Menuju Samudra yang Menunggu
Sore itu, aroma tanah basah sisa hujan menusuk udara, bercampur dengan uap teh melati yang perlahan mendingin di atas meja kayu jati peninggalan kakek. Di luar jendela, langit menyisakan semburat jingga keabuan, warna yang selalu berhasil memanggil pulang kenangan-kenangan yang berserakan. Kekecewaan, seringkali, datang tanpa pernah repot-repot mengetuk pintu. Ia menerobos masuk, mengoyak sesuatu di dalam dada hingga pecah berantakan.
Namun, sembari memandangi rintik air yang meluncur di kaca jendela, sebuah kesadaran ganjil perlahan tumbuh. Bukankah pemahaman yang paling jernih justru kerap lahir dari rahim penderitaan? Layaknya sebuah ruang bawah tanah yang gelap gulita dan tertutup rapat. Butuh sebuah guncangan hebat, sebuah retakan paksa pada dinding-dindingnya yang kokoh, agar seberkas cahaya matahari bisa akhirnya menemukan celah untuk masuk. Luka-luka yang menganga itu, pada akhirnya, adalah jalan bagi cahaya untuk menerangi sudut-sudut paling rahasia dalam diri kita, memperlihatkan apa yang selama ini luput dari pandangan.
Ada masa di mana aku duduk terpekur berjam-jam, memeluk lutut, dan merutuki segala bentuk kebaikan yang pernah kutaburkan pada tanah yang salah. Penyesalan datang bergulung-gulung. Untuk apa aku menyajikan cangkir-cangkir perhatian yang hangat jika akhirnya hanya ditepis hingga pecah? Namun, di bawah pendar lampu kuning yang temaram, suaraku sendiri berbisik membantah. Ketulusan dalam memperlakukan manusia lain bukanlah sebuah transaksi dagang yang bisa dihitung untung ruginya di atas secarik kertas.
Kebaikan yang kita berikan adalah monumen dari nilai diri kita sendiri. Ketika seseorang memilih untuk memalingkan wajah, melangkah pergi, dan dengan sengaja meninggalkan jejak luka, hal itu sedikit pun tidak melunturkan keindahan dari cara kita mencintai. Itu adalah kelemahan mereka dalam menerima, bukan kebodohan kita dalam memberi. Nilai sejati kita tetap utuh, tak tergores oleh ketidakmampuan orang lain menghargainya.
Lalu, apa yang harus dilakukan pada sisa-sisa hari setelah kepergian itu? Menetap dalam duka memang godaan yang teramat manis. Rasanya begitu familiar dan aman berdiam diri dalam kesedihan. Seperti membiarkan diri berendam di sebuah genangan air cokelat yang keruh di sudut jalan sunyi. Menggenang, diam tak bergerak, membiarkan lumut-lumut penyesalan dan aroma masa lalu tumbuh menebal menyelimuti tubuh.
Tetapi, genangan kecil yang berbau stagnasi itu bukanlah habitat yang layak untuk jiwa yang pernah tahu caranya mencintai dengan begitu luas. Berkubang terlalu lama di tempat yang sempit dan pengap itu hanya akan meracuni akar-akar kehidupan yang baru saja mencoba bernapas lagi. Tempat itu tidak sehat. Tidak ada keindahan di sana; tidak ada estetika yang selaras dengan jiwa yang merdeka. Tubuh dan batin ini tidak diciptakan untuk menjadi genangan kotor yang mati. Kita harus bangkit. Kita harus memaksakan kaki untuk melangkah, membiarkan diri kembali mencair, dan kembali mengalir seperti denyut nadi sungai.
Kubuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin dingin menyapu wajah. Sudah waktunya untuk mengemas kesedihan ini ke dalam ransel tua dan berjalan menuju muara. Di luar sana, jauh melampaui batas-batas ingatan yang menyiksa dinding kamar ini, terbentang lautan yang maha luas. Kenapa harus menangisi satu kolam kecil yang mengering jika dunia menawarkan samudra biru yang tak bertepi?
Aku membayangkan langkahku tiba di pesisir, membiarkan buih ombak mencuci sisa-sisa debu dari perjalananku yang lelah. Di kedalaman lautan sana, kehidupan terus berdenyut dengan riang. Ada ribuan ikan berenang bebas, ada terumbu karang yang menyembunyikan keindahan misterius, dan mungkin, seekor paus raksasa yang bergerak tenang, menyanyikan lagu-lagu purba tentang kedamaian. Segala bentuk harapan, doa-doa baik, dan masa depan yang terus kita rangkai dalam diam setiap malamnya, sesungguhnya sedang duduk menanti di sana. Menunggu kita tiba. Menunggu kita untuk kembali menyelam dan menemukan bahagia yang sebenar-benarnya.
Komentar
Posting Komentar