Di Balik Nyala Marah

Hujan terakhir telah lama menguap, meninggalkan jejak petrikor yang kini digantikan oleh aroma debu kering dan daun-daun yang meranggas pasrah. Udara tidak lagi sekadar hangat; ia bergetar, merambatkan hawa yang memanggang kulit hingga ke pori-pori terdalam. Langit di luar jendela kehilangan biru lembutnya, berubah menjadi kanvas pucat yang menyilaukan. Orang-orang berbisik cemas tentang kemarau kali ini, sebuah musim gersang raksasa yang diramalkan akan menelan sisa-sisa kelembapan bumi dengan buasnya. Peralihan ini terjadi begitu cepat, seolah alam tidak memberikan kita waktu untuk sekadar mengatur napas.

Dan di tengah udara yang terasa seperti mengurung kita dalam tungku raksasa ini, pertengkaran kita kembali pecah.

Suaraku membelah keheningan ruang tamu yang pengap. Nada bicaraku tinggi, tajam, dan barangkali terdengar begitu menyayat. Aku melihat rahangmu mengeras, matamu memancarkan kelelahan yang sama dengan bumi yang sedang dipanggang matahari di luar sana. Kau pasti berpikir bahwa kalimat-kalimat keras yang baru saja kulontarkan adalah manifestasi dari kebencian yang telah lama berkerak. Kau terburu-buru menarik kesimpulan bahwa nyala api di mataku adalah tanda bahwa segalanya telah hangus.

Namun, kau lupa membaca apa yang tersirat di balik riuh rendahnya amarah ini.

Biarkan aku mengaku, di tengah peluh yang menganak sungai ini: aku menyayangimu dengan cara yang paling ganjil, melalui lorong amarah yang gelap. Hati ini telah menelan terlalu banyak luka di masa lalu, tergores oleh kekecewaan demi kekecewaan hingga ia lupa bagaimana caranya bersikap lembut. Amarah ini adalah satu-satunya perisai yang tersisa, satu-satunya bahasa pertahanan diri dari sebuah hati yang sebenarnya telah babak belur.

Bila kau mau menanggalkan sejenak egomu dan mendengarkan lebih saksama, di balik suaraku yang membentak, kau tidak akan menemukan seorang tiran. Kau justru akan menemukan jiwa yang sedang bergetar hebat. Ada ketakutan yang pekat, menekan dadaku hingga sesak—lebih sesak dari udara kemarau ini. Aku dijangkiti teror yang tak kasatmata; ketakutan yang teramat sangat bahwa pada akhirnya, setelah rentetan hari-hari yang melelahkan ini, setelah panas yang membuat kita sama-sama kehilangan akal, kau akan membalikkan badan, membuka pintu itu, dan benar-benar memilih untuk pergi meninggalkanku sendiri.

Orang-orang sering salah mengartikan kemarahan sebagai akhir dari sebuah perasaan. Padahal bagiku, aku meledak bukan karena sumur cintaku kepadamu telah mengering. Sebaliknya, perasaanku padamu menyerupai ilalang liar di padang gersang di luar sana; ia menolak mati. Cinta itu masih tumbuh dengan keras kepala, menjalar di setiap pembuluh darahku, bahkan ketika secara rasional seharusnya ia sudah kubasmi dan kukubur bersama segala bentuk kekecewaan yang pernah kau torehkan. Cinta itu menolak untuk menyerah pada kekeringan.

Maka, udara panas yang menyiksa ini menjadi saksi bisu atas keanehan caraku merengkuhmu. Jika di hari-hari yang akan datang kau duduk merenung dan bertanya-tanya mengapa aku pernah bersikap begitu keras, begitu tak tertembus kepadamu, aku harap kau menemukan jawaban yang sebenarnya sangat sederhana, meski getir.

Jawabannya adalah karena memilih untuk mencintaimu, bagi seorang aku, ternyata sama artinya dengan bersedia menanggung sebuah rasa sakit yang ganjil. Rasa sakit yang menetap, yang berdenyut bersama setiap detak jantung, namun anehnya, adalah rasa sakit yang tak pernah benar-benar sudi kulepaskan dari genggamanku. Karena melepaskan rasa sakit itu, berarti aku harus melepaskanmu. Dan itu adalah satu-satunya musim kemarau yang tak akan pernah sanggup aku lewati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu