Doa Luruh Daun Kering

Kemarau tahun ini datang dengan langkah yang terlampau pelan, namun meninggalkan jejak retakan yang terlampau dalam di setiap sudut pekarangan rumah tua ini. Dari balik kaca jendela yang sedikit berdebu, aku menatap tanah-tanah yang merekah, memamerkan luka cokelat yang menganga di bawah tikaman matahari siang. Aroma debu kering dan sesekali bau sangit dari pembakaran sampah di kejauhan mengudara, menyusup lewat kisi-kisi kayu jati yang warnanya mulai memudar termakan usia. Sambil menyesap teh yang sudah kehilangan kehangatannya, aku bertanya-tanya; sudah berapa lama pekarangan batinku ini ikut kerontang? Rasanya seolah aku telah melewati ribuan hari tanpa setetes pun rinai hujan yang mendinginkan kepala.

Ketika sumur di belakang rumah mulai menyisakan lumpur dan bebatuan, serta mata air pegunungan terasa seperti dongeng masa kecil yang terlampau jauh untuk dijangkau, aku sering duduk termenung. Menatap langit yang pucat keabu-abuan, aku kerap berbisik dengan nada yang nyaris putus asa: jika tak ada lagi sumber air di luar sana, bolehkah aku menggunakan genangan air mataku sendiri? Bolehkah perih dan asin dari kesedihanku disuling menjadi penawar, sekadar untuk menyirami sisa-sisa keimanan dan harapan yang nyaris mati lemas di dasar dada?

Sore tadi, saat matahari mulai condong ke barat dan mewarnai pelataran dengan warna tembaga yang muram, aku mengambil sapu lidi dari sudut teras. Aku memunguti daun-daun mahoni yang gugur berserakan. Gemetar urat-urat daun yang menguning itu mengingatkanku pada denyut nadiku sendiri yang terasa kian melambat. Mereka jatuh bukan semata-mata karena menyerah pada tarikan bumi, melainkan karena waktu yang beringsut memaksa mereka usai. Dalam desir angin senja yang membawa kenangan luruh, aku merasa daun-daun rapuh ini pun sedang merapal doa dalam kebisuan mereka yang tragis. Kerinduan mereka pada rintik air rupanya sama perihnya dengan kerinduanku pada sebuah pelukan semesta. Aku menengadah, menerka-nerka, apakah Sang Maha Mendengar, di keluasan arasy-Nya yang tak teraba, juga menangkap bisikan parau dari klorofil yang sedang meregang nyawa ini?

Waktu sungguh pencuri yang paling sopan. Ia merampas masa muda, tenaga, dan sisa hari tanpa pernah menimbulkan kegaduhan. Kini, aku menyadari bahwa usiaku kian menyumur. Bertambahnya angka justru terasa seperti aku sedang terus-menerus menggali liang ke bawah, membawaku pada perasaan terpendam yang teramat ganjil. Rasanya seperti separuh tubuh ini perlahan-lahan ditarik oleh bumi, bersiap untuk tenggelam seutuhnya. Sebelum semburat merah di ufuk barat benar-benar padam—sebuah tanda bahwa pergantian malam akan segera menelan segala sisa cahaya—aku ingin bertahan sedikit lebih lama di beranda ini. Di ambang senja inilah, di batas tipis antara terang yang meremang dan gelap yang perlahan buta, aku merasa memiliki ruang untuk bersuara.

Bolehkah aku menawar takdir yang seolah sudah tertulis rapi ini? Bukankah hidup ini, sedari awal napas pertama kali diembuskan, pada hakikatnya adalah rentetan negosiasi yang tak kasat mata antara manusia dan Penciptanya? Di keheningan sepertiga malam, saat lantai tegel terasa menggigit telapak kaki, ada sujud-sujud panjang yang selalu kulakukan di atas sajadah usang. Kening yang menyentuh bumi dengan kepasrahan yang nyaris hancur, dan kedua tangan yang menengadah dengan jemari bergetar—bukankah semua itu adalah bentuk tawar-menawar yang paling puitis? Sebuah lobi spiritual dari seorang hamba yang tak punya daya apa-apa. Aku suka meyakinkan diriku sendiri bahwa Dia menyukai kekeras-kepalaanku ini. Bahwa Dia justru tersenyum melihat upaya yang tak kenal lelah, melihat hamba-Nya yang terus-menerus mengetuk pintu rahmat, menolak untuk pergi meski batin telah lebam oleh ujian.

Pada akhirnya, dari semua percakapan sunyi dan tawar-menawar yang melelahkan jiwa ini, permintaanku tidaklah muluk-muluk. Aku tidak meminta lautan disibak atau gunung dipindahkan. Aku hanya memohon izin untuk diberi perpanjangan waktu. Waktu untuk kembali terbangun besok pagi dan menemui embun yang menempel malu-malu di ujung dedaunan mangga. Embun pagi yang menyimpan kesejukan murni, yang belum terkontaminasi oleh dosa dan bisingnya keluh kesah hari itu. Aku ingin menyerap kesucian embun itu, merapalkan rasa syukur yang paling dalam di keheningan fajar. Membiarkan kedamaiannya meresap, sebelum aku benar-benar melangkah pergi, membersihkan diri, dan membasuh segala perih yang selama ini menempel bagai debu di pakaian perjalananku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu