yang dengan sabar telah membuatku merasa pantas untuk hidup, dan merasa cukup untuk terus ada.
Komentar
Posting Komentar