Sepi Membakar Jejak

Udara siang ini tak sekadar panas; ia memanggang, membakar apa saja yang berani menantang langit. Matahari seolah turun beberapa jengkal lebih dekat ke ubun-ubun bumi, memuntahkan murka kemarau yang tak lazim. Angin yang sesekali berembus tidak membawa kelegaan, melainkan tamparan debu dan hawa kering yang mengoyak kerongkongan. Di kiri dan kanan jalan, dedaunan tak lagi berwarna hijau, melainkan cokelat rapuh yang pasrah menunggu waktu untuk luruh dan remuk diinjak pejalan. Tanah retak serupa porselen tua yang dijatuhkan dari ketinggian, menciptakan peta-peta penderitaan dari sebuah musim yang lupa cara menurunkan hujan.

Namun, di atas tanah yang merekah dan memendam bara itu, aku tetap mengayunkan langkah.

Dari balik jendela-jendela kaca berlapis pelindung surya, dari dalam ruangan-ruangan berpendingin yang mengisolasi manusia dari amuk cuaca di luar sana, aku tahu sepasang mata bahkan ratusan sedang menatapku. Tatapan mereka bukan berisi simpati, melainkan cibiran yang dibalut keheranan. Telingaku seakan bisa menangkap bisik-bisik yang menguap di udara panas: Keras kepala. Si pandir yang merawat ilusi. Mereka menuding jalan setapak berdebu yang kupilih ini sebagai sebuah kesia-siaan, rute buntu yang tak akan pernah bermuara pada apa-apa selain kelelahan yang konyol.

Biarkan saja. Entah sejak kapan kita dikondisikan untuk percaya bahwa sebuah perjalanan baru dianggap sah jika ia dikawal oleh tepuk tangan dan restu orang banyak. Mereka, orang-orang yang hanya berani menilai dari kejauhan yang aman, sering kali lupa bahwa tidak semua peta digambar untuk dipahami oleh semua orang. Mereka berhak menakar kemampuanku dengan penggaris ketakutan mereka sendiri. Mereka sah-sah saja meragukan setiap jejak yang kutinggalkan, menganggap api di dadaku hanyalah sisa fatamorgana yang sebentar lagi akan padam ditelan udara kerontang ini.

Kenyataannya, aku memang berjalan dengan ransel yang nyaris kosong. Aku tidak mengantongi cetak biru kesuksesan yang bisa dibanggakan di meja perjamuan makan malam. Aku tidak punya gelar kebesaran atau jaminan hari esok yang teduh. Di tengah cuaca yang seakan ingin memanggang seisi semesta ini, bekal yang kumiliki hanyalah hal-hal purba: sepasang kaki yang menolak tunduk pada nyeri, dan sebuah kepala yang terlalu batu untuk diajak menyerah.

Batu di kepalaku itu menyimpan sebuah keyakinan yang diam-diam berakar kuat dengan sebuah iman yang ganjil, bahwa apa pun yang direngkuh dan dipertahankan dengan keringat darah, dengan urat nadi yang menegang, selalu berhak mendapatkan panggungnya sendiri untuk mewujud menjadi nyata. Keyakinan itu tidak butuh validasi. Ia hidup dari ketahanannya sendiri.

Kemarau ganjil ini mungkin akan berlangsung lebih lama dari yang diramalkan catatan cuaca. Langit mungkin akan terus berwarna pucat tanpa sapuan awan. Namun, aku telah belajar satu hal penting dalam kesunyian perjalananku. Pada akhirnya, cara paling elegan untuk membungkam hiruk-pikuk dunia yang terus menghakimi bukanlah dengan membuang tenaga untuk berteriak atau menyusun pidato pembelaan. Kata-kata terlampau mudah mengering dan terbang terbawa angin panas.

Satu-satunya cara untuk membungkam mereka adalah dengan mengatupkan bibir, membiarkan peluh bercampur debu di wajah, dan terus melangkah maju. Terus berjalan, menembus fatamorgana, hingga debu-debu yang menempel pekat di atas sepatuku kelak menjadi saksi bisu; bahwa di musim yang paling kejam sekalipun, ada seseorang yang pernah dengan begitu keras kepala memperjuangkan tujuannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu