Kemarau Membakar Sisa Ingatan
Udara siang ini terasa seperti embusan napas dari rahang tungku raksasa. Angin tidak lagi membawa aroma tanah basah seperti beberapa minggu lalu, melainkan debu kering yang menggores kerongkongan. Peralihan musim ini datang terlalu cepat, terlalu buas. Orang-orang di kedai kopi mulai membicarakan ramalan cuaca dengan nada cemas, tentang fenomena ekstrem yang akan memanggang kota ini berbulan-bulan ke depan. Namun, bagiku, kekeringan yang paling nyata bukanlah retakan tanah di pekarangan rumah, melainkan kekosongan yang tertinggal di cangkir kopi seberang mejaku.
Cangkir itu kosong, seperti usahaku menahanmu.
Matahari merayap naik, memanggang aspal jalanan di luar jendela. Sinarnya yang menyilaukan seolah menelanjangi sisa-sisa pertahananku. Aku teringat sore itu, sore ketika langit masih berbaik hati menurunkan gerimis tipis, namun di dalam ruangan kita, badai justru tengah mengamuk. Aku telah meletakkan segala logika di atas meja, menyusunnya rapi seperti kepingan puzzle, berharap kau bisa melihat gambar besarnya. Aku menelanjangi harga diriku, memohon padamu untuk tidak mengemasi barang-barangmu. Bukan karena aku perempuan lemah yang tak bisa bernapas tanpamu. Tidak. Aku hanya naif. Terlalu naif meyakini bahwa bangunan rapuh bernama ‘kita’ ini masih layak direnovasi. Aku percaya, dengan sisa-sisa napas, cinta yang kita rawat susah payah ini pantas diselamatkan dari keruntuhan.
Namun, kau memilih menjadi pengamat yang kaku. Di matamu, aku bukan lagi seseorang yang menyeduh teh chamomile saat kau demam, atau yang mendengarkan keluh kesahmu tentang atasanmu yang tiran hingga larut malam. Ribuan hal kecil yang kulakukan untuk membuatmu nyaman menguap begitu saja. Kau memilih memutar kaca pembesar pada satu retakan kecil di dinding kita, membesarkannya hingga menutupi seluruh pandanganmu. Satu kesalahan, satu ego yang bertabrakan, cukup bagimu untuk menghapus seluruh kebaikanku. Kau melupakan segalanya, agar kau punya alasan kuat untuk pergi.
Panas sore ini semakin menggigit, menusuk-nusuk kulit. Udara yang pengap membuat dadaku sesak, mengingatkanku pada amarah yang pernah meledak-ledak di dalam sana. Ya, aku murka. Sebuah kemarahan purba yang pekat dan gelap. Ada malam-malam di mana aku menatap langit-langit kamar yang bisu, berharap aku memiliki kekuatan magis untuk menghapus namamu, bukan hanya dari ingatanku, tapi dari semesta doaku. Aku ingin kau lenyap, menjadi sekadar nama tanpa wajah, tanpa kenangan. Aku ingin membencimu dengan seluruh kekuatan yang kumiliki.
Lalu, di tengah kemarau panjang yang mulai meranggas daun-daun mangga di depan rumah, aku menyadari satu ironi yang menyakitkan. Setiap kali aku berusaha menyulut kebencian padamu, apinya tak pernah membesar. Alih-alih membakar namamu, ingatan itu justru memutar ulang fragmen-fragmen masa lalu. Aku teringat caramu tertawa saat menonton film komedi klasik, atau caramu menggenggam tanganku saat kita menyeberang jalanan yang sibuk. Hatiku mengkhianatiku. Ia justru berbisik pelan, mengingatkan betapa utuh dan dalamnya aku pernah mencintai seseorang sepertimu.
Kini, debu jalanan menari-nari dalam sorotan cahaya matahari yang menembus kaca kedai. Semuanya tampak kering, kehabisan air mata. Aku menyeruput kopiku yang telah dingin, merasakan pahitnya menyebar di lidah. Aku menyadari, mungkin memang begini akhir ceritanya. Keangkuhanmu telah membangun tembok yang terlalu tinggi, membuatmu buta pada seluruh cinta yang kuberikan. Kau terlalu sibuk dengan kalkulatormu, menghitung dosa-dosaku, mencatat setiap kesalahanku dengan tinta tebal. Kau asyik sendiri dengan neraca penghakimanmu.
Biarlah kemarau panjang ini membakar sisa-sisa harapanku. Aku akan membiarkan angin panas ini membawa pergi ingatan tentangmu. Mungkin esok udara akan semakin memanggang, tanah akan semakin retak, dan musim panas ini akan tercatat sebagai yang paling ekstrem. Tapi setidaknya, di tengah kekeringan ini, aku perlahan-lahan belajar menata kembali harga diriku yang sempat berserakan. Aku akan belajar berjalan sendiri, di bawah terik matahari, tanpa perlu lagi memohon kepada seseorang yang memilih buta.
Komentar
Posting Komentar