Kemarau Membakar Sisa Ingatan
Udara siang ini terasa seperti embusan napas dari rahang tungku raksasa. Angin tidak lagi membawa aroma tanah basah seperti beberapa minggu lalu, melainkan debu kering yang menggores kerongkongan. Peralihan musim ini datang terlalu cepat, terlalu buas. Orang-orang di kedai kopi mulai membicarakan ramalan cuaca dengan nada cemas, tentang fenomena ekstrem yang akan memanggang kota ini berbulan-bulan ke depan. Namun, bagiku, kekeringan yang paling nyata bukanlah retakan tanah di pekarangan rumah, melainkan kekosongan yang tertinggal di cangkir kopi seberang mejaku. Cangkir itu kosong, seperti usahaku menahanmu. Matahari merayap naik, memanggang aspal jalanan di luar jendela. Sinarnya yang menyilaukan seolah menelanjangi sisa-sisa pertahananku. Aku teringat sore itu, sore ketika langit masih berbaik hati menurunkan gerimis tipis, namun di dalam ruangan kita, badai justru tengah mengamuk. Aku telah meletakkan segala logika di atas meja, menyusunnya rapi seperti kepingan puzzle, berharap kau...