Menggugat Tatapan Musim

Ada sesuatu yang ganjil dan mendesak pada udara belakangan ini. Bulan lalu angin yang biasanya membawa aroma petrikor, jejak basah dari langit yang menyentuh bumi kini berembus layaknya embusan napas dari tungku pembakaran. Sisa-sisa rintik air seolah dipaksa menguap bahkan sebelum ia sempat membasahi dedaunan. Kita sedang berada di ambang sebuah peralihan yang murka; sebuah kemarau panjang yang datang tidak dengan langkah mengendap-endap, melainkan dengan hentakan kaki raksasa yang siap memanggang apa saja.

Di bawah langit yang perlahan berubah warna menjadi tembaga ini, peluh tidak hanya mengucur karena terik matahari yang memanggang ubun-ubun, tetapi juga karena rasa pengap yang lahir dari sebuah kesadaran. Sebuah kesadaran bahwa udara yang menekan dada ini nyatanya sangat mirip dengan bagaimana kita, entah sejak kapan, dipaksa bernapas dalam kehidupan yang kita jalani.

Mungkin, draf naskah kehidupan kita telah ditulis bahkan ketika kita masih berupa detak yang sunyi di dalam rahim ibu. Sebelum kita benar-benar menghirup udara dunia, rentetan larangan dan keharusan telah menanti di depan pintu kelahiran. Telinga kita, yang baru saja mengenal suara bising dunia, langsung dijejali oleh bisikan-bisikan tentang apa yang pantas dan tidak pantas. Ada sejenis barikade tak kasat mata yang dibangun dari tumpukan tradisi dan kata pamali. Kita diawasi. Setiap kali kita belajar merangkak, terjatuh, lalu tertatih melangkah, selalu ada sepasang, atau bahkan puluhan pasang mata yang mengawasi dari beranda rumah mereka. Mereka duduk di kursi goyang, menyeruput kopi pahit, sembari bertindak selayaknya dewan juri paling mahir yang siap memberi nilai pada setiap milimeter pertumbuhan kita. Seolah-olah, cara kita belajar berjalan pun harus tunduk pada sebuah buku panduan yang entah siapa penulisnya.

Lalu, musim terus berganti, mengeringkan sisa-sisa keluguan masa kecil. Kita digiring masuk ke dalam masa remaja hingga dewasa, di mana tuntutan itu tidak mereda, melainkan bermutasi menjadi sesuatu yang lebih banal. Di masa ini, kita tidak lagi sekadar dituntut untuk patuh, tetapi dituntut untuk menjadi sama.

Seperti pepohonan yang meranggas serentak di tengah panas yang menyengat, kita pun dipaksa menanggalkan warna-warni daun kita sendiri demi sebuah kata yang diagungkan: sempurna. Kita harus berjalan pada lajur yang sama, lulus pada waktu yang sama, menyukai hal yang sama, dan mencapai titik-titik persinggahan yang telah ditandai di peta milik orang lain. Jika kita melenceng sedikit saja ke jalan setapak yang rimbun, kita akan dianggap tersesat.

Seiring bertambahnya usia, ketika tanah pijakan terasa semakin retak oleh hawa panas yang tak kunjung reda, hujan pertanyaan mulai turun. Sayangnya, itu bukan hujan air yang menyejukkan, melainkan hujan interogasi yang tajam bagai kerikil. Kapan ini? Mengapa belum itu? Tidakkah kamu merasa tertinggal? Suara-suara itu menggema, berdesakan di ruang kepala, terdengar semakin bising dan menyeramkan. Mereka menuntut jawaban atas ujian yang tidak pernah kita daftarkan diri untuk mengikutinya.

Sambil menyeka peluh di dahi, memandang cakrawala yang bergetar karena fatamorgana suhu udara, sebuah pertanyaan kecil memberontak di ujung tenggorokan: Memangnya ini hidup siapa?

Kita dihakimi berdasarkan sebuah standar emas yang katanya paling baik dan paling luhur. Namun, di tengah udara yang terik dan membakar ini, rasanya sah-sah saja jika kita mulai menggugat. Milik siapa sebenarnya standar yang kaku itu? Apakah mereka barisan manusia yang gemar melemparkan pertanyaan dari balik pagar rumah mereka yang benar-benar hidup di atas standar yang mereka agungkan? Atau jangan-jangan, mereka pun hanyalah tawanan dari ketakutan mereka sendiri; manusia-manusia malang yang menutupi kegagalan mereka dengan cara mengatur ritme napas orang lain?

Pada akhirnya, di tengah musim yang bengis ini, mungkin satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan berhenti mencoba mendinginkan harapan orang lain. Membiarkan mereka berkeringat dengan standar mereka sendiri, sementara kita, berjalan mencari naungan pohon kita sendiri, bernapas dengan paru-paru kita sendiri. Sebab dasar manusia, sering kali mereka lupa bahwa setiap orang berhak menulis akhir ceritanya masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu