Biar Hening Memerahkan Luka
Malam turun membawa bau tanah basah dan rasa lelah yang mengendap pekat di dasar tulang. Di sudut kamar yang hanya diterangi cahaya kekuningan dari lampu meja, bayang-bayang terasa merayap lebih panjang dari biasanya. Ada kalanya, ritme napas terasa begitu berat, seolah udara yang kita hirup tak pernah cukup untuk mengisi paru-paru yang menyempit oleh kecemasan. Kita duduk di sini, merenungi kekalahan-kekalahan kecil yang tanpa disadari telah bertumpuk menjadi sebuah bukit keputusasaan yang sunyi.
Dan di detik-detik ganjil seperti ini, di antara detak jam dinding yang seakan menghakimi, kewajaran akan rasa kalah itu menyergap. Kita sering lupa bahwa di balik nama dan identitas yang kita sandang, kita hanyalah seonggok daging, darah, dan jiwa yang terus-menerus dipaksa berlari oleh waktu. Kita adalah manusia yang sedang berupaya; sebuah entitas rapuh yang kadang hanya ingin berhenti sejenak untuk sekadar mengingat cara bernapas yang benar.
Rasa lapar yang menyerang di tengah malam seringkali bukan sekadar perihal lambung yang menuntut isi, melainkan kekosongan hasrat yang perlahan menggerogoti dinding dada. Berapa kali dalam sehari kita menelan ludah, menahan kalimat yang seharusnya meledak di udara? Kita sering kali kehabisan nyali. Keberanian untuk meneriakkan ketidakadilan yang merenggut hak kita, atau sesederhana keberanian untuk mengangkat tangan yang gemetar dan berbisik, “Tolong aku, aku sudah tidak sanggup memikul ini sendirian,” kerap kali menguap di kerongkongan, digantikan oleh senyum palsu yang kita kenakan sebagai topeng pelindung.
Kita memilih menelannya mentah-mentah, membiarkan segala kegetiran itu menjelma menjadi beban hening yang berdesak-desakan di dalam tubuh mungil ini. Tubuh yang mungkin terlihat baik-baik saja dari luar, namun sebenarnya menyimpan kesepian sedalam palung lautan yang tak teraba oleh cahaya.
Namun, di balik lipatan-lipatan kesunyian yang mencekik itu, selalu ada sebersit harap yang menolak untuk benar-benar padam. Ketika matahari di luar sana memanggang hari-harimu dengan terik yang tanpa ampun, ketika realita terasa seperti aspal panas yang membakar telapak kaki telanjangmu, ada doa-doa sunyi yang dirapalkan dalam hati. Doa-doa itu tidak menuntut keajaiban besar yang membelah lautan. Ia hanyalah doa yang sederhana dan cantik. Sebentuk permohonan lirih agar ketenangan meski hanya sekejap sudah berkenan mampir, berhembus serupa angin senja yang lembut, membelai dada yang bengkak oleh amarah dan tangis yang kelamaan ditahan. Kita berharap bahwa benih-benih ketabahan yang kita tanam dengan air mata di atas tanah yang kering ini, kelak akan menumbuhkan sesuatu yang meredakan nyeri.
Mungkin, perjalanan kita saat ini tidak ubahnya sebuah kebun kecil di dataran tinggi yang diselimuti kabut pagi yang dingin. Di sana, kita adalah tunas-tunas tanaman stroberi yang masih pucat, meringkuk kedinginan, menanti bias cahaya matahari yang masih malu-malu di balik awan tebal.
Tidak apa-apa jika saat ini kita belum semanis yang dibayangkan dunia. Tidak masalah jika hari ini kita masih terasa masam, keras, penuh memar, dan dianggap belum cukup layak. Sebab, menjadi merah, menjadi matang, dan menjadi utuh adalah sebuah rentetan proses yang tak bisa diburu-buru oleh ambisi siapa pun.
Kita sedang berupaya memerahkan hidup. Merah itu mungkin kelak akan datang dari luka-luka yang akhirnya mengering, dari rasa sakit yang telah menemukan muaranya, dan dari keberanian-keberanian kecil yang mulai bersemi di antara celah rasa takut. Biarlah hening ini memelukmu malam ini. Biarlah rasa lelah ini menidurkanmu tanpa syarat. Esok, ketika embun kembali turun membasahi dedaunan, percayalah bahwa setiap upaya untuk bertahan hidup, sekecil apa pun itu, adalah bagian dari perjalanan stroberi yang tengah berjuang meronakan warnanya di tengah dunia yang tak selalu ramah.
Komentar
Posting Komentar