Etalase Dusta di Musim Kerontang

Udara siang ini terasa seperti napas naga yang terengah-engah, berhembus kasar menyapu aspal kota yang mulai memuai. Hujan yang biasanya masih menitikkan rintik malu-malu meninggalkan jejak petrikor yang menenangkan kini raib diculik secara paksa. Sebagai gantinya, sebuah kemarau raksasa datang lebih awal, lebih buas, dan tanpa ampun memanggang apa saja yang bernapas di bawah langit yang pucat pasi. Tanah-tanah mulai meretak, pepohonan menunduk layu menderita dehidrasi parah, seolah alam sedang memberikan isyarat tentang sesuatu yang akan segera mengering dan mati.

Namun, di balik jendela kaca gedung-gedung pencakar langit yang kedap suara dan dibekukan oleh pendingin ruangan, manusia anehnya justru sibuk membangun panggung fatamorgana. Udara di luar boleh saja mendidih hingga mengelupas kulit, tapi di dalam layar pipih di genggaman mereka, musim selalu semi. Layar-layar itu memancarkan cahaya artifisial, menyoroti etalase tempat bunga-bunga plastik bernama eksistensi dan validasi dipajang dengan penuh keangkuhan.

Aku mengamati kerumunan ini dari sudut sebuah kafe yang muram. Orang-orang menunduk, jari jemari mereka menari di atas layar, berlomba menutupi kekosongan jiwa dengan ketikan-ketikan nirwana yang tak punya akar. Akhir-akhir ini, kita seolah telah kehilangan keberanian, atau mungkin kehilangan keinginan, untuk menatap cermin realita. Mengapa manusia zaman ini merasa perlu berlomba-lomba memperebutkan mahkota sebagai pembual nomor wahid?

Hidup kini seakan harus digantungkan pada seutas pameran kemewahan yang rapuh. Semua diukur dari keindahan visual yang dangkal; memamerkan tas berlogo kulit hewan eksotis, jam tangan seharga rumah ibadah, hingga jamuan makan malam yang harganya bisa memberi makan satu desa yang kini sawahnya tengah mengering kerontang di luar sana. Kesombongan dikonsumsi layaknya secangkir espreso di pagi hari diteguk rakus hingga ampasnya, menyisakan jantung yang berdebar oleh kecemasan jika ada orang lain yang tampil lebih kaya. Mereka seolah amnesia, lupa daratan, mengira bahwa roda takdir telah macet dan tak akan pernah berbalik arah menggilas keangkuhan mereka.

Di tengah cuaca ekstrem yang seolah menjadi preludium dari sebuah akhir ini, tidakkah mereka mencium aroma tanah yang mulai hangus? Dunia ini, dengan segala anomali dan kebingungannya, perlahan menuju tenggat waktunya sendiri. Lantas, untuk apa repot-repot menyusun bata emas di atas kapal yang lambung dan layarnya mulai koyak?

Mereka menyemprotkan parfum beraroma oud dan mawar murni dengan harga fantastis ke ceruk leher, mencoba menyamarkan bau amis dari jiwa-jiwa yang mungkin, entah bagaimana, diam-diam melacurkan prinsip atau menilap hak orang lain semata demi gaya hidup yang sebenarnya tak seberapa. Pakaian dari desainer ternama sejagat membalut tubuh-tubuh yang dirawat di klinik mahal, tapi gagal menutupi nurani yang telanjang, menggigil, dan kesepian.

Pada akhirnya, ketika napas ditarik untuk penghabisan dan detak jantung menyerah, tak ada satu pun lampu sorot kemewahan maya yang sudi menemani ke dalam liang lahad. Toh, kita semua akan mati. Dan di dalam kegelapan tanah yang pengap itu, belatung-belatung tak pernah disekolahkan untuk membedakan mana daging yang semasa hidupnya dibalut sutra Paris, dan mana yang hanya berbalut kain katun lusuh. Semuanya sama-sama menjadi hidangan penutup yang tak bisa ditolak.

Angin kering kembali berhembus di luar jendela kaca, membawa debu-debu jalanan yang menampar realita. Musim kerontang ini sepertinya masih akan panjang, perlahan-lahan memanggang keangkuhan manusia tanpa sisa. Di tengah hiruk-pikuk kebohongan yang terus diunggah ke awan digital, aku hanya bisa menatap nanar. Semoga saja, di sela-sela denting notifikasi pameran harta yang riuh itu, jiwa-jiwa yang lelah berpura-pura ini sempat menunduk sejenak. Berbisik lirih dalam hening, memohon ampunan pada semesta, sebelum kemewahan fana ini benar-benar runtuh, hancur, dan menimpa tubuh mereka yang sesungguhnya teramat rapuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu