Menyulam Harap Hari Esok

Rintik hujan semalam masih menyisakan jejak basah di kaca jendela, membiaskan cahaya lampu jalanan yang temaram ke dalam kamar sempit ini. Pagi selalu datang terlalu cepat, mengetuk pintu kesadaran dengan ketukan yang tak pernah sopan. Di atas kasur yang sprain-nya mulai terasa menusuk punggung, aku mengumpulkan serpihan nyawa. Ada semacam rutinitas ganjil yang mengakar di dadaku dan mungkin di dada ribuan orang lainnya di kota ini: sebuah ritual menelan kecemasan bersamaan dengan tegukan pertama air putih.

Kita hidup di sebuah lanskap waktu yang terus memburu. Hari libur telah bermutasi menjadi sekadar mitos, atau paling banter, sebuah kemewahan fana yang harus dibayar lunas dengan rasa bersalah karena tidak produktif. Di tengah hiruk-pikuk aspal yang beruap dan klakson yang saling mencaci, kita mengunci rapat-rapat pintu hati. Jatuh cinta? Ah, itu adalah sebuah variabel tak terduga yang terlalu berisiko untuk dimasukkan ke dalam persamaan hidup kita yang sudah serba pas-pasan ini. Energi kita telah habis disedot oleh ketakutan-ketakutan tentang hari esok, tentang tagihan, tentang eksistensi.

Lalu, dengan sisa-sisa kewarasan dan sebentuk keberanian yang sebenarnya lebih mirip keputusasaan, kita melangkah keluar pintu. Sepatu kita menapak trotoar dengan ritme yang ganjil. Di dalam dada ini, ada sebuah pendulum yang berayun dengan liar dan tak tertebak. Pada satu halte, kita merasa bisa menaklukkan dunia; optimisme mekar layaknya bunga pukul empat. Namun, belum sampai di halte berikutnya, aroma pesimisme dan rasa muak yang pekat menyergap, membuat isi perut serasa diaduk. Hidup dengan hati yang serupa cuaca pancaroba ini sungguh meletihkan.

Dalam keletihan yang menumpuk di pundak bak debu jalanan itu, pikiranku sering kali melayang jauh, melompati kalender demi kalender, mencari sosok di ujung terowongan waktu.

Hai, kau yang berada di sana, di masa depan yang entah kapan.

Aku sering menerka-nerka, sedang apa kau saat membaca lipatan ingatan tentang hari ini? Apakah garis di sudut matamu sudah bertambah? Apakah kau akhirnya bisa bernapas tanpa merasa ada beban tak kasat mata yang menghimpit paru-parumu?

Aku membayangkan bagaimana kau merayakan keberhasilanmu bertahan hidup dari masa-masa labil ini. Apakah kau duduk sendirian di sebuah kedai kecil yang sepi, merayakannya dengan ritual lama kita? Menghirup aroma kaldu gurih dari semangkuk mie ayam dengan potongan daging yang melimpah, ditemani sejuknya segelas matcha hijau yang manisnya menenangkan saraf-saraf yang tegang. Meresapi kesendirian yang tak lagi terasa menyiksa, melainkan sebuah kemerdekaan.

Atau, mungkinkah kau berada di sebuah kafe dengan pencahayaan kuning yang hangat? Di hadapanmu mengepul dua cangkir kopi hitam yang pekat, sepekat malam-malam tanpa tidur yang kulalui hari ini. Kopi itu tanpa gula, karena kau sadar bahwa kepahitan tak lagi perlu ditakuti jika di seberang meja sana, duduk seseorang yang tatapannya membuat semburat merah menjalar hangat di kedua pipimu. Seseorang yang akhirnya membuatmu berani membuka kunci pintu hati yang selama ini berkarat.

Entahlah. Bayangan tentangmu masih samar, tertutup kabut ketidakpastian yang kuhirup setiap pagi. Jarak antara aku yang berdiri dengan kaki gemetar di sini, dan kau yang duduk tenang di sana, rasanya masih ribuan kilometer cahaya.

Namun, di antara segala rasa muak dan kepenatan ini, ada satu benang merah yang tak akan kubiarkan putus. Aku akan terus melangkah. Berjalanlah perlahan, atau berhentilah sejenak untuk menata napas, tapi jangan pernah berbalik arah. Tunggu aku di beranda masa depan itu. Seduhlah kopimu, atau siapkan matchamu. Perjalananku mungkin masih panjang, kakiku mungkin akan dipenuhi luka lepuh, tapi aku sedang mengerahkan seluruh sisa keras kepalaku untuk sampai ke pelukanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu