Papan Mendidihkan Diam

Udara memanggang kulit, bahkan ketika matahari telah lama tergelincir ke balik bukit kapur yang memucat. Ada yang terasa amat ganjil dan bengis pada kemarau kali ini. Sesuatu yang purba seolah bangkit dari perut bumi. Angin malam yang biasanya membawa aroma petrikor kini terasa bagai hembusan napas naga raksasa yang murka yang terasa kering, menyengat, dan menghisap habis sisa-sisa kelembapan di udara. Sumur-sumur di belakang rumah penduduk mulai menyuarakan dasar lumpurnya yang merekah. Dedaunan mangga meranggas lebih cepat dari takdirnya, jatuh ke atas tanah kerontang dan menciptakan bunyi gemerisik yang menyayat hati setiap kali terinjak.

Di beranda ini, di bawah cahaya lampu kuning yang dikerubungi laron-laron sekarat, aku duduk menghadap sebuah meja jati tua. Di atas permukaannya yang mulai mengelupas oleh cuaca yang ekstrem, sebuah papan catur tergelar penuh debu tipis.

Melihat kotak-kotak hitam putih itu, ingatanku terseret pada sebuah malam sebelum udara menjadi seganas ini. Saat itu, engkau tengah duduk di seberangku, menekuri pion-pion dengan kening berkerut. Engkau pernah merapal sebuah petuah, lamat-lamat namun menancap di kepalaku bagai sebatang pasak besi: seorang pecatur yang ulung tidak akan pernah gegabah memajukan ratunya. Ratu adalah poros, senjata paling mematikan, sekaligus entitas paling berharga yang harus dilindungi di dalam benteng pertahanan hingga saat yang paling krusial.

Aku mengangguk perlahan malam itu, mengamini strategimu dengan senyum tipis, tanpa sedikit pun menyadari bahwa aku tengah menelan petuah itu mentah-mentah dan menjadikannya bumerang bagi diriku sendiri. Tanpa kusadari, aku telah menerapkan taktik itu bukan pada bidak kayu di atas meja, melainkan padamu.

Aku memelihara sebuah perasaan yang riuh di dalam kepalaku, menyimpannya di petak paling gelap dan paling rahasia dalam dadaku. Perasaan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang terlampau besar, terlampau agung dan rapuh untuk dipertaruhkan dalam langkah pembuka yang gegabah. Aku menjelma menjadi pemain yang dicekik kehati-hatian. Setiap kali ada kesempatan untuk melangkah, setiap kali kata-kata itu sudah berbaris rapi di ujung lidah—seperti saat kita berteduh dari badai debu yang berpusar di jalanan kota—aku buru-buru menelannya kembali.

Aku memilih untuk mematung dalam diam.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa ini belum waktunya. Jika aku membiarkan perasaanku melangkah keluar dari sarangnya sekarang, aku dipenuhi teror bahwa semesta yang sedang panas ini akan menemukan cara paling kejam untuk merampasnya dariku. Aku berpikir, seperti halnya pergantian hari, selalu ada giliran berikutnya. Selalu ada esok yang lebih sejuk untuk mengatakan bahwa seluruh petak yang kulalui, sejak awal, diam-diam hanya mengarah kepadamu.

Namun, kemarau yang gila ini terus memanjang, membakar apa saja yang tersisa dari kewarasanku. Udara siang hari mendidih, membuat aspal jalanan bergetar, dan rupanya, panas itu juga menguapkan kesempatan kita. Ada satu kenyataan fundamental yang luput dari perhitungan matangku. Aku lupa, atau menolak percaya, bahwa sebuah permainan tidak selalu berakhir bahagia ketika kita merasa sudah siap untuk menyerang.

Terkadang, tanpa ada aba-aba, dentang lonceng berbunyi nyaring tepat di saat keberanian itu baru saja merangkak keluar dari persembunyian.

Engkau pergi ketika udara di kota ini sedang berada di puncak kegilaannya, ketika langit sore berwarna kuning tembaga yang mengerikan. Keputusan itu jatuh begitu saja dari bibirmu, menutup semua kemungkinan, melipat semua masa depan. Papan catur kita dirapikan secara sepihak. Bidak-bidak kembali dimasukkan ke dalam kotak kayu, berbenturan satu sama lain menyuarakan kekosongan yang memekakkan telinga.

Di titik itulah, di tengah malam yang gerah dan tak berangin ini, dadaku terasa ditikam oleh bilah es. Aku baru menyadari sebuah tragedi yang jauh lebih menyesakkan daripada sebuah penolakan. Barangkali, begitulah nasib dari sebagian besar cinta yang terlampau berhati-hati. Cinta ini tidak mati karena ditolak terang-terangan. Ia tidak gugur karena dikalahkan oleh saingan yang lebih tangguh di medan perang.

Cinta ini mati karena ia terlalu lama disembunyikan. Waktu, yang ternyata jauh lebih kejam dari kemarau panjang ini, telah lebih dahulu mengatupkan papan permainan, mengucapkan kata selesai. Meninggalkan aku terpekur sendiri, menelan kenyataan paling pahit: aku telah kehilangan segalanya, sementara ratu yang paling ingin kulindungi... bahkan belum pernah sempat melangkah dari tempatnya bermula.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu