Tunawisma dalam Aksara
Kita acapkali membohongi waktu, merapal mantra agar jeda dua belas jam yang dicuri dari rutinitas brutal bisa terasa seperti hari libur yang berlipat ganda. Di kota yang tak pernah mengizinkan warganya untuk sekadar menarik napas panjang, pelarian sekecil apa pun adalah kemewahan yang dirayakan dalam diam. Namun, pagi itu, saat kabut tipis mulai mengelupas dari kulit kota, aku menyadari bahwa pelarian fisik tak selalu sejalan dengan kemerdekaan pikiran. Ada rentetan kata yang tersandera di dalam tempurung kepala, menolak turun menjadi deretan huruf di aplikasi catatan ponselku. Aksara-aksara itu mogok, membeku dalam kebisuan yang bising, menuntut untuk dilepaskan namun tertahan oleh keraguan.
Kaki ini kemudian membawaku menyusuri sepetak jalan yang lengang, sebuah gang sempit yang seolah sengaja mengasingkan dirinya dari urat nadi perkotaan yang memuakkan. Ujung jalan itu menuntunku pada sebuah kedai kopi tersembunyi—sebuah hidden gem beraroma petrikor dan biji kopi sangrai, suaka kecil bagi jiwa-jiwa yang kelelahan digerus mesin kapitalisme. Di sana, kulihat orang-orang dengan kemeja kusut dan mata yang masih menyimpan sisa-sisa tenggat waktu, duduk hening. Kami semua adalah pelarian yang sama; mencoba melepaskan jerat-jerat tak kasatmata yang dipasang oleh gedung-gedung perkantoran yang menjulang pongah.
Segelas kopi hitam pekat disajikan di mejaku, tanpa gula, seperti teguran keras dari realita. Kepulan asapnya menyapa, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih bergelayut manja di pelupuk mata. Namun, alih-alih membangunkan kesadaran yang utuh, sentuhan kafein itu justru membuat mimpi-mimpi semalam pecah berhamburan. Harapan-harapan kecil jatuh menyerupai manik-manik kaca yang berserakan di lantai keramik yang dingin, beradu dengan kenyataan bahwa hari ini hanyalah pengulangan dari hari kemarin.
Di tengah lamunan yang mengambang itu, layar gawai di atas meja menyala singkat. Sebuah pesan masuk dari kekasihku. Anehnya, alih-alih menghadirkan kehangatan yang biasanya membungkus dada, rentetan kata di layar datar itu justru memicu jurang keterasingan yang kian menganga. Kita hidup di zaman yang ironis; di mana jarak ribuan kilometer dipangkas oleh sinyal pemancar, namun kedekatan emosional direnggut secara paksa oleh ketikan digital. Rindu rupanya telah kehilangan tajinya. Ia tak lagi mampu menaksir jarak batin yang sesungguhnya hanya dengan mengandalkan balasan pesan di aplikasi WhatsApp. Ada rupa, aroma, dan intonasi suara yang hilang dari sebuah percakapan, membuat kita merasa sendirian di tengah riuhnya notifikasi.
Pelarian ini akhirnya bermuara di ujung sebuah kepergian: stasiun kereta. Stasiun selalu menjadi ruang purgatori yang muram bagiku. Ia menawarkan rel-rel baja yang membentang panjang sebagai janji untuk pulang, namun di saat yang sama menjadi saksi bisu bagi mereka yang tersesat. Di peron ini, waktu terasa berjalan setengah hati, menyusun hari yang masih setengah jadi pada jarum jam di pergelangan tangan. Pengeras suara menyuarakan alamat-alamat jauh dengan nada parau yang monoton, sementara di sudut sana, kulihat seorang pelancong berdiri kebingungan. Barangkali ia tak mampu membaca papan informasi rute yang ruwet, dan entah karena gengsi manusia modern atau keputusasaan yang terlampau dalam, ia memilih diam, mematung, dan malu bertanya pada petugas KRL yang berjaga dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Melihat kereta yang datang dan pergi dengan suara decit logam yang memekakkan telinga, sebuah pertanyaan murung menyelinap masuk ke dalam benakku. Lantas, sudah berapa pasang sepatu yang berlalu lalang dengan terburu-buru di sini? Dan dari ribuan langkah itu, berapa banyak hati yang telah dengan sengaja menelantarkan kenangan pahit mereka—membiarkannya jatuh, tergilas, dan hancur di antara celah peron dan pintu gerbong kereta yang mendesis tertutup?
Aku kembali menyeruput sisa kopi yang kini telah mendingin di warung tepi stasiun ini. Udara perkotaan perlahan menghangat oleh sengat matahari, namun hatiku tetap menggigil dalam keterasingan. Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap tebal seperti ampas kopi, tak juga berubah menjadi untaian kalimat yang lega. Pada detik yang sunyi di tengah bising klakson itulah, aku menyadari kenyataan yang paling getir: aku hanyalah seseorang yang membeku di tepi bangku warkop, kehilangan arah untuk pulang, dan akhirnya menjelma menjadi tunawisma di dalam puisinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar