Sisa Hujan di Halaman Rindu
Ada bau hujan yang tertinggal di udara malam itu, bercampur dengan aroma pekat dari sisa kopi yang mengering di dasar cangkir. Di kelabu ruang yang hanya diterangi lampu meja yang temaram, aku merengkuh pena. Sudah terlalu lama rasa muak ini mengendap, berkerak di dinding dada seperti lumut yang menolak mati pada batu lembap. Maka, malam itu, aku memuntahkan semuanya. Aksara demi aksara tumpah, berjejalan di atas lembaran kertas putih. Aku merapal setiap kekecewaan, setiap amarah, hingga ruang di kepalaku terasa purnarupa.
Setelah titik terakhir kutorehkan, napasku berangsur pelan. Kertas-kertas itu tak lantas kubakar. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, kulipat ia kecil-kecil, serapat mungkin, seolah aku sedang melipat sebuah rahasia negara atau dosa masa lalu. Kusembunyikan lipatan itu jauh di bawah kasur kapuk tua ini. Biarlah ia bersemayam di sana, menjadi saksi bisu yang ditindih oleh berat tubuh dan mimpi-mimpiku.
Ajaibnya, keesokan harinya, matahari terasa mengiris kaca jendela dengan cara yang berbeda. Di kepalaku, mulai bermekaran rencana-rencana akhir tahun, sebuah manifestasi sunyi yang diam-diam menjelma menjadi surat cinta untuk semesta. Harapan-harapan yang tadinya mengering, kini kembali basah dan ranum. Terkadang aku menertawakan diriku sendiri; apakah aku sedang merawat kelinglunganku? Entahlah. Yang pasti, sejak kertas itu bersembunyi di bawah kasur, tak ada lagi rasa getir yang mencekik tenggorokan saat aku menelan ludah.
Tidurku kini sepekat malam tanpa bintang, pulas tak tersentuh mimpi buruk. Aku terbangun lebih awal, menyambut embun, dan anehnya, segala linu di persendian ini justru terasa seperti perayaan kehidupan yang meriah.
Namun, di tengah ritme baru yang damai ini, seseorang mungkin akan bertanya: Masih adakah rindu yang tersisa?
Tentu saja ada. Rindu itu keras kepala. Ia seperti bara api yang tertutup abu tipis; tampak padam, namun siap membakar kapan saja aku lengah. Ia mengintip di sela-sela buku yang kubaca, atau di antara aroma bawang putih yang kutumis di dapur. Tapi rindu ini telah berubah wujud. Ia tak lagi datang sebagai hantu yang melemahkan lututku. Sebaliknya, rindu itu menatapku dengan tajam, memaksaku untuk berdiri lebih tegak, membuatku rakus untuk terus memantaskan diri. Ia memacuku untuk merengkuh apa yang kusebut sebagai ‘kelayakan’.
Dalam kewarasan yang baru kutemukan ini, aku sering melukis sebuah adegan di udara kosong. Suatu hari nanti, ketika waktu sudah cukup berbaik hati, aku ingin merangkai sebuah hari yang utuh. Aku akan memulai pagi dengan menjemputmu, membawa dua cangkir kopi hitam yang uapnya mengepul, membelah udara pagi yang dingin. Lalu, ketika bayangan memanjang dan matahari mulai lelah, aku ingin menyuguhkan rasa manis yang sedikit getir. Kita akan menemui sore dengan sepotong tiramisu dan secangkir matcha yang hijau pekat, membiarkan waktu melambat di ujung lidah.
Sebelum malam benar-benar turun dan udara semakin menggigit, aku akan membawamu ke kedai mi ayam di sudut jalan yang bising oleh deru kendaraan, sekadar untuk mengunyah kesederhanaan. Dan sebagai penutup, agar malammu kelak tak dirajai oleh kegelisahan, aku telah menyiapkan menu pamungkas. Bukan hidangan mewah, melainkan sebuah dongeng yang kubisikkan di bawah hamparan bintang-bintang. Aku akan bercerita dengan suara bariton yang tenang, sementara kau, soreku yang paling manis, akan mendengarkan dengan tatapan yang kosong namun cantik, terbuai dalam rasa aman.
Apakah semua racauan ini bisa dimengerti? Apakah skenario ini adalah sebuah doa yang terlampau manis, atau sekadar igauan dari jiwa yang masih menolak sembuh?
Aku menarik napas panjang, menghirup sisa wangi petrikor. Entahlah. Pada akhirnya, seorang pemimpi akan tetap setia pada kodratnya. Ia akan terus menenun mimpi-mimpinya, bahkan ketika ia tahu, kenyataan mungkin masih terlelap berselimut kertas-kertas di bawah kasur.
Komentar
Posting Komentar